Human Traffic Light

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Mumpung sedang musim mudik, saya ingin menulis sesuatu tentang jalan dan lalu lintas.

Kita pasti pernah melewati pertigaan atau perempatan. Berberapa tahun belakangan, di sana ada pemandangan berbeda. Pemandangan itu adalah kemacetan luar biasa. Di benak kita, kemacetan biasanya hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Kini, kemacetan lalu lintas tidak hanya kota-kota besar. Tetapi, kota-kota kecil pun turut terserang kemacetan.

Di antara kemacetan, biasanya ada pemandangan menarik. Apa itu? Ya, orang yang mengatur lalu lintas (human traffic light). Yang saya maksud bukan polisi lho ya. Ini orang sipil biasa yang bermodal ikhlas dan bekal terbatas. Terbatas karena memang sebagian besar mereka tidak pernah mengikuti kursus Gatur Lantas (Gerakan Teratur Lalu Lintas). Mereka turun ke jalan membantu mengatur lalu lintas karena dorongan keprihatinan.

Seiring munculnya titik-titik kemacetan baru di setiap daerah, muncul pula berbagai human traffic light. Seolah di mana ada kemacetan di situ muncul human traffic light. Mereka dari dengan ragam usia; yang muda hingga yang tua. Kadang sendiri, kadang bersama anak atau orang tuanya. Saking banyaknya, kita gampang menemui mereka di setiap perjalanan. Apalagi jika melewati ruas-ruas jalan perkotaan. Bisa dipastikan kita berjumpa mereka dalam jumlah banyak.

Fenomena ini seolah alami. Terjadi tanpa kesengajaan. Ada kemacetan, ada mereka yang mencoba menguraikan.

Namun, apa benar demikian? Seperti dijelaskan di atas, kemunculan human traffic light rata-rata disebabkan oleh kemacetan, yang di situ tidak ada traffic light dan tidak dijaga polisi. Kalau pun dijaga polisi, mungkin hanya ketika pagi saat masyarakat sedang berangkat kerja dan sebagian berangkat sekolah. Setelah itu, polisi kembali ke kantor dan melanjutkan tugas yang lain.

Lalu, mengapa bisa macet? Tentu jawabannya, karena jumlah kendaraan bermotor membludak tanpa diiringi bertambah atau melebarnya ruang jalan. Dalam bahasa transportasi, karena rasio jumlah kendaraan dan luas jalan tidak seimbang. Maka, terjadilah kemacetan.

Nah, kejadian ini hampir merata di sejumlah daerah. Di daerah saya, yakni Pare di Jawa Timur, mungkin bukan termasuk kota besar. Namun, kemacetan seringkali terjadi. Apalagi saat jam berangkat kerja atau berangkat ke sekolah. Jalanan pasti dipenuhi kendaraan roda dua dan empat yang akan mengatar penumpangnya ke tempat kerja, sekolah, mengantar anak, dan lainnya.

Karena alasan kemacetan itu, sejumlah orang turun untuk mengatur lalu lintas. Saya kurang tahu persis alasannya. Apakah karena murni prihatin? Atau ada yang mengkoordinir? Atau karena memang itu dilihat sebagai peluang sehingga sekalian diniati kerja. Entahlah, saya tidak terlalu ngurus masalah itu. Nyatanya saya sering terbantu oleh mereka dari kemacetan.

Akan tetapi, selain bisa mengurai kemacetan, kehadiran mereka kadang malah menimbulkan kemacetan, khususnya jika mereka yang tidak tegas mengatur lalu lintas. Saya pernah menjumpai orang demikian itu. Barangkali karena gugup, kendaraan yang akan nyebrang dan lurus dijalankan bersamaan. Akibatnya, hampir saja terjadi kecelakaan. Setelah saya lirik ternyata si pengatur lalu lintas ini sudah tua.

Kebetulan saya belum pernah ke luar negeri, tapi insya Allah sebentar lagi. Saya tidak bisa membandingkan apakah di luar negeri juga ada fenomena demikian. Karena tidak ada bandingannya, saya tidak bisa menilai baik dan buruknya. Tapi, meski tidak ada bandingannya, jika dilihat dari aspek keselamatan dalam berkendara tentu baik. Setidaknya keberadaan mereka bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Namun, jika dilihat dari aspek tata kota, kok kelihatan kurang rapi. Karena mesti pengendara berhenti semaunya, sambil menunggu giliran lewat, sehingga terkesan semrawut. Beda kalau ada traffic light. Namun, kalau tiap pertigaan atau perempatan diberi traffic light, betapa lamanya perjalanan. Lha terus gimana?

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.