Menggali Ide

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Bagi kebanyakan orang, ide dianggap hal sangat penting. Ide bisa berpengaruh pada peningkatan atau penurunan suatu hal. Orang yang memiliki ide hebat, katanya, bisa meningkatkan karier. Sebaliknya, orang yang tidak punya ide, cenderung stagnan atau menurun dalam karir.

Bagi saya pribadi, ide menjadi nomor wahid. Apalagi kalau urusannya dengan menulis, pasti ide yang akan menuntun jari jemari merangkai kata. Tidak hanya itu, ide pula yang mengantarkan saya bisa memiliki posisi tertentu dalam pekerjaan. Ide manjadikan saya diperlakukan atau dipandang berbeda bagi sebagian orang.

Dulu, saya pernah dikomentari oleh seorang teman berkaitan dengan aktivitas menulis saya. Katanya, “Pantas saja bisa menulis, orang ndak punya kegiatan.” Katanya saya menulis karena saya tidak punya kegiatan. Beda dengan dia yang sibuknya tingkat dewa, sehingga tidak bisa menulis.

Menurut saya, itu hanya sudut pandang salah terhadap saya. Nyatanya, saya ketika tidak memiliki aktivitas, alias nganggur, justru sulit mendapatkan ide untuk menulis. Intensitas ide lebih banyak berseliweran di benak saya ketika saya full aktivitas dibanding saat saya nganggur. Saya merasa, ketika bekerja berarti otak saya mikir. Jadi, ketika otak saya berfikir, di situ lah saya banyak menghasilkan ide.

Maka, saya menilai apa yang disampaikan teman saya itu kurang tepat. Untuk meyakinkan itu, saya mencoba mencari ide dengan cara membandingkan. Dalam kondisi saya yang nganggur tidak memiliki aktivitas, saya menulis. Ternyata saya banyak menemui kendala dalam proses menulis. Menulis menjadi tersendat-sendat. Tidak lancar.

Lalu, ketika saya bekerja dan memiliki aktivitas padat, saya kemudian mencoba menulis. Ternyata hasilnya berbeda. Saya lebih kaya ide. Bahannya lebih banyak. Dalam proses penulisan juga lebih lancar. Tentu, ini adalah subjektifitas penilaian saya sendiri. Karena yang tahu dan yang merasakan saya sendiri. Kalau penilaian orang, ya seperti saya sampaikan di atas.

Pengalaman dalam menghasilkan ide antara orang satu dengan lainnya memang berbeda. Kalau saya lebih mudah mendapatkan ide sambil beraktivitas. Aktivitas apa pun. Misalnya, ketika di sawah, kegiatan organisasi, kursus, kuliah, mengajar dan lainnya. Aktivitas adalah kunci bagi saya untuk menghasilkan ide. Buat sata, diam merenung kurang bisa menghasilkan ide.

Beda orang, beda pula caranya. Jika saya mengandalkan aktivitas dalam memproduksi ide, Todd Henry tidak begitu. Dalam buku The Accidental Creative, ia menyatakan untuk menghasilkan ide harus menyisihkan waktu khusus dalam sepekan untuk fokus. Kata pendiri Accidental Creative ini, waktu khusus tersebut satu jam dalam sepekan, tidak ada pengecualian dan pelanggaran. Ia juga menegaskan, ini adalah suatu perjanjian dengan diri sendiri, komitmen untuk mamakai waktu yang tidak bisa diinterupsi demi mendapatkan ide yang baru.

Henry menawarkan konsep tersebut beserta caranya. Tentu, cara yang digunakan adalah hasil dari pengalaman dia bertahun-tahun dalam mencari ide. “Bertahun-tahun saya menyusun jadwal mencari ide pada awal minggu dan setiap pagi hari, sebelum orang lain datang ke kantor,” paparnya.

Dalam mencari ide, ia selalu menggunakan pertanyaan. Menurutnya, bukankah ide itu dicari untuk menjawab permasalahan? Oleh karena itu, mencarinya juga harus dengan pertanyaan. Lantas, Henry memberikan contoh suatu masalah. Yaitu “menemukan pasar baru untuk sebuah produk ABC.”

Kemudian, ia menyusun masalah itu menjadi sebuah pertanyaan, “Bagaimana kita dapat mencari konsumen potensial untuk prosuk ABC?” Lebih lengkap, CEO ini menjelaskan bahwa pertanyaan itu kemudian di-breakdown ke dalam empat kolom yang berjudul “Masa Depan”, “Masa Lalu”, “Konseptual”, dan “Konkret.”

Misalnya:

  • Masa Depan (beberapa kata yang mengidentifikasikan solusi akan seperti apa): permainan, kejutan, pertunjukan, persaingan, hiburan, kegembiraan dan lain-lain.
  • Masa Lalu (beberapa asumsi tentang perjalanan udara seperti apa): penuh tantangan, membosankan, kurang nyaman, mahal, kasar, tidak enak, dan lain-lain.
  • Konseptual (solusi dari masalah yang sama): direktur pelayaran, hadiah, direktur program, perjalanan Disney World, dan lain-lain.
  • Konkret (ciri-ciri khusus masalah yang sama): penundaan, kejang otot, interior yang membosankan, makanan tidak enak, dan lain-lain.

Setelah menulis sepuluh sampai dua belas kata pada setiap kolom, katanya, “Mulailah memilih dua kata berbeda dari setiap kolom yang berbeda, pasti ada ide yang muncul.

Misalnya:

  • Direktur pelayaran + Kejutan = mengundang selebriti sebagai ‘penerima tamu’ untuk penerbangan domestik secara acak.
  • Permainan + Hadiah = buatlah permainan antar penumpang di mana mereka dapat berkompetisi untuk memenangkan hadiah.
  • Kegembiraan + Interior yang membosankan = pasanglah satu proyektor di gang pesawat, dan kemera di bagian bawah pesawat, lalu buatlah gang menjadi transparan pada penumpang dengan memproyeksikan gambar hidup yang berada di bawah pesawat pada waktu-waktu tetentu.

Tawaran Henry di atas memang sangat menarik untuk diadopsi menjadi cara memproduksi ide. Selain sederhana, cara itu juga mudah diterapkan untuk bidang apa saja. Lebih cocok lagi bagi mereka yang bergelut di bidang pengembangan lembaga yang harus terus memproduksi ide guna melakukan inovasi pada lembaganya.

Tentu, untuk melakukan kegiatan apa pun —termasuk mencari ide— pasti ada tantangan dan hambatannya. Misalnya, sudah menghabiskan waktu lama, tapi tidak menghasilkan sesuatu yang menarik. Itu wajar. Tetapi selama memiliki komitmen kuat, pasti tantangan itu akan mudah ditaklukkan. Henry berpesan “kegiatan mencari ide adalah suatu investasi, bukan suatu yang kita harapkan segera menghasilkan imbal balik.”

Wallahu a’lam.

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.