Waspadai Perobahan Kepribadian Setelah Nikah

MEPNews.id – “Dengan cara apa saja, menikahlah! Jika isrimu baik, kau akan bahagia. Jika istrimu jahat, kau akan jadi filsuf,” begitu dinasihatkan filsuf Sokrates sekian abad lalu. Nasihat itu menyiratkan takdir besar; perubahan hidup setelah menikah!

Paul Ratner, menulis untuk BigThink edisi 10 Juni 2018, menggambarkan pernikahan bisa menjadi kemitraan indah seumur hidup antara dua orang yang bisa berbagi pengalaman, menghasilkan kesehatan lebih baik, keturunan, dan –puncaknya– kebahagiaan. Namun, pernikahan juga bisa berantakan, mengarah ke perceraian, trauma seumur hidup bahkan pada anak-anak, serta kesepian, dan kesedihan.

Maka, dikatakan Ratner, menikah setidaknya membutuhkan kerjasama dan pemahaman tentang pasang-surutnya hubungan. Menurut riset para peneliti dari University of Georgia dan University of California di Amerika Serikat, untuk mencapai kepuasan pernikahan juga dibutuhkan pemahaman tentang bagaimana perubahan kepribadian pasangan seiring berjalannya waktu.

Studi oleh Justin A. Lavner, Brandon Weiss, dan Joshua D. Miller dari University of Georgia serta Benjamin R. Karney dari University of California Los Angeles yang diterbitkan di Developmental Psychology ini menemukan, perubahan kepribadian dimulai sejak permulaan pernikahan ketika pasangan sedang menyesuaikan diri dengan peran baru mereka. Perbedaan paling signifikan terjadi saat merasakan pasangannya kurang menyenangkan.

Mempelajari 169 pasangan heteroseksual yang baru menikah 18 bulan, para peneliti mengidentifikasi beberapa perubahan yang jelas dan terukur. Suami menjadi lebih berhati-hati. Istri menjadi kurang cemas dan depresi, yang menunjukkan berkurangnya neurotisisme. Bagi suami, perubahan itu karena mereka bekerja lebih keras dan berusaha menjadi lebih bertanggung jawab. Sementara, istri makin nyaman dan kurang rentan terhadap gampangnya perubahan emosi karena merasa lebih aman dengan hubungan keterikatan yang stabil.

Di sisi lain, suami bisa saja menjadi pria yang kurang ekstrovert di depan umum, karena menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Selain itu, suami dan istri bisa sama-sama menjadi kurang sabar terhadap satu sama lain dan mengalami lebih sering ketidak-setujuan. Ada satu penjelasan untuk kondisi ini; sesaat setelah masa ‘bulan madu’ berakhir, maka kebiasaan lama bisa saja kembali muncul.

Ratner mengutip teori ‘tahapan pernikahan’ dari Harville Hendrix sang guru hubungan personal dalam buku Getting the Love You Want. Tahap pertama; Cinta Romantis, tatkala masing-masing pasangan membawa hal-hal yang terbaik satu sama lain. Berikutnya, periode paling mengesankan yakni Perjuangan. Pada masa ini, seperti digambarkan David Woodfellow PhD ahli terapi pasangan, masa-masa sulit saat hidup jadi lebih mengkhawatirkan dan pasangan jadi tampak memburuk satu sama lain. Nah, tujuan dari pernikahan yang baik adalah untuk berjuang melewati tahap kedua yang tak terelakkan itu menuju tahap ketiga, yakni Cinta Sejati.

Sekadar info, usia rata-rata pernikahan yang berakhir dengan perceraian di Amerika Serikat adalah delapan tahun. Berdasarkan ini, tim peneliti dari University of Georgia dan University of California mencari tahu bagaimana menangani perubahan kepribadian agar orang tidak terperosok dalam jurang Perjuangan sehingga bisa mendapatkan arah menuju mempertahankan pernikahan.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.