Seorang Advokat Kurus Berkacamata

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —–Selapar apakah puasa kita hari ini? Marahkah kita jika memasuki minggu-minggu akhir puasa kita menyaksikan beberapa orang dari kaum Muslimin sendiri nyata-nyata makan minum ngopi nikmat tak berpuasa di sekeliling kita? Apakah mereka segera kita tuduh manusia tak bermoral dan tak berperasaan yang tega begitu saja makan minum di hadapan saudara-saudaranya sendiri yang lapar dan haus dalam berpuasa?

Atau justru mereka berjasa besar menguji dan meningkatkan kualitas puasa kita? Toh habis Maghrib kita makan minum pula. Puasa cap apa kalau tak ada tantangan? Emosi kita jadi stabil dan normal-normal saja tanpa terganggu sedikitpun. Apakah ini yang dimaksud saling menghormati perbedaan? Lain waktu mungkinkah mereka juga perlu menghormati orang yang berpuasa tapi tetap menyebarkan kabar hoax, fitnah, adu domba dan pecah belah yang menyebabkan utara tak bisa bertemu selatan, jasmani tak bisa bertemu ruhani, langit tak bisa bertemu dengan bumi, syariat tak bisa bertemu hakikat?

Ah, tak perlu didramatisir seseram itu. Yang tak berpuasa ya tak berpuasa. Belum tentu pribadi yang jahat. Yang puasa ya berpuasa. Tak perlu keburu dihantam: buat apa berpuasa tapi kalau masih suka marah dan fitnah? Apa perlu kita membatalkan puasa dan keluar dari Islam sebentar saja hanya karena kita marah sesaat dan gagal menebar senyum perdamaian? Lupakah kita bahwa kita ini benar-benar makhluk ciptaan Tuhan yang lemah, yang hanya mampu hidup dan berbuat ini itu berkat kasih sayang, ampunan, serta perkenanNya?

Dari sebuah Sinau Bareng beberapa tahun yang lalu, seorang Mbah menuturkan: Tuhan butuh aqidahmu, masyarakat butuh akhlakmu. Mengenai penebar fitnah dan hoax memang harus ditindak secara hukum dan tak bisa dibiarkan dengan dalih menghormati perbedaan seperti perbedaan puasa tak puasa dengan fitnah tak fitnah. Jika orang tak mencuri lalu dikabarkan mencuri lantas hukum diam saja tatkala dilapori, maka gawatlah kehidupan. Meskipun hukum, menurut sang Mbah, bukanlah segala-galanya. Diatas hukum ada akhlak.

Orang kelaparan di jalan dan kita biarkan begitu saja tanpa menolongnya, hukum tak menampar dan memenjarakan kita. Akan tetapi moral atau akhlak sangat mencela dan mensadiskan kita. Maka beruntunglah jika kita termasuk orang yang mematuhi hukum juga sekaligus mematuhi anjuran moral atau akhlak.

Suatu hari seorang advokat yang kurus dan memakai kacamata usai buka bersama puasa mencurigai seseorang yang sepertinya belum berbuka puasa karena dilihatnya tak ada menu untuk dia dalam berbuka. Si advokat hafal dan menanyai. Dan yang ditanyai njawabnya mbulet ngalor ngidul karena baginya tak apalah berbuka cukup dengan minum es lantas “berpuasa” lagi setengah jam berbasa-basi ngobrol sebentar dan lantas pulang.

Rupanya si advokat ini tak tega hati. Langsung dipesankan menu di di warung sebelah. Dan untuk menghormati si advokat dia pun masuk warung dan dilarang membayar. “Pak Advokat yang satu ini sungguh penguji moral. Kalau penguji puasa sih gampang diatasi dan ditandingi. Tapi kepada penguji moral, sanggupkah kita menandingi?” Pikirnya dalam warung. Sebuah pemikiran yang mungkin keliru karena mentang-mentang dimasukkan warung. Tapi dengan pura-pura bego semacam itu, tak jarang sebuah pemikiran kadang-kadang terasa begitu menghantam. Sial. (Banyuwangi, 10 Juni 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.