Hidup Kita Itu Bukan Hanya Untuk Diri Dan Keluarga Sendiri

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —– Alumni putri pesantren kita Pon Pes Darul Istiqomah Bondowoso ini saat ini masih tergolong muda, karena baru satu tahun yang lalu menyelesaikan strata satunya. Dia berasal dari suatu desa di kecamatan yang terkenal dengan pantai selatannya di selatan kota Jember.

Dengan saya dia masih ada hubungan keluarga, kalau dalam silsilah keluarga saya dia terhitung cucu saya karena neneknya dari jalur ibunya masih sepupu saya, putri dari adik bapak saya yang pernah saya ceritakan memberi kejutan pada saya dengan mewakafkan tanah yang dibelinya atas anjuran saya, yaitu saat selesai surat akte jual beli tanah yang dibelinya itu dan diterimanya, secara mengejutkan langsung diberikan kepada saya, ini mas saya serahkan kepada njenengan untuk pondok, yang tanah itu sekarang ada pohon jatinya kurang lebih 1800 pohon.

Dia masuk ke pesantren kita setamat sekolah dasar sehingga dia masuk klas reguler, program lima atau enam tahun, termasuk adiknya laki-laki juga begitu yang sekarang meneruskan kuliahnya di Sidoarjo, bahkan adiknya laki laki yang ketiga saat ini juga sudah diterima menjadi santri kita tahun ajaran baru Syawwal yang akan datang setamat sltp yang ditempuhnya di pesantren tahfidz Bululawang Malang.

Prestasi akademiknya selama di pondok cukup baik termasuk akhlak dan ketaatan mengikuti aturan dan disiplin pondok juga cukup baik.

Setamat dari TMaI (setingkat sltp dan slta) Darul Istiqomah dan menyelesaikan pengabdiannya satu tahun, dia meneruskan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jember.

Setahun yang lalu dia menyelesaikan strata satunya di fakultas pendidikan bahasa Inggris.

Kira kira dua bulan yang lalu, orang tuanya datang ke rumah saya mengantarkan tetangganya yang ingin melihat lihat pesantren kita sekaligus mendaftarkan dua calon santri, satu putranya sendiri sementara yang kedua putra saudaranya yang ada di Cilacap.

Saat saya bertanya kepada bapaknya, apa kegiatan dia sekarang, beliau menjawab bahwa dia sekarang mengajar di sebuah sekolah milik pesantren di desa sebelah selatan desanya. Sebenarnya saat selesai strata satunya, saya menawarinya untuk terus meneruskan ke strata duanya atau jeda dulu mengamalkan ilmunya dengan mengajar, ternyata memilih mengajar dulu, dan saya pun setuju dengan pilihannya, bahkan saya mendorong biar pun tanpa dibayar. Tambah beliau.

Ketika saya bertanya, kapan dia menikah, apa sudah ada calonnya. Beliau menjawab bahwa sampai sekarang belum ada calonnya, sebenarnya ada yang datang meminta, tapi saya lihat tidak sama dengan kita, kita ini kan maunya menjadi orang yang bukan hanya hidup untuk diri dan keluarga kita sendiri saja, tapi ingin berbuat juga untuk orang lain, saya ingin jodohnya orang yang sama dengan kita, jadi ya tidak saya terima.

Masyaallah… Betul itu, apalah artinya kalau hidup tanpa bisa berbuat untuk sesama, kebahagiaan dan kebaikan serta kemuliaan manusia pada kemauan dan kemampuan kita untuk bermanfaat bagi sesama. Khoirunnasi anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat pada manusia. Saut saya.

Kalau itu keinginan antum untuk jodohnya, ya harus dicarikan, mencarikan jodoh anak itu tidak aib, semua anak saya, saya yang mencarikan jodohnya, tapi dengan persetujuan mereka, itulah resiko orang tua yang melarang anaknya berpacaran, dan seperti itu dilakukan oleh banyak sahabat rodiyallohu anhum untuk anak anak mereka. Tambah saya.

Saya tidak tahu perkembangan selanjutnya.

Semoga bermanfaat

Daris, 27 Romadlan 1439

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.