Bahaya Kekuasaan Absolut

Oleh: Dr. Djuwari, M.Hum.

MEPNews.id —- “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men,”

Kutipan di atas itu dari Lord Acton. Peringatan oleh politisi asal Inggris abad 19 itu masih terkenang di benak kita semua. Di mana ada kekuasaan ansolut, di situ terdapat banyak kebijakan yang tersembunyi. Itu sebabnya, kekuasaan absolut di negara mana pun senantiasa berakhir dengan kehancuran. Kalau semua dibungkam, tidak ada informasi seimbang terhadap kebijakan publik. Hidupkanlah media atau koran sesuai dengan undang-undangnya yang mengatur.

Dalam kajian para ilmuan ekonomi saat ini, kita kenal bahasa information asymmetry. Ini bisa terjadi antara perusahaan dengan stakeholder yang lain, termasuk pelanggan atau klien. Kebijakan perusahaan yang berpengaruh pada semua stakeholders hanya diketahui oleh pemegang kepemimpinan saja. Akhirnya, stakeholder yang lain dirugikan.

Contoh nyata dalam skandal Enron, perusahaan raksasa Amerika itu hancur pada 2001. Banyak kebijakan finansial kala itu disembunyikan. Hanya diketahui oleh para eksekutif puncak (CEO), dengan kebijakan strategisnya. Namun, akhirnya, banyaknya kebijakan tersembunyi itu mengakibatkan perusahaan itu hancur. Para eksekutifnya banyak terseret ke penjara. Lebih dari itu, para kliennya skarat. Itulah dunia mencatat tragedi ketertutupan dalam semua kebijakan.

Dalam tataran negara, kebijakan publik itu perlu diketahui. Information asymmetry itu berbahaya. Itu sebabnya, keseimbangan dalam kekuasan sangat diperlukan. Media atau koran perlu dihidupkan. Jika publik tidak mendapatkan informasi seimbang, itu pertanda munculnya kekuasaan absolut. Tragedi akibat kekuasaan absolut itu bersifat dahsyat. Maka, kita semua sadar perlunya keseimbangan informasi antara pengambil kebijakan dan publik.

Jika kita sadari itu semua, maka hindari kekuasaan absolut. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sudah mengalami itu semua selama 32 tahun. Selama itu, kita terbungkam. Selama itu, rakyat terbelenggu. Tidak bisa berbicara. Tidak bisa memberi masukan. Tidak bisa berkontribusi. Akhirnya, pada Mei 1998, tragedi itu terjadi. Banyak terungkap namun, namanya kondisi yang parah itu, kita baru melangkah setapak demi setapak. Mari kita bangun negeri dengan kebaikan.

Maka bersedihlah jika ada intimidasi pada kehidupan pers. Baru-baru ini, tepatnya pada 10 Juni 2018, EIN World News, melansir temuan biaya pemerintah tinggi ketika banyak media/ koran lokal tutup. Temuan sebuah survei oleh Notre Dame’s Mendoza College of Business, baru-baru ini. Dinyatakan, efisiensi biaya negara semakin turun ketika banyak koran lokal tutup. Artinya, biaya operasional tinggi.

Adanya koran-koran lokal, berarti adanya pengawasan di mana-mana. Sebaliknya, ketika koran-koran lokal itu tutup, biaya operasional pemerintahan naik tajam. Dengan kata lain, tidak adanya pengawasan dari publik, berakibat biaya operasional pemerintahan semakin tinggi (EIN Word News 10/6). Pengalaman- pengalaman seperti ini perlu dijadikan pegangan bagi siapa saja. Itu dijaga baik di tingkat mikro di pemerintahan daerah maupun makro pemerintahan nasional.

Bahaya information asymmetry itu memang jahat. Akibat ketertutupan itu mengerikan. Itu sebabnya, perlu adanya keseimbangan antara pengambil kebijakan dan publik. Rakyat perlu tahu kebijakan yang mencakup hidup orang banyak. Ini perlu untuk menghindari adanya kekuasaan absolut. Percayalah, itu demi kebaikan bersama.

Keseimbangan informasi sangat diperlukan. Dengan adanya check and balance, kebhidupan bernegara dan berbangsa itu semakin baik. Sebaliknya, jika semua penuh ketertutupan, akibatnya sangat buruk. Tragedi yang diakibatkan oleh infomration asymmetry itu mengerikan. Itu sebabnya, rumusnya sudah jelas bahwa absolut power itu berbahaya.

Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), osen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.