Molekul Kecil Ini Bisa Kalahkan Serangan Asma

MEPNews.id – Ada partikel kecil tak terlihat yang tiba-tiba memasuki paru-paru. Kemudian, Anda merasa bernapas jadi sulit. Nah, saat itu juga Anda sedang mengalami serangan asma.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2014 menyebutkan, asma penyebab kematian ke-13 di Indonesia. Secara global, Indonesia berada di peringkat 20 untuk kematian terkait asma. Data Riskesdas 2013 menunjukkan, satu dari 22 orang Indonesia menderita asma. Namun, hanya 54% yang terdiagnosis dan hanya 30% kasus terkontrol dengan baik (Penelitian Pasar Asma di Indonesia, 2015).

“Meski ada prevalensi asma di seluruh dunia, terapinya belum berubah signifikan –dengan beberapa pengecualian– dalam 70 hingga 80 tahun terakhir,” kata Dr. David Corry, profesor kedokteran-imunologi, alergi dan rematologi di Baylor College of Medicine, Houston, Amerika Serikat. “Sebagian besar terapi hanya mengobati gejala penyakit, bukan penyebab yang mendasari. Maka, dalam karya ini, kami menyajikan cara baru untuk membidik jalur yang kami pikir merupakan inti dari kondisi alergi asma.”

Dikutip Science Daily 12 Juni 2018, karya tim dari laboratorium Corry ini berupa temuan penelitian sekitar 20 tahun. Rincian laporannya dipublikasikan di Journal of Biological Chemistry.

Menurut Corry, perawatan saat ini adalah berusaha meredakan gejala asma yang khas yaitu penyempitan saluran udara. Perawatan ditujukan agar pasien dapat bernapas dengan lebih mudah. Nah, perawatan mungkin melibatkan pemberian steroid untuk menekan peradangan yang diyakini sebagai penyebab penyempitan saluran napas.

Peradangan saluran udara menyebabkan sesak napas, dan itu dapat membuat orang panik sehingga dilarikan ke ruang gawat darurat. Maka, laboratorium Corry mempelajari asma sekitar 20 tahun untuk membantu orang yang kena asma. Salah satu sasaran mereka adalah lebih memahami jalur molekuler yang mendorong penyempitan saluran napas pasien.

Serangan asma bukan peristiwa sederhana. Alergen, sebagai faktor lingkungan, memasuki paru-paru dan mengaktifkan reaksi berantai jalur molekuler sehingga memicu perkembangan penyakit. Alergen ini mengaktifkan sel-sel kekebalan, menarik mereka ke paru-paru, dan mengarahkan sebagian mereka menghasilkan respon antibodi IgE yang kuat dan mengarahkan yang lain mensekresikan mediator kekebalan yang disebut sitokin.

Sitokin IL-4 dan IL-13 khususnya diperlukan untuk terjadinya asma. Sitokin-sitokin ini mengaktifkan molekul lain, yakni transcription factor STAT6, yang mendorong ekspresi sejumlah gen. Akhirnya, ini mengarah pada kontraksi berlebihan di saluran udara yang menyebabkan sesak napas.

Dalam laboratorium, sejumlah tikus direkayasa secara genetik sehingga kekurangan STAT6. Hasilnya, mereka tidak memiliki respons yang dipicu oleh interaksi IL-4/IL-13/ STAT6, sehingga benar-benar tahan terhadap serangan asma.

“STAT6 berada di pusat respon imun yang menjembatani asma. Jadi, kami mencari cara untuk memblokir aktivasi STAT6,” kata Dr. J. Morgan Knight, mitra pasca- doktoral di laboratorium Corry.

“Untuk mengaktifkan STAT6, IL-4 dan IL-13, ikat ke reseptor terkait mereka pada sel kekebalan. Reseptor ini sama-sama punya sub-unit kritis yang disebut IL4R-alpha yang mengaktifkan STAT6. Penelitian tambahan dari laboratorium kami menunjukkan, reseptor yang sama sekali berbeda juga bisa mengaktifkan STAT6. Jadi, kami memfokuskan upaya pada mengembangkan molekul kecil yang akan mengikat dan menghambat aktivitas STAT6 secara langsung.”

