Cukur Terus Ta’ziyah

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —- Mau idul fitri kok rambut waktunya harus dicukur, maka tadi pagi saya pergi ke tempat cukur langganan di Maesan yang tukang cukurnya hampir tiap bulan diundang ke pesantren kita untuk mencukur santri yang kena razia rambut bulanan, sehingga tukang cukur itu mengenal saya.

Ternyata banyak orang yang sama dengan saya, sehingga untuk bisa cukur harus menunggu dengan antrian yang cukup panjang. Sambil mengantri saya mengobrol dengan sesama pengantri yang kebanyakan saat itu orang orang yang sebenarnya bukan orang situ tapi punya keluarga di situ, mudik, sehingga mereka tidak mengenal saya.

Obrolan ya biasa, basa basi, siapa namanya, tinggalnya di mana, kerjaannya apa dan lain lain, kebetulan orang yang saya ajak ngobrol itu tinggal di Sumenep hanya asal usulnya dari Maesan Bondowoso. Ketika bertanya kepada saya, kerja di mana, dan saya jawab, saya tidak kerja, dia tidak percaya masak tidak kerja, akhirnya saya jawab, kerjaan saya ngajar ngaji. Dia pun berkata wah justru ngajar ngaji itu hebat banyak pahalanya di akhirat. Amin mudah mudahan, saut saya.

Ketika giliran beliau untuk dicukur, tukang cukurnya sambil mencukur berbicara kepada beliau kalau saya yang punya pondok pesantren Darul Istiqomah, maka jadilah beliau sedikit merasa tidak enak dan menyapa saya dengan kiyai secara ta’dzim.

Ketika giliran saya yang dicukur, tukang cukur itu memuji saya, wah pak kiyai kelihatan sehat soalnya sering main bola sama anak anak santri. Ah saya main bola sama anak-anak itu supaya mereka punya kesempatan menendang saya. Kata saya.

Pak kyai ini lain, tidak seperti kyai yang lain, pakaian dan penampilannya tidak seperti kyai, kalau kiyai kan biasanya sorbanan bahkan sorbannya besar besar. Tambah tukang cukur itu. Ah saya malu saya bukan kyai kok, saya takut penghormatan orang kadang bisa menjadi ujian, tapi memakai sorban itu bagus, minimal bisa menjaga kelakuan pemakainya, masak bersorban kelakuannya tidak baik. Tambah saya.

Sepulang dari cukur ada berita seorang tokoh senior Muhammadiyah Jember yang juga dicintai banyak orang orang NU terutama di desa desa (KH. Baharuddin Rosyid) berpulang ke rahmatulloh.

رحمه الله وغفر له وأسكنه فسيح جناته وألهم أهله و ذويه الصبر والسلوان

Semoga Allah merahmati, mengampuni dan menempatkan beliau pada SurgaNya yang luas, dan semoga Allah memberikan kepada keluarga dan kerabat beliau kesabaran dan hiburan.

Terus terang saya sangat dekat dan kagum pada almarhum, saya mulai dekat dan sering ke rumah almarhum mulai rumah yang di dekat STM Jember sampai rumah yang sekarang di jalan Danau Toba Tegal Gede Jember, setelah saya menikah dengan istri saya yang masih ada hubungan keluarga dengan istri almarhum mbak Ida, seakan pernikahan saya dengan istri saya yang dari kalangan nahdliyyin menjadi penghubung silaturahim dengan keluarga yang dari kalangan Muhammadiyah yang sempat retak gara gara beda organisasi, karena saya yang alumni Gontor dianggap Muhammadiyah, padahal sebenarnya saya tidak pernah mempunyai kartu anggota Muhammadiyah atau pun kartanu, hanya memang saya sering mengisi pengajian ahad pagi tetapi juga tidak jarang saya mengisi pengajian dalam rangka peringatan maulid nabi.

Sebenarnya saya sudah sering mendengar ceramah almarhum saat masih mondok atau kuliah dulu pada waktu liburan di kampung, tapi waktu itu belum berkenalan.

Bagi saya almarhum merupakan teladan dalam kegigihan berdakwah, almarhum rajin turba dakwah ke desa desa, juga di kalangan perkotaan bahkan di kalangan pelajar dan mahasiswa terutama di daerah Jember, bahkan beberapa tahun sebelum wafat saat terkena sakit tidak bisa meninggalkan tempat tidur masih tetap mengisi dakwah melalui beberapa stasiun radio dengan cara kru radio itu datang ke rumah almarhum untuk merekam suara dakwah beliau untuk kemudian disiarkan secara off air.

Selama hidupnya almarhum pernah menjadi ketua pimpinan daerah Muhammadiyah Jember, rektor UMJ, Ketua MUI Jember, selain tentu dosen Unmuh jugu guru STM Jember.

Semoga almarhum husnul khotimah diampuni dosa dosanya dan diterima segala amal solehnya. Amin.

Mendengar berita itu segera beristirja’ dan pergi dengan istri saya bertakziyah ke rumah duka, hanya sayang sampai di rumah duka, jenazah almarhum sdh dibawa ke pemakaman, tapi alhamdulillah banyak ketemu teman teman alumni baik alumni Gontor, atau dari kalangan Muhammadiyah atau keluarga yang sama-sama ketinggalan.

Semoga bermanfaat.

Daris, akhir romadlon 1439.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.