Mudik, Jalan Toll, dan Kepemimpinan Negeri

Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum.

MEPNews.id —- Mohon sejenak membaca artikel ini sampai selesai. Lebih-lebih, jangan hanya baca judulnya saja. Sejak seminggu sebelum idul fitri, banyak ragam mudik. Setiap orang bahkan memposting di akun facebooknya. Ada yang menceritakan kenangan ketika tiba di kampung halamannya. Ada yang menceritakan selama perjalanannya. Ada pula yang mendeskripsikan suasana keluarganya. Berbagai versi sesuai “kebutuhan” niat dari batinnya.

Namun, di antara semua cerita, yang paling awal dan getol adalah perjalanannya. Perjalanan mudik dikaitkan dengan jalan Toll. Ketika pemudik menggambarkan kenyamanan jalan toll, banyak yang tertarik. Khusus cerita jalan toll ini sangat unik. Yang lainnya kurang unik. Karena uniknya, jalan toll ini saya tergiur menulisnya.

Dalam menanggapi jalan toll, saya punya cerita ilmiah. Ilmiah dalam arti cerita lama tetapi dari hasil konferensi pada 2006. Saat itu, ada konferensi internasional di kota Selangor. Banyak pembicara dari berbagai dunia: Amerika, Australia, Asia, Afrika, dan Eropa. Tempat penyelenggaraannya di Holliday Subang Villa, Subang Jaya, Selangor, Malaysia. Itu pertama kali saya ke Malaysia, sehingga tidak tahu tempatnya. Akhirnya, saya menginap di Brisdale hotel, wilayah Chokit, yang jauh dari Subang Jaya Selangor. Hampir satu jam setengah naik taxi lewat toll panjang.

Peserta dan pembicaranya dari berbagai profesi. Ada yang dari angkatan bersenjata. Ada pula yang dari universitas. Ada juga dari pihak pemerintahan, setingkat menteri. Bahkan, ada jendral angatan darat juga. Ada pula berbagai profesi dosen, mahasiswa, dan para praktisi bisnis. Semua membahas tentang kepemimpinan (leadership). Saat itu, saya sendiri pembicara tim dengan teman sekampus, Ibu Peppy Diptyana. Topik yang kami paparkan terkait kepemimpinan kepala daerah dan efisiensi anggaran.

Karena sudah 12 tahun lalu, saya lupa nama pembicara ini. Saya coba lacak di goolge juga tidak ketemu. Waktu itu, saya sendiri, memang internet belum begitu giat. Panitia juga mungkin tidak mengumggah proceedingnya di website. Namun, saya tercengang dengan salah satu pembicara dari Australia. Mengapa? Tidak lain adalah membahas fakto-faktor kegagalan kepemimpinan negeri. Lalu, apa hubungannya dengan jalan Toll? Mari kita simak.

Penelitiannya dilakukan di Papua Nugini. Hasil survei dan wawancara mendalam (in-depth-interview), menghasilkan 14 urutan faktor penyebab kegagalam kepemimpinan sebuah negeri. Waktu itu, ditemukan ada 14 faktor yang menggrogoti kepemimpinan negeri. Dari 14 faktor itu, ada 3 faktor yang sangat dominan penyebab kegagalan kepemimpinan sebuah negeri. Pertama, money politics. Kedua kewibawaan pemimpin. Dan, ketiga infratsruktur.

Negeri dan kepemimpinan yang dihasilkan karena money politics, tidak akan maksimal dalam kinjerjanya. Ibaratnya ada Beban ada psikologis ada di kaki kiri. Sementara kaki kanan berjalan “menyeret kaki kiri”. Dan. Akhirnya, kondisi ini akan menurunkan keiwabaan pemimpinnya. Tidak bisa tegas. Dua faktor pertama dan kedua itu saling kait mengait. Itu sebabnya, tidak bisa dipisahkan. Jika yang pertama menonjol, maka yang kedua mengikuti.

Namun, yang ketiga adalah faktor infrastruktur. Dikatakan secara tegas bahwa jika negeri lemah dalam infrastruktur, lemah pula efisisensinya. Ini terkait dengan mobilisasi transport komoditas dan jasa. Ini juga termasuk komunikasi antarwarga negara di sebuah negeri itu. Itu sebabnya, jika innfrastruktur minim, negeri itu tidak efektif dan efisien dalam roda perdagangan dan komunikasi antarwarga negara. Termasuk mobilitas aktivitas administrasi pemerintahannya.

Infratsruktur di Papua Nugini saat itu memang sangat minim. Wilayah pegunungan memang sulit dalam membangun infratsruktur, utamanya jalan raya. Karena tanahnya pegunungan, jalan itu sulit dibangun. Akhirnya tranportasi minim dan mobilitas komoditas dan jasa memakan waktu lama. Boros energi dan uang (ongkos)

Dari kacamata supply chain management (SCM), logistik itu sangat sentral. Fungsinya sangat vital bagi mobilitas komoditas dan jasa. Jika hamabatannya pada logistik, berarti pemborosan. Waktu dalam perjalanan dan bahan bakar yang dipakai semua itu bernilai ekonomis. Jika dihitung dalam jangka panjang dan frekuensinya setiap hari, maka itu bernilai ekonomis ynag tinggi.

Nah, jalan toll mungkin salah satu fungsi logistic yang dideskripsikan para pemudik. Kita pernah mengalami luberan lumpur Lapindo Sidoarjo. Saat parahnya jalan berlumpur itu, kita pernah malakukan perjalanan Malang-Surabaya makan waktu 4 sampai 5 jam. Kebetulan waktu itu, saya kuliah di Malang. Tiap hari, saya pulang pergi Surabaya-Malang. Awal semester saya tempuh satu setengah jam dengan Bus Patas. Begitu tragedi lumpur Lapindo meluber, saya berangkat pukul 2 pagi dan nyampai pukul 6. Kadang baru tiba pukul 7 pagi. Kuliah saya masuk pukul 7 pagi. Selama perjalanan, saya pakai waktu untuk tidur di Bus.

Logstik itu mahal. Logistik itu memang sangat vital. Nilai ekonomisnya tinggi. Begitu nilai anggaran pembangunannya tinggi. Mudah-mudahan jalan Toll dan jalan-jalan lain semakin menunjang mobilisasi. Pergerakan itu tidak hanya manusia tetapi juga barang komoditas dan jasa. Jika ditinjau dari SCM, maka logistik itu sangat vital.

Celakanya, selama ini memang negeri kita lemah di dalam hal logistik. Peristiwa Ujian nasional (Unas) pernah terjadi hari dan tanggalnya berbeda di seluruh negri. Semua itu disebabkan oleh kiriman naskah ujian yang memakan waktu dan energi. Semoga jalan toll dan jalan lain dibangun dan memberikan manfaat. Wajar saja jika pemudik menikmati jalan lengang. Semoga deskripsinya berniat baik memberikan info lalulintas kepada para pembacanya yang mau mudik. Salam mudik: silakan lewat toll atau jalan reguler. Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia. Selamat Idul Fitri.

Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.