Alhamdulillah, Hutangku Terbayar di Akhir Ramadhan

bojonegoro - khusnatul mawaddahOleh: Khusnatul Mawaddah

MEPNews.id – Dalam seminggu terakhir, kiriman pesan dari WA terus berdatangan. Selain berisi pesan permintaan maaf pada saya karena belum bisa membayar piutang bulan Juni dan molor hingga bulan Agustus, juga banyak pesan tagihan hutang dari para supplier yang sangat mendesak untuk saya bayar.

“Ayo, Buk. Tolong segera dibayar tagihan saya. Sudah 2 minggu lo, Buk. Ini saya waktunya jatuh tempo setor ke juragan,” begitu pesan WA dari bakul ayam yang ternyata juga ditagih oleh juragan ayam.

Dari bakul sayur, pesan WAnya lebih melas lagi. “Bulek, niki badhe riyadin. Modal kulo telas kangge tumbas klambine anak kulo. Nembe nebus, badhe sekolah SMP. Mbenjang, njih. Kulo tenggo.”

WA juragan kue lebih menyeramkan. Bahasanya sedikit membikin saya keder. “Ibu…, mohon segera dibayar tagihan sebulan kue saya. Ada hak karyawan yang perlu Ibu juga pikirkan. Sesuai dengan kontrak kita, mohon Ibu membayar tepat waktu.”

Masih banyak pesan WA yang setiap hari datang silih berganti. Semuanya tentu membuat saya gugup, bingung mencari jalan keluar. Bagaimana saya harus menagih lagi piutang, untuk memenuhi seluruh tagihan hutang yang begitu banyak. Sementara, waktu sudah menjelang cuti bersama.

Saat cuti, dan bahkan sesaat menjelang cuti, seluruh kantor tidak mungkin melakukan transaksi. Maka, dengan menghela nafas panjang, saya berusaha menenangkan diri. Sementara, saya terus berkomunikasi dengan pihak-pihak yang semestinya membayar tagihan dari penjualan saya.

Maka, saya juga memberi jawaban agar para supplier saya tenang. “Mohon tunggu, Ibu, Bapak. Segera saya lakukan pembayaran. Ini lagi proses pengiriman. Mohon untuk bersabar.”

Menjelang Lebaran, volume transaksi jual-beli naik drastis. Harga barang konsumsi naik, permintaan juga naik, perputaran uang jadi begitu cepat. Tak pelak, tingkat stres penjual bisa juga naik jika barang yang mereka butuhkan tidak mencukupi atau modal tidak segera balik.

Dalam kondisi begini, peran komunikasi diperlukan saat kita sebagai pembeli membayar dengan sistem tempo. Bisa jadi, supplier menagih tanpa mengenal alasan atau argumen –yang penting bagi supplier adalah kita segera bayar, dan uangnya bisa mereka gunakan untuk kulakan lagi mumpung momen lebaran ramai pembeli.

Di sisi lain, karyawan juga minta segera dibayar gaji dan THR tepat waktu. Orang-orang yang membantu kita bekerja ganti minta dilayani sesuai harapan mereka.

Saat suntuk itu lah, ada kepasrahan betapa kita sangat butuh pertolongan Allah yang kuasa menggerakkan seluruh komponen alam ini. “Ya Allah, luluhkan hati yang kaku, gerakkan pelanggan saya untuk segera melakukan pembayaran piutang, beri hambaMu ini kepercayaan. Ya Allah, kami mohon bantuanMu.”

Pagi, siang, malam, bahkan sebentar pun saya tak lepas mengingkat kebesaran Allah.

Alhamdulillah, Allah kabulkan permohonan ini. Para pelanggan sudah mulai melakukan pembayaran. Dari pembayaran itu, supplier segera kubayar satu demi satu. Meskipun belum lunas, namun sudah lumayan lega. Mereka bisa kulakan lagi.

Suka-dukanya menjadi pengusaha memang harus mau menanggung resiko. Kadang diomelin orang, bahkan mungkin dijelek-jelekkan. Tak apa. Memang semua perlu penghayatan peran, kesabaran dan uji mental. Yang penting, semua bisa diatasi atas ijin Allah.

Semoga bermanfaat.

Facebook Comments

POST A COMMENT.