Komunikasi Verbal dan Pembunuhan Karakter

Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum

Dua minggu lalu, saya menulis opini di sebuah koran di Filipina. Isinya terkait komentar politik dan rusaknya pertemanan. Dalam artikel itu, saya jelaskan tentang susahnya komentar jika di media sosial (medsos) yang heterogin. Jika beda pandangan politik, bisa saja teman dekat berbeda pula. Komentarnya bisa positif bisa negatif.
Jika pertemanan itu sudah baik dalam kehidupan sehari-hari, maka pertemanan bisa putus (broken). Ini terjadi ketika komentar di medsos beda. Misalnya, ada figur politik atau pemimpin di posting dan dikomen. Komen satusnya, bisa baik dan mendukung. Komen lainya, bisa berontak dan kontra. Saling ejek dan hina. Akhirnya, pertemanan bisa rusak.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada medsos facebook dan WhatsApp (WA). Kita menyaksikan bepata sengitnya akhir-akhir ini. Pengguna medso yang pro dan kontra saling menyampaikan komentar. Komunikasi verbal dalam bentuk bahasa tulis itu sangat vital. Mudah dibaca dan mudah dihafal.
Namun, setelah diamati, ada sedikit perbedaan antara teman di Filipina dan di Indonesia. Ini khusus teman seprofesi. Gabungan teman-teman saya di luar negeri banyak terkait dengan profesi peneliti. Di samping itu, teman-teman saya di luar negeri juga ada yang dosen dan guru. Mereka juga peneliti dan penulis. Banyak juga mereka itu sama-sama editor jurnal ilmiah. Namun, saya juga punya banyak teman wartawan di luar negri, khususnya di Filipina.
Dari pertemanan itu, banyak yang peneliti dan dosen serta guru. Dari pertemanan itu, juga ada khusus editor jurnal ilmiah internasional. Bahwa, mereka tidak satu pun posting komentar bernuansa politis. Saya pun tidak pernah mendapatkan status mereka bernuansa pilitis. Saya juga heran. Kecuali teman wartawan dan teman yang bekerja selain guru dan dosen.
Contoh ada sebuah tragedi baru-baru ini di Filipina. Minggu lalu, banyak posting viral terkait presiden mereka yang mencium seorang pekerja wanita Filipina di Korea. Ciumannya sangat menggetarkan. Ciuman bibir dan bibir. Banyak komentar, namun tak satu pun di antara mereka itu dari teman saya yang seprofesi. Komentar negatif mereka berasal dari para teman yang bukan guru dan dosen, bukan juga penelliti dan editor jurnal ilmiah.
Saya mencoba komentar lewat messenger (pesan) di facebook mereka. Tanggapan mereka memang sama dengan yang ada di medsos viral itu. Mereka berpendapat kalau itu (tidakan presiden cium pekerja wanita di luar negri) memang tidak layak. Bahkan, mereka benci dengan adegan ciuman itu. Namun, mereka tidak memberikan komentar di public setting status mereka. Intinya, mereka lebih banyak berbisik-bisik lewat messenger.
Bisa saja ini hal positif. Dalam filsafat Jawa, ini berarti mereka berusaha Ngangkat Nduwur, Mendem Njero. Menampakkan kebaikan ketokohan pemimpin mereka tetapi merahasiakan kejelekannya. Intinya, komunikasi verbal mereka lebih banyak pada sembunyi-sembunyi. Dalam medsos, mereka dan pendapat keburukannya disampaikan secara rahasia dan viral tanpa diketahui publik. Ini sekali lagi bisa positif.
Namun, dalam teori pemasaran, ada bahayanya juga. Kita mengenal istilah Word of Mouth (WOM). Viralnya sebuah citra produk, atau citra diri, bisa membentuk opini yang berbahaya. Jika, produk perusahaan, atau citra diri seseorang diviralkan melalui WOM, justru berakibat buruk. Ini karena tidak bisa diketahui sejauh mana strategi mendongkrak volume penjualan produk (jika itu produk). Jika citra diri, maka bisa saja citra negatif ini menggelembung dan membunuh karakter tanpa diketahui. Jika terjadi pada citra produk, bisa saja produk itu tidak laku dan akhirnya, perusahaan bangkrut. Jika itu citra diri, maka akan terjadi character assassination.
Intinya, dua fenomena di atas ada positifnya, tetapi juga ada negatifnya. Mendem njero ngangkat ndhuwur itu positif, namun, tidak diketahuinya citra buruk yang sudah viral secara diam-diam juga bisa membunuh karakter tanpa strategi pemulihan citra diri itu sendiri. ***

Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.