Idul Fitri dan Terkesima padaNya

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —– Sejak sore hingga isya’ belum terdengar gema takbir dari corong masjid atau musholla di sekitar rumah saya. Entah di daerah lain. Mungkin sedang menunggu sidang Isbath. Dan ternyata benar. Begitu diumumkan oleh Menteri Agama bahwa telah terlihat hilal sehingga hari raya Idul Fitri 1439 H jatuh pada besok tanggal 15 Juni 2018, segeralah gema takbir saling bersahutan dimana-mana.

Kesan pertamakali memasuki hari raya Idul Fitri mungkin adalah nuansa maaf memaafkan, mudik ke kampung halaman, hingga yang paling menjadi ciri khas kultural, yakni baju baru. Untuk yang terakhir ini entah kenapa sejak dulu saya selalu membayangkan ada penyewaan baju baru dan rasanya mending pinjam saja seperti karnaval.

Yang hendaknya jangan sampai kita lupakan adalah konsep Idul Fitri. Kembali kepada fitrahnya diri kita kembali sebagai manusia ciptaan Allah. Bukan “ciptaan” orang tua, sekolahan dan universitas, negara dan birokrasi, masyarakat di lingkungan sosial, dan lain sebagainya. Tentunya ini bersifat personal dan ruhaniah, namun seringkali terlewatkan dan terabaikan.

Yang seringkali kita ingat saat Idul Fitri adalah dialektika sosial saling maaf memaafkan. Ada yang siap memaafkan jika yang bersangkutan meminta maaf terlebih dahulu. Ada yang berebutan saling maaf dan memaafkan. Ada pula yang, na’udzu billahi min dzalik, tidak mau memaafkan sungguhpun yang bersangkutan telah didatangi dan memohon maaf.

Semuanya itu memang merupakan cerminan dari kualitas terhadap penghayatan dan perenungan Idul Fitri kita masing-masing. Dari pembelajaran menahan melalui metode puasa, salah satu harapannya ialah dengan menahan segala sesuatunya terlebih dahulu, kesadaran bahwa kita manusia biasa menjadi muncul. Dan kita sekarang umumnya tidak bangga jika telah sukses menjadi manusia biasa. Kebanggaan kita ialah menjadi jabatan-jabatan “lucu” dalam kehidupan.

Ada yang percaya bahwa dirinya pimpinan, orang pintar, orang kaya, orang sholeh, dan yang lainnya menyakini sebaliknya: benar-benar bawahan, orang bodoh, tidak sukses, dan sebagainya. Padahal itu semua memang “iya” meskipun tetap harus diingat bahwa hal tersebut merupakan “iya” yang “semu” belaka.

Idul Fitri hadir untuk mensucikan atau membersihkan dari dari hal-hal yang bukan substansi, inti, serta hakiki bagi diri dan kehidupan manusia. Sehingga yang perlu diingat, selain dari tradisi halal bi halal saling maaf memaafkan ini, hendaknya kita jangan lupa untuk justru mengingat, merenungi sekaligus mempelajari untuk kemudian kita pakai dalam kehidupan sehari-hari, yakni Idul Fitri.

Jika kita tak menemukan ketakjuban sebagai manusia biasa, jika kita tak merasa bergetar kagum dan nggumun bahwa kita ini makhluk yang diciptakan Allah, jika dikiranya remeh belaka dan biasa-biasa saja penciptaan Allah atas manusia ini, maka rasa takjub karena apakah kita disaat mengucap takbir disetiap hari raya Idul Fitri tiba? Begitu dekatnya Allah kepada kita sebagai makhluk ciptaanNya sehingga tak mungkin rasanya kita tak terkesima kepadaNya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahilhamd.

Selamat memasuki hari raya Idul Fitri 1439 H. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. (Banyuwangi, 14 Juni 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.