Memaknai Manisnya Gula dan Gula

Catatan Oase :

Perjalanan Di Penghujung Romadhon :

MEPNews.id —– Manisnya gula merujuk pada suatu rasa yang dilakukan oleh indera perasa. Indera perasa yang bisa merasakan manis dan tidaknya gula adalah lidah. Begitu juga pedas dan tidaknya cabai, lidahlah yang berperan untuk merasakan. Walau sejatinya seluruh tubuh kita juga bisa memfungsikan indera perasanya. Tapi rasa manis, pedas, asam dan sejenisnya lidahlah yang berperan. Rasa sakit, gatal dan perih bukanlah lagi tugas lidah, tapi itu tugas kulit yang merasakan.

Ternyata tubuh juga melakukan berbagi peran, ada sistim yang mengatur fungsi dan peran tubuh untuk merespon stimulan yang berasal dari luar. Sistim yang mengatur itu semua adalah otak kita. Otak akan membagi kemana respon harus dilakukan, sehingga setiap pengaruh ataupun stimulan dapat direspon dengan benar. Fungsi otak merupakan penegas sesuatu itu benar atau salah.

Suatu yang dianggap benar atau salah oleh otak, kadang juga belum tentu dianggap sebagai benar oleh orang lain. Kemampuan merasakan kebenaran diri dan kebenaran yang dianut oleh orang lain, tidak cukup mengandalkan otak tapi juga diperlukan hati, yang sering disebut dengan ” qalbu “.

Kemampuan menempatkan diri bersama orang lain merupakan sebuah keharusan yang harus dimiliki, bila seseorang bergaul dan berhubungan dengan orang lain. Kemampuan menempatkan diri itulah yang membimbing manusia pada perilaku yang santun dan bisa menahan diri keangkuhan pribadi. Karena dia bisa menyadari fungsi fungsi dan peran yang harus dijalankan.

Ketakmampuan memainkan peran dan selalu merasa bisa merupakan gejala gangguan kepribadian, disanalah fungsi otak sudah tidak sejalan dengan fungsi hati nuraninya, yang ada selalu merasa bisa dan harus dia yang melakukan. Pribadi seperti ini sejatinya pribadi yang rapuh, karena tak mampu memahami peran yang harus dilakukan. Sehingga sering mencampur adukkan antara sesuatu yang menjadi wilayahnya dan tidak, pokoknya semua harus ada dia yang melakukan. Pribadi seperti ini jelas pribadi yang tak memahami vis dan misi hidup sehingga tak mengerti apa yang harus dilakukan. Yang ada inginnya selalu tampil meski tak mengerti sesungguhnya apa yang harus dicapai dari aktualisasi tampil tadi.

Tak Mampu Membedakan Antara Isi dan Kulit

Jelas sekali antara kulit dan isi itu adalah berbeda, namun mereka yang tak bisa membedakan fungsi kulit dan isi akan selalu menganggap sama semua. Jelas ketakmampuan semacam ini merupakan gangguan fungsi otak. Nah kalau fungsi otak sebagai pembeda saja tak mampu digunakan, apalagi bisa menggunakan fungsi hati? Yang ada pastilah selalu kerancuan dan kegaduhan.

Seringkali kita jumpai dalam sebuah kelompok sosial ketika nila nilai sudah dirancukan, maka perdebatan penerapan nilai akan selalu mengalami hambatan. Bagi mereka yang selalu menganggap semua sama, maka akan memegang nilai yang stagnan dan statis, tak mau berubah, karena memang nilai nilai yang dipegang adalah nilai yang hanya membenarkan dia. Tak mampu merespon perubahan diluar. Ini artinya otak sudah tak mampu mengirim sinyal atau sinyal sudah terkirim tetapi terjadi gangguan di hatinya.

Bukankah situasi sosial kita hari ini sepertinya berada pada situasi yang seperti ini, masyarakat mengalami ketakmampuan membedakan antara isi dan kulit, antara rasa benda dan benda. Hal ini karena memang otak dan hati kita telah dirusak. Ibaratnya orang tak mampu membedakan manisnya gula dan gula. Manisnya gula adalah sesuatu yang melekat pada gula, tetapi tidak semua yang manis selalu disebut gula. Begitu juga suatu nilai kebenaran, nilai sebuah kebenaran itu selalu melekat pada dimensi kemanusiaan, karena sejatinya manusia dihidupkan untuk saling menebar kebenaran dan berbagi kebaikan. Tidak selalu apa yang dilakukan oleh manusai bisa dianggap sebagai kebenaran. Lalu kebenaran itu seperti apa? Kebenaran itu kalau berdimensi akal sehat dan nurani yang baik, dan kebenaran seperti ini pasti juga menjadi nilai rasa yang dibutuhkan oleh orang lain. Kebenaran seperti ini penerapannya akan selalu sejalan dengan nilai nilai kemanusiaan yang ada.

Mengasah Kepekaan

Dalam situasi yang carut marut seperi ada baiknya kita tidak lagi menambah persoalan, jangan menjadi ” noise ” penambah kegaduhan, tapi jadilah ” voice ” menjadi solusi atas persoalan yang ada.

Mengasah kepekaan itu berarti kita mampu memerankan diri dalam masyarakat dengan peran dan fungsi yang tepat. Ini juga merupakan bagian latihan kita menbedakan rasa benda dan rasa, manisnya gula dan gula. Sehingga jelas arah kita serta apa yang kita kerjakan. Menyadari diri itu tidak selalu harus bisa dan mau mendengar dan menerima pendapat orang lain adalah cara mengasah kepekaan. Tentu dibutuhkan ketersedian ruang otak dan ruang hati yang baik dan sehat. Menutup ruang hati dan otak terhadap kebenaran diluar diri, pada dasarnya merupakan bentuk pribadi yang mengalami gangguan.

Menghindar dari pribadi seperti ini merupakan alternatif pilihan baik, karena bertahan dengan pribadi seperti ini jelas akan menguras energi kebaikan bersama orang lain yang bersedia baik. Semoga saja Allah menghindarkan kita dari tipe pribadi yang seperti ini.

Ditengah upaya kita mendekati finish sebuah perjalanan, fokus dan energi yang baik dan kuat sangat dibutuhkan, oleh karenanya dihindari oleh mereka merupakan sebuah anugera dipenghujung bulan romadhon yang berkah ini.

” Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-oran munafik itu adalah orang-orang yang fasik ” ( Q. S At Taubah : 67 )

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat berbagi kebaikan, semoga Allah mengelompokkan kita dengan orang orang yang baik

Surabaya, 14 Juni 2018

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Staf Pengajar Ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.