Kembali Kepada Fitrah, Belajar Dari Tukang Potong Rambut

Catatan Oase :

MEPNews.id —– Menjelang idul fitri ini ternyata tidak hanya toko baju dan mall yang ramai, tukang cukur rambut juga ramai. Lebaran ternyata dimaknai oleh sebagian masyarakat dengan penampilan yang rapi, bagian dari pemahaman tentang fitrah dan kesucian diri yang kemudian ditutup dengan tradisi bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Rapi merupakan situasi yang menggambarkan sebuah keadaan bersih, teratur dan sesuai dengan sistem yang berlaku. Rapi merupakan potret tatanan semesta yang beraturan. Semua berjalan sesuai dengan kapasitasnya dan saling melengkapi. Dalam kaitan dengan rambut, ternyata rapi ada yang menciptakan, rapinya rambut ternyata dilakukan oleh tukang potong rambut.

Kerapian dalam kaitan rambut bisa terjadi karena ada kepasrahan yang dilakukan konsumen untuk ditata rambutnya oleh tukang potong. Sehingga terjadilah sebuah proses sebab akibat, karena ingin ditata agar rambutnya rapi, lalu percaya pada tukang potong dan tukang potong sebagai pihak yang diserahi amanah melaksanakannya dengan rasa tanggung jawab.

Dalam perspektif sosial hal yang sama juga lazim terjadi, sebuah tatanan sosial yang rapi akan terjadi bila rakyatnya mampu menempatkan dirinya sebagai rakyat yang baik, ketika mereka mampu menanamkan rasa percaya kepada semua pihak yang terlibat serta pemimpin yang diserahi amanah bisa menjalankan dengan baik. Ada rasa saling percaya yang dijaga diantara. Antara rakyat dan pemimpinnya harus ada saling pasrah untuk saling mengisi sesuai dengan kapasitasnya masing masing. Kerapian sosial bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, tetapi sesuatu yang diupayakan dan diciptakan. Tentu saja tidak semua orang bisa diamanahi untuk mengupayakan kerapian sosial, karena dibutuhkan sebuah keahlian dan landasan keilmuan yang sesuai, sebagaimana rambut, kerapiannya diserahkan kepada tukang potong rambut.

Semua Harus Bisa Mengendalikan Diri

Kerapian sebagai sebuah sistim terbangun karena semua pihak yang terlibat bisa menahan diri selama proses. Bisa anda bayangkan kalau dalam situasi proses potong rambut, tiba tiba konsumen merubah keinginannya dan memarahi tukang potong rambutnya? Apa yang terjadi? Situasi tidak kondusif pasti terjadi, model rambut pastilah menjadi kacau, karena konsumen tak mampu bersabar melihat proses yang sedang berlangsung menuju hasil, konsumen berpikir kotor terhadap tukang potong rambut, padahal apa yang dilakukan tukang potong adalah sebuah proses menuju potongan rambut terbaik yang sudah disepakati dan diinginkan. Apalagi kalau kemudian si konsumen berpikir untuk memotong sendiri rambutnya, maka hal yang tidak baik kemungkinan besar akan terjadi.

Alam semesta sebagai sebuah kesatuan sistim adalah contoh baik sebuah kerapian. Antara siang dan malam selalu beredar pada porosnya, gugusan galaksi yang mengitari matahari tidak ada yang saling bertubrukan satu sama lain, karena diantara gugusan itu mampu menjaga poros edarnya. Dalam bahasa id manusia mampu menahan diri bertahan dalam superegonya. Tidak merasa paling, lalu menampilkan diri sebagai orang yang paling hebat dan paling berjasa.

Tatanan sosial akan berjalan dengan damai, bila semua yang ada didalamnya mampu menjaga diri dalam tugas dan perannya masing masing, perasaan ingin menonjol dan ingin dianggap paling hebat, paling baik ibarat sebuah gugusan galaksi yang keluar dari poros edarnya. Bergesekan, bertubrukan dan pasti akan menjadikan hancurnya sebuah tatanan.

Nah sejatinya bertahan dalam putaran waktu dan bersabar dalam proses merupakan sebuah wujud kerja keTuhanan, karena Tuhan meski maha kuasa, Dia tak akan pernah melanggar sistim yang dia bangun. Itulah yang disebut dengan kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian, bersabar dalam keteraturan.

Semoga saja kita dijadikan sebagai manusia yang berilmu sehingga bisa memahami keteraturan dan bersedia menjadi bagian dari keteraturan itu sendiri. Berjalan diluar sistem yang disepakati, tentu akan menjerumuskan kita pada kegagalan dan kekalahan dalam bergerak. Bisa kita bayangkan bagaiman bila dalam sebuah tatanan masyarakat berkumpul mereka yang tak mampu menahan diri dan bersabar dalam proses, kehancuran pasti akan terjadi. Semoga kita bisa dihindarkan.

” Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? ” (QS. Al Mulk 67: 1-3)

Assalamualaikum wr wb…. Selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga kita diberkahi dengan kesabaran diri berjalan dalam bimbingan Nya.

Surabaya, 13 Juni 2018

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Staf Pengajar ilmu Komunikasi Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.