Motivasi dan Kemauan

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Setiap orang tentu memiliki alasan-alasan untuk melakukan setiap tindakannya. Demikian juga saya. Alasan-alasan itu mendorong setiap orang melakukan aktivitas. Baik dorongan dari dalam diri (intrinsik), maupun dari luar dirinya (ekstrinsik). Dua jenis motivasi ini selalu melatarbelakangi tindakan apa saja yang dilakukan setiap orang. Kalau tidak dorongan intrinsik, ya ekstrinsik.

Ada yang mengatakan yang intrinsik itu berasal dari ekstrinsik. Alasannya, setiap pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari luar dirinya. Baru kemudian diproses oleh diri, kemudian muncul produk baru yang berbeda. Bisa dalam bentuk pemikiran, tindakan, sikap dan lainnya. Saya tidak membahas asal-usul itu, tapi bagaimana penerapannya.

Jika dikategorikan dalam intrinsik dan ekstrinsik, nampaknya saya masuk kategori orang yang termotivasi oleh dorongan ekstrinsik. Mengapa demikian? Karena saya merasa banyak aktivitas yang saya lakukan didorong oleh faktor eksternal. Atau, minimal diawali oleh dorongan eksternal. Saya khawatir, jangan-jangan hampir semua orang juga demikian. Hanya Allah dan mereka masing-masing yang tahu.

Benar, aktivitas saya banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Ada beberapa aktivitas saya yang jelas-jelas mendapat dorongan dari luar. Aktivitas itu saya lakukan karena mendapat energi yang luar biasa salah seorang yang menurut subyektifitas saya memiliki kemampuan di bawah saya tapi dia lebih bisa daripada saya. Atau, setidaknya, ia lebih dahulu melakukan aktivitas tersebut dibanding saya.

Dengan alasan itu, saya menjadi terpacu untuk melakukan aktivitas yang sama tapi dengan kualitas lebih baik. Tentu saja, otomatis akan muncul semacam kompetisi antara saya dan ia. Namun, dalam tanda kutip, itu kompetisi yang sehat, yang tidak diketahui orang lain, kecuali diri saya sendiri. Cara itu ternyata efektif untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri saya. Ukuran efektif tersebut setidaknya saya nilai sendiri, yaitu adanya perubahan signifikan dalam diri saya dibanding masa-masa sebelumnya.

Karena melihat cara tersebut begitu efektif, akhirnya saya sering menerapkannya pada aktivitas-aktivitas saya yang lain. Dalam mempraktikkan cara ini, tidak perlu menggunakan teori yang muluk-muluk. Sederhana saja. Pertama, cari orang yang lebih dulu melakukan aktivitas tersebut. Kemudian, dalam diam, kita ajak bersaing dia. Karena dalam diam, hasilnya kalah atau menang hanya saya yang tahu. Tapi, sebaliknya, itu jangan dijadikan dalih untuk tidak maju dan berkembang –karena berarti berkhianat pada diri sendiri.

Orang-orang bijak mengatakan, “Sering-seringlah berdialog dengan diri sendiri, karena cara itu bisa digunakan untuk mendekati diri sendiri.” Awas! Hanya dibatin, tidak perlu disuarakan, apalagi diteriakkan. Nanti, disangka otaknya sedang miring.

Tapi, lhoh kok diri sendiri didekati? Bukannya sudah sangat dekat? Tentu, apakah dekat atau tidak, yang tahu jawabannya adalah diri sendiri. Sudah mengenali diri sendiri apa belum? Jangan-jangan diri kita adalah cerminan lingkungan kita. Diri kita adalah foto kopi teman-teman kita. Artinya semua informasi yang masuk dalam diri kita tidak pernah diproses untuk menghasilkan produk baru. Atau dalam bahasa yang lain namanya manut grubyuk –asal mengikuti arus, tanpa ada sikap kritis.

Sesungguhnya, yang bisa merasakan sejauh mana potensi yang kita miliki adalah kita sendiri. Mungkin orang lain bisa, tapi yang paling tahu ya tetap diri kita sendiri. Hanya, kita kadang sulit merasakannya karena kita kurang dekat dengan diri kita sendiri.

Saya sering mereview apa saja yang pernah saya lakukan, dan sejauh mana keberhasilan yang pernah saya capai. Mirip analisis SWO –lah. Ini metode perencanaan strategis yang digunakan dalam ilmu manajemen untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats). Dengan melakukan evaluasi tersebut, saya sangat terbantu untuk melakukan perbaikan-perbaikan aktivitas saya di kemudian harinya.

Jadi, motivasi ekstrinsik bagi saya masih mendominasi, atau setidaknya menjadi modal bagi saya untuk memunculkan motivasi intrinsik. Saya tidak tahu betul indikasi yang muncul apakah karena motivasi intrinsik atau bukan. Yang jelas, jika berpatokan pada ciri-ciri motivasi instrinsik yang banyak diungkap oleh teori, yaitu senang, tertarik untuk mendalami, bersemangat, ulet dan tekun, maka akhirnya saya jadi tahu.

Dari sekian uraian di atas, menurut saya segalanya harus kembali pada diri sendiri. Sekuat apa pun dorongan dari luar, jika dalam diri tidak ada kemauan, maka tidak akan muncul gerakan atau aktivitas. Tapi, repot juga, jika ditanya bagaimana cara untuk memunculkan kemauan. Nah, lho. Jadi bingung kan?

Rasanya, ada kesamaan antara motivasi dan kemauan dengan telur dan ayam jika pertanyannya adalah duluan yang mana. Entahlah. Kok jadi makin mbulet. Hehehe. Tapi, ada satu catatan. Pahami diri Anda sendiri lebih dulu!

Wallahu a’lam.

Facebook Comments

POST A COMMENT.