Tekanan Darah Tinggi Bisa Sebabkan Demensia

MEPNews.id – Pasien yang punya tekanan darah tinggi berrisiko lebih tinggi terkena demensia. Ini hasil penelitian baru di Italia yang dipublikasikan di Cardiovascular Research yang diterbitkan Oxford University Press dan dirilis di EurekAlert! edisi 13 Juni 2018.

Penelitian ini juga menunjukkan untuk pertama kalinya MRI dapat digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda awal kerusakan syaraf pada orang dengan tekanan darah tinggi sebelum gejala demensia terjadi. Berarti, tindakan lebih awal bisa dilakukan lebih tepat.

Tekanan darah tinggi adalah kondisi kronis yang menyebabkan kerusakan organ secara progresif. Diketahui, sebagian besar kasus penyakit Alzheimer dan demensia terkait bukan karena predisposisi genetik tetapi lebih pada paparan kronis terhadap faktor risiko vaskular.

Pendekatan klinis untuk pengobatan pasien demensia biasanya dimulai setelah gejalanya jelas terlihat. Namun, ketika tanda-tanda kerusakan otak mulai terwujud, mungkin sudah terlambat untuk membalikkan proses neurodegeneratif.

Sejauh ini, dokter masih kekurangan prosedur untuk menilai penanda perkembangan yang dapat mengungkapkan perubahan pra-gejala dan mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami demensia. Maka, para peneliti mencari cara itu.

Para peneliti menyaring subjek yang dirawat di Regional Excellence Hypertension Center dari Italian Society of Hypertension di Departemen Angiokardioneurologi dan Kedokteran Translasional di I.R.C.C.S, Neuromed, Italia. Mereka merekrut pasien berusia 40 – 65 tahun yang patuh untuk memberikan catatan informasi tertulis dan dengan kemungkinan melakukan scan 3 Tesla MRI.

Penelitian dilakukan pada pasien tanpa tanda-tanda kerusakan struktural dan tidak ada diagnosis demensia. Semua pasien menjalani pemeriksaan klinis untuk menentukan bagaimana status hipertensi mereka dan kerusakan organ target terkait. Selain itu, pasien menjalani scan MRI untuk mengidentifikasi kerusakan mikrostruktur.

Untuk mendapatkan pendalaman tentang profil neurokognitif pasien, kelompok khusus tes diberikan. Tujuan utama penelitian adalah menemukan tanda-tanda spesifik perubahan otak dalam materi putih mikrostruktur pasien hipertensi terkait dengan gangguan fungsi kognitif.

Hasilnya, pasien hipertensi menunjukkan perubahan signifikan dalam tiga saluran serat materi putih tertentu. Pasien hipertensi juga mendapat nilai jauh lebih buruk dalam domain kognitif yang dapat dihubungkan ke daerah otak yang terhubung melalui saluran serat tersebut. Ini menunjukkan penurunan kinerja dalam fungsi eksekutif, kecepatan pemrosesan, memori dan tugas belajar.

Secara keseluruhan, pelacakan serat materi putih pada MRI menunjukkan tanda awal kerusakan pada pasien hipertensi meski mereka sebelumnya dinyatakan tidak terdeteksi oleh neuroimaging konvensional.

Karena perubahan ini sudah dapat dideteksi sebelum tampak gejala demensia, pasien-pasien ini dapat diberi obat-obatan untuk mencegah kerusakan fungsi otak lebih lanjut. Temuan ini juga berlaku secara luas untuk bentuk-bentuk penyakit neurovaskular lainnya, di mana intervensi dini dapat memberi manfaat terapeutik.

“Masalahnya adalah, perubahan neurologis yang berkaitan hipertensi biasanya terdiagnosis hanya ketika penurunan kognitif menjadi jelas, atau ketika resonansi magnetik tradisional menunjukkan tanda-tanda kerusakan otak yang jelas. Padahal, dalam kedua kasus itu, kita sudah terlalu terlambat untuk menghentikan proses patologis,” kata Giuseppe Lembo, koordinator penelitian.

“Kami dapat melihat bahwa, pada subjek hipertensi, ada kerusakan serat materi putih yang menghubungkan area otak yang biasanya terlibat dalam fungsi perhatian, emosi dan memori,” kata Lorenzo Carnevale, teknisi IT yang juga penulis pertama studi ini. “Aspek yang perlu dipertimbangkan adalah semua pasien yang diteliti tidak menunjukkan tanda-tanda klinis demensia. Dalam neuroimaging konvensional, mereka juga tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan otak.”

Tentu saja, penelitian lebih lanjut masih diperlukan. Tapi, para peneliti yakin penggunaan traktografi akan mengarah pada identifikasi awal orang yang berisiko demensia. Ini membuat intervensi terapeutik bisa lebih tepat waktu.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.