Upaya semacam itu cukup sulit. Corry, Knight dan rekan harus merancang molekul kecil yang mampu secara khusus membidik STAT6 di dalam sel-sel paru-paru, tanpa memicu efek samping yang tidak diinginkan.

Struktur kimia molekul kecil PM-43I. (Credit: D. Corry)

Struktur kimia molekul kecil PM-43I. (Credit: D. Corry)

“Setelah bertahun-tahun bekerja, akhirnya kami berhasil,” kata Knight. “Kami secara kimia bisa mensintesis molekul kecil yang disebut PM-43I. Molekul ini dapat menghambat penyakit alergi saluran napas yang bergantung STAT6 pada tikus. Selain itu, dosis minimum PM-43I bisa membalikkan penyakit saluran napas alergi yang sudah ada sebelumnya pada tikus. Yang juga penting, PM-431 bisa dibuang sampai bersih melalui ginjal sehingga tidak memiliki toksisitas jangka panjang. Kami menyimpulkan, PM-43I adalah yang pertama dari kelas molekul kecil yang mungkin cocok untuk pengembangan klinis lebih lanjut sebagai obat terapeutik terhadap asma.”

Salah satu manfaat utama pengembangan PM-43I sebagai obat asma adalah secara khusus membidik jalur yang diperlukan untuk timbulnya penyakit itu. Pasien mungkin tidak lagi membutuhkan perawatan steroid yang kadang dipasangkan dengan obat asma. Steroid memang bisa mematikan peradangan, tetapi juga bisa mematikan respons imun lainnya, antara lain kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Sementara, pengobatan dengan molekul kecil PM-43I dapat mengendalikan asma tanpa merusak kemampuan imun tikus melawan patogen.

“Ini penting. Ada peningkatan insiden pneumonia pada penderita asma yang mungkin karena efek samping steroid,” kata Corry. “Steroid menurunkan semua sistem kekebalan. Sementara, molekul kecil kami secara khusus membidik jalur yang mengarah ke asma tanpa mengganggu jalur lain yang memungkinkan tubuh melawan penyakit. Pasien yang diobati dengan molekul kecil kami tidak akan butuh steroid. Kemampuan pasien untuk melawan infeksi tidak akan terpengaruh. ”

Peneliti lain telah mengembangkan antibodi monoklonal yang secara efektif membidik IL4R-alpha dan menghambat penyakit alergi yang terkait STAT6. Antibodi ini sekarang hampir disetujui Food and Drug Administration. Namun, para peneliti di laboratorium Corrie berargumen, pendekatan sel kecil mereka memberi keuntungan unik bila dibandingkan dengan sel antibodi yang jauh lebih besar.

“Molekul kecil kami lebih mudah dan lebih murah dibuat daripada antibodi monoklonal,” kata Corry. “Juga, orang mungkin mengalami sensitivitas atau toleransi terhadap pengobatan antibodi monoklonal. Sementara, molekul kecil kami disintesis secara kimia. Saya rasa, kecil kemungkinan orang mengalami kepekaan terhadapnya. Selain itu, molekul kecil kami lebih mampu memblokir STAT6 daripada antibodi.”

“Saya sangat bersemangat tentang potensi molekul kecil kami untuk menyembuhkan asma,” kata Knight. “Saya rasa, jika pendekatan molekul kecil kami dapat membantu paru-paru mengatasi peradangan kronis yang mendorong asma, mungkin juga ini menyelesaikan kondisi mereka.”

“Cara ideal untuk mengatasi gangguan adalah membidik akar penyebab paling mendasar. Untuk masalah asma, kita dapat memecahnya menjadi dua faktor. Faktor endogennya adalah inflamasi di mana STAT6 masuk. Faktor lingkungan yakni partikel kecil yang hampir tak terlihat mata. Idealnya, kami membidik keduanya pada saat yang sama,” kata Corry.

“Tapi, ini kesempatan pertama kami menerapkan pemahaman modern tentang penyakit terhadap terapi. Itu lah yang paling membuat saya bersemangat; mengembangkan pendekatan modern untuk mengobati gangguan umum ini,” kata Corry.

Meski demikian, tahap penelitian masih panjang. Para peneliti masih harus bekerja untuk memindahkan molekul kecil ini ke tahap pengujian berikutnya dalam uji klinis. Jika lolos, suatu hari nanti molekul ini bisa tersedia untuk digunakan manusia.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.