Polarisasi Dampak Pemilihan Ketua Karesidenan Batavia Terasa Sampai Sekarang

 

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Begitu ramainya berita klaim jalan tol oleh para suporter yang membentangkan banner di berbagai jalan tol yang akan dilalui oleh para pemudik untuk menyambut hari raya Idul fitri di kampung halaman masing-masing. Baru kali ini ada klaim seperti ini yang tidak ada pada tahun sebelumnya dandi masa presiden sebelumnya. Polarisasi begitu kuat dampaknya bagi rakyat Indonesia setelah Pilpres 2014. Keadaan ini semakin menggema setelah pemilihan ketua karesidenan Batavia pada 2017 yang lalu semakin memperuncing perbedaan itu.

Begitu sengitnya Pertarungan untuk memperebutkan tahta karesidenan Batavia begitu marak, tidak seperti pemilihan-pemilihan ketua karesidenan di daerah lainnya. Pemilihan ketua karesidenan disamping diikuti oleh kandidat, juga diikuti oleh suporter kedua belah pihak untuk memberi tepuk tangan yang meriah.

Pertarungan ini dimulai dengan tampilnya media massa yang masif sebagai suporter tim kesandung, media massa baik yang maya maupun nyata berbondong-bondong menjadi suporter tim kesandung ini. Mereka seolah2 menguasai setiap lini jalannya pertempuran memperebutkan tahta karesidenan Batavia.

Belum tim suporter yang berasal dari intelektual dan setiap hari memberi opini sesat tentang hebatnya calon yang akan mengikuti pertarungan yang dibelanya. Dengan berbagai argumen yang seolah-olah memberi penguatan kepada pemirsa bahwa yang dilakukan memberi opininya sesuai dengan kadar intelektualnya, Mboh dirungokno pemirsa opo ora, sing penting ngecemes koyo pinter-pintere dewe.

Intelektual yang tetiba hilang kadar keintelektualnya gara-gara menjadi suporter pertarungan pemilihan ketua karesidenan Batavia ini, gak tahu pemikiran apa yang ada di pemikirannya sehingga bisa memberikan pandangan yang jauh dari fakta.

Dalam psikologi orang yang memiliki pendirian labil, apapun pekerjaannya akan berpengaruh pada pola pikirnya, ketika suasana membutuhkan pemikiran yang sesuai dengan kebutuhan maka, dengan cepat akan mengikuti pola pemikiran pesanan itu. Sikap labil ini bisa menghinggapi siapapun dan usia berapapun, jadi bisa menyerang siapa saja.

Belum lagi divisi hansip yang memberi support untuk berdiri satu barisan dalam membantu mencapai kedudukan karesidenan Batavia ini. Langsung tidak langsung memberikan kisah yang tak terlupakan kepada siapapun.

Tim suporter kesandung juga memiliki suporter dari kelompok cacing pita yang memberikan segala macam kebutuhannya agar bisa memenangkan pertarungan memperebutkan karesidenan Batavia ini. Dengan kekuatan tiada tanding di negara ngapurosedoyo mereka memainkan peranan yang sangat penting dan dapat menguasai hidup orang banyak. Cacing pita ini menguasai kehidupan, di darat, laut dan udara. Semua dikuasai mereka sehingga jika membutuhkan sesuatu tinggal menggelontorkan saja apa yang di inginkan.

Ada kelompok di medsos yang disewa untuk selalu menulis cerita tentang hebatnya calon kesandung ini, mereka yang di pimpin oleh si kurap terus menerus memberondong dengan informasi-informasi palsu kepada pemirsa. Membolak-balik informasi bodong adalah tugasnya. Tapi si kurap terjebak pada kebodohannya sendiri, karena pemirsa
lebih pintar dibanding si kurap.

