Husnuddzon Saja Namun Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono

Oleh Masruri Abd Muhit

MEPNews.id —- Banyak teman teman dan tamu tamu saya menanyakan pendapat dan sikap saya menghadapi
beberapa sikap dan gerakan serta pernyataan beberapa tokoh Nahdlatul Ulama, terutama ketua umum pengurus besarnya (Dr Kh Said Agil Siroj MA) dan badan otonomnya terutama gerakan pemuda Ansor dan Banser yang cukup kontroversial dan membingungkan umat pada dekade akhir ini.

Sikap, gerakan dan pernyataan mereka terlihat begitu sinis dan tidak senang pada gerakan pembelaan dan perjuangan umat islam yang dilakukan oleh selain kelompok mereka semacam kelompok salafi, hizbuttahrir, front pembela islam, alumni 212 dll, dengan pernyataan bahwa jenggot lambang dan sebab ketololanlah, atau orang tidak akan bisa kembali kepada qur’an hadis lah dan itu suatu ketololanlah, wahabi lah, trans nasional lah, meminta pemerintah untuk membubarkan hti atau fpi lah dan lain lain yang semuanya kelihatan mengungkapkan kebencian dan kesinisan serta ketidaksetujuan pada gerakan dan upaya pembelaan dan perjuangan umat, seakan mereka lebih memihak membela pihak lain.

Teman teman dan tamu tamu saya itu merasa aneh dan heran terhadap sikap, gerakan dan pernyataan mereka yang kontroversial itu, bagaimana mereka bisa sesinis dan sebenci itu, bukankah itu perjuangan dan usaha saudara saudara seiman dan seislam. Teman teman dan tamu tamu saya itu merasa bahwa sikap, gerakan dan pernyataan sinis dan membenci mereka itu tidak seharusnya dilakukan oleh mereka yang menjadi dan mengaku sebagai tokoh tokoh yang memperjuangkan dan membela ummat, mestinya mereka itu mendukung, bukan sebaliknya malah sinis dan membenci, minimal mestinya kalaupun tidak setuju cukuplah diam, atau bisa melakukan pendekatan secara persuasif tidak perlu berkoar atau mengumbar kebencian.

Menanggapi dan menjawab pertanyaan teman teman dan tamu tamu saya yang cukup emosional itu, saya mengatakan kepada mereka, sikap dan simpati serta dukungan antum semua pada usaha dan gerakan perjuangan melakukan pembelaan ummat dan perlawanan terhadap kedzaliman dan ketidakadilan serta kesewenang-wenangan itu sudah benar dan baik, sementara terhadap mereka yang berseberangan dan mungkin kelihatan sinis dan benci, sebaiknya diambil hikmahnya saja, anggap saja itu sebagai tantangan dan pupuk untuk semakin membuat semangat dan subur perjuangan, selain harus berhusnuddzon pada sikap, gerakan dan pernyataan pernyataan tokoh tokoh itu, mungkin mereka membela dan memihak serta bergabung dengan mereka yang berseberangan itu untuk meredam dan membendung kebrutalan dari dalam, toh nanti saat sudah merasa tidak mampu meredam dan membendung akan kembali bergabung dalam melakukan pembelaan terhadap ummat dan perlawanan terhadap kedzaliman dan ketidakadilan serta kesewenang-wenangan.

Jadi sekali lagi husnuddzon dan ambil hikmahnya saja, insyaallah mereka nanti akan sadar dan kembali ketika ternyata memang tidak bisa diredam dan dibendung dari dalam.

Dulu pada zaman Orde Lama, zaman Sukarno, pada dekade sembilan belas enam puluhan, pada saat Sukarno membrangus partai Masyumi dan mencetuskan gerakan nasakom, gerakan nasionalis dan agama serta komunis, yang justru bergabung mewakili kalangan agama adalah dari kalangan Nahdlatul Ulama, dengan tujuan untuk bisa berpartisipasi dan berbuat dari dalam, namun saat komunis sudah tidak dapat diredam dan dibendung, NU berbalik ikut dalam penumpasan gerakan tiga puluh september (g30s) pki yang saat itu dipelopori oleh Suharto.

Jadi sekali lagi, teruskan usaha dan gerakan perjuangan melakukan pembelaan ummat dan perlawanan terhadap kedzaliman dan ketidakadilan serta kesewenang-wenangan, dan husnuddzon kepada mereka yang berseberangan yang kelihatannya memihak kepada lawan dengan tujuan baik.

Namun menurut saya sebaiknya mereka jangan terlalulah mengumbar ketidaksenanangan atau kesinisan itu, janganlah terlalu fulgar, banyak yang tidak senang dan salah faham, justru itu akan berakibat ketidakbaikan dan perpecahan. Pesan dan saran saya jangan terlalu lama sehingga kemudian malah bukan meredam dan membangun tapi menjadi larut dan menjadi bagian dari kedzaliman, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan itu sendiri. Ngono yo ngono ning ojo ngono.

Mungkin ada baiknya kita semak reaksi dan pernyataan orang yang sangat dekat dengan saya yang dulu aktivis Nahdlatul Ulama bahkan sampai sekarang juga masih Nahdlatul Ulama saat mendengar keterangan dan pendapat saya di atas.

Masyaallah ternyata ini to, kenapa dulu pak Harto tidak ada baik baiknya pada NU. Tutur dan pernyataannya.

Semoga pandangan saya ini benar dan bermanfaat serta berkah.

Daris, 26 Romadlan 1439

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.