Kegagalan atau Keberhasilan atas Keinginan

Catatan Pasca Ramadhan (1)

By Yusron Aminulloh

MEPNews.id — SEBULAN penuh Ramadhan, saya libur menulis. Saya tidak menemukan tema yang menarik, karena saya sendiri sedang tidak tertarik dengan penglihatan mata saya. Sejumlah peristiwa di dunia maya, sebagian kecil layak dibaca, sebagian besar layak dilewatkan.

Ini mungkin karena kelemahan iman saya, kekotoran hati, atau kekerdilan pikiran saya, sehingga tidak tertarik pada sesuatu yang jutaan orang lain tertarik.

Sedangkan di dunia nyata, sedang enak dinikmati daripada dipikirkan apalagi dituliskan. Sejumlah keinginan besar saya soal urusan dunia, hampir 50 persen Allah tak kabulkan. Meski saya menemukan ternyata Allah memperjalankan saya dibanyak kota yang sama sekali bukan keinginan saya.

Yang menjadi pertanyaan. Betulkah keinginan saya, doa saya tidak dikabulkan ? Atau sebenarnya keinginan saya soal urusan dunia itu memang tidak layak dikabulkan olehNya, kemudian Dia mengganti dengan sejumlah jawaban yang seolah bukan kebaikan bagi kita, tetapi itulah yang terbaik dimata Allah ?

Saya tidak mau menjawab sejumlah pertanyaan itu kecuali saya ingat petuah guru saya.

“Kamu boleh meminta apa saja sama Allah. Tetapi jangan kaget Allah sering menjawab tidak sesuai dengan permintaanmu. Dan jawaban Allah itu yang terbaik bagimu. Karena kamu terbatas untuk mengetahui yang baik atau buruk bagi esok hari kehidupanmu.”

Bisa jadi, guru menterjemahkan konsep Tawakal (Arab: توكُل‎‎) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Ramadhan ini mengantarkan saya menemukan sejatinya keinginan dan keberhasilan. Setidaknya menurut pemahaman sempit yang saya pahami.

Semua manusia ingin damai, makmur dan sejahtera. Ukurannya urusan dunia aman. Diri kita dipuji manusia karena kehebatan kita, karena keberhasilan kita. Atau sebaliknya, kita diremehkan, dihina karena kegagalan kita.

Keinginan dan keberhasilan menjadi satu garis lurus yang permanen. Dan kegagalan adalah garis ekstrim lainnya. Tetapi gagal dan berhasil menurut pandangan siapa ? Manusia atau Allah ?

Saya justru menemukan sejumlah kegagalan urusan dunia di bulan Ramadhan adalah keberhasilan. Pasti Allah sedang menunjukkan skenario besar masa depan kita. Dan menghentikan langkah kita, untuk menemukan langkah baru.

Ramadhan yang suci tidak mungkin dikotori oleh kegagalan hanya berhenti sebagai kegagalan. Pasti kegagalan versi kita, bisa jadi keberhasilan dimata Allah.

Seperti yang ingin saya tulis di edisi berikutnya, tatkala Ramadhan ini, saya diperjalankan hampir 10 masjid dan kota yang berbeda saat tarawih dan i’tikaf, dimana konteks khusu’, dan ragam perbedaan imam adalah sebuah pandangan yang tidak bisa hitam putih melihatnya.

Ada Imam sholat yang dipuji jamaah karena bacaan suratnya yang merdu dikumandangkan, ada imam yang diremehkan karenan bacaannya yang pas-pas san, semua berbeda melihat dengan kacamata manusia atau kacamata Allah.

Kita baru menyadari, betapa Ramadhan hanyalah sinyal awal, agar kita mau menemukan sejatinya langkah untuk langkah nyata kita pasca Ramadhan esok hari. ***

Penulis Al Faqir, Petani yang sedang semangat berkebun.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.