Suporter selanjutnya adalah para ulama yang membela membabi-buta kepada tim kesandung ini, mereka dengan berbagai dalih memainkan ayat-ayat AL-Quran agar tim kesandung memenangkan pertarungan memperebutkan ketua Batavia ini. Para Ulama ini dengan terus terang menafsirkan ayat-ayat sesuai kebutuhannya dengan harapan dapat dukungan dari umat Islam. Tapi pemirsa ternyata tidak semua mau itu diajak jadi suporter mereka. Para pemirsa lebih takut kepada Alloh SWT dalam pemilihan ketua karesidenan Batavia ini. Mereka tidak menduga bahwa ayat-ayat yang diberikan untuk mengimbangi ayat AlMaidah 51 dengan versi pembenarannya tidak digubris oleh pemirsa.

Suporter dari sekelompok pemuda juga memberi hiburan tersendiri, memberi gelar Sunan Kalijodo dengan harapan dapat dukungan dari masyarakat. Alih-alih dapat dukungan, orang Islam malah antipati dengan pencitraan model ini. Opo yo ono gelar Sunan iku diwenehno nang sembarang uwong? Ono-ono wae iki. Malah gelar ini menjadikan pemilihan ketua karesidenan semakin rame dan menghibur siapapun yang mengikuti perkembangan berita ini. Komentarpun bersahut-sahutan terhadap kejadian ini, ada yang menanggapi dengan lucu juga ada yang serius.

Opini asal njeplak juga banyak yang bisa dibaca oleh pemirsa, pemirsa disuguhi berita-berita palsu yang dibutuhkan agar rakyat Batavia bersimpati kepadanya. Tayangan berita di TV dan media yang lain terus bermunculan, ditambah hasil survey yang asli maupun untuk menyenangkan pemesan.

Pemilihan ketua karesidenan Batavia betul-betul telah membelah energi bangsa ini, ternyata setelah pemilihan ketua karesidenan selesai masih banyak pihak yang tidak bisa menerima kekalahan dengan legowo, masih banyak serangan-serangan yang ditujukan dengan kalimat radikalisme, antikebhinekaan, dll yang dijadikan jargon umum sebagai penghibur jati yang sedang lara.

Mulai kemarin sampai pagi ini para pemirsa juga dibuat terbengong-bengong dengan tindakan suporter tim kesandung yang berdemo di depan Cipinang dan melakukan demo sampai malam. Para pemirsa menunggu tindakan water Canon yang bisa menyemprot suporter agar membubarkan diri. Para pemirsa tentunya masih ingat bagaimana para peserta aksi 212 yang disemprot dengan water canon dan tembakan gas air mata. Sayang tadi malam itu tidak terjadi pada suporter tim kesandung ini. Mereka dengan leluasa membakar-bakar benda di jalan.

Pandangan mata membelah ini menjadikan para suporter di negara ngapurosedoyo akan menjadi perseteruan yang berkepanjangan, para pemirsa akan mencatat para munafiqun yang begitu teganya menjual agamanya demi kepentingan pribadi dan sesaat yang dibungkus dengan toleransi.

Sekarang polarisasi sudah sangat kelihatan pasca pemilihan Ketua karesidenan Batavia yg sudah berlalu beberapa bulan yang lalu. Ternyata prediksi suasana akan adem ayem setelah semua proses selesai masih jauh dari angan.

Selama masih ada kebijakan keberpihakan dan menganakemaskan napi yang tidak pada tempatnya, maka polarisasi ini secara tidak langsung akan terpelihara dengan sendirinya. Apalagi hari ini di saat yang sama ada Ustadz yang dipindahkan ke Lapas Porong. Sudah sepantasnya di akhir bulan Ramdhan ini masing-masing individu begitu tergerak untuk mendapatkan Lailatul Qodar yang menjadi dambaan setiap muslim selama hidupnya. Menyudahi pertengkaran adalah solusi terbaik dalam membangun negeri ini dari perbedaan yang terus di dengung-dengungkan.(*)

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.