Menyayangi Diri Sendiri, Why Not?

esti 40Oleh: Esti D. Purwitasari

MEPNews.id – Istilah di atas sering terlempar dalam percakapan normal sehari-hari. “Kamu, sih! Harusnya kamu lebih menyayangi diri sendiri.” Atau, “It’s ‘me-time’. Waktu untuk menyayangi diri sendiri.” Atau, “Jika kau lebih menyayangi dirimu sendiri, mungkin masalah ini tidak akan terjadi padamu.” Bahkan, ada nasihat, “Kau tidak akan bisa menyayangi orang lain sampai kau menyayangi dirimu sendiri lebih dahulu.”

Tapi, apa sih yang dimaksud dengan ‘menyayangi diri sendiri’ itu? Cicero, politisi Romawi era 60 SM, menyebut orang yang sui amantes sine rivali (menyayangi diri tiada tara) bakal terkutuk di akhir hayat. Pada abad ke-16, istilah ‘self-love’ dibahas para filsuf lewat berbagai pendekatan pemikiran. Pada 1956, psikolog dan filsuf sosial Erich Fromm menyatakan ‘menyayangi diri sendiri’ itu berbeda dengan sombong atau egosentrik tapi lebih mengarah ke ‘peduli dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri.’

Belakangan ini, istilah ‘menyayangi diri sendiri’ cenderung ke pemenuhan hidup yang lebih baik. Aktualisasinya bisa memengaruhi orang misalnya dalam menentukan pasangan, memproyeksikan tempat kerja, hingga mengatasi masalah hidup.  Tapi, ‘sayang pada diri sendiri’ tidak selalu dengan makeover kecantikan atau pakaian. Bukan pula menjadi narsis atau mementingkan diri sendiri. Ini lebih ke kondisi penghargaan pada diri sendiri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual, yang yang mematangkan kita.

Nah, bagaimana bisa menjadi lebih sayang pada diri sendiri? Berikut ini beberapa dasar yang mungkin bisa dipakai pijakan;

  • Sadar diri. Anda akan lebih sayang pada diri sendiri jika tahu apa yang Anda pikirkan, rasakan dan inginkan. Sadar siapa diri Anda, serta bertindak berdasarkan pengetahuan diri dan bukan sekadar berdasarkan pada apa yang orang lain inginkan terhadap Anda.
  • Bertindak atas apa yang dibutuhkan dan bukannya yang diinginkan. Anda lebih bisa menyayangi diri sendiri ketika bisa berpaling dari keinginan yang terasa menyenangkan dan menggairahkan. Anda bisa terlena atau kecewa, bahkan terbawa ke dalam masalah, sehingga membuat Anda terjebak dan mengurangi cinta diri. Maka, lebih fokuslah pada apa yang Anda butuhkan agar tetap kuat, fokus, dan bergerak maju dalam hidup.
  • Peduli diri. Anda lebih menyayangi diri sendiri ketika lebih memperhatikan kebutuhan dasar Anda. Setiap hari Anda melakukan kegiatan yang sehat, nutrisi yang sehat, olahraga, tidur nyenyak, dan interaksi sosial yang sehat. Jangan abai sehingga cenderung menyakiti diri sendiri.
  • Tetapkan batas. Anda lebih mencintai diri sendiri ketika bisa menetapkan batas atau berani mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu dari pihak luar yang bisa menyakiti Anda secara fisik, emosional dan spiritual.
  • Lindungi diri. Tidak semua orang yang berhubungan dengan Anda itu baik atau berniat baik. Ada istilah frenemies yang merujuk pada kata friends tapi enemies. Tampaknya teman, tapi ternyata musuh yang lebih menikmati penderitaan Anda daripada kebahagiaan Anda. Maka, singkirkan mereka! Bawa hanya orang yang tepat ke dalam hidup Anda.
  • Memaafkan diri. Manusia kadang begitu keras pada diri sendiri. Kelemahan dari bertanggung jawab atas tindakan kita adalah menghukum diri terlalu berlebihan karena suatu kesalahan. Itu baik untuk disiplin diri dan sosial. Tapi, Anda juga harus menerima sisi manusia yang tidak sempurna dan bisa salah. Mintalah maaf pada Tuhan, mintalah maaf pada pihak-pihak yang terdampak, lalu maafkan diri sendiri. Kesalahan atau kegagalan itu normal dalam hidup. Yang lebih penting, Anda telah belajar dari kesalahan atau kegagalan itu.
  • Jalani hidup demi tujuan ideal. Anda akan lebih bisa menerima dan menyayangi diri sendiri, tak peduli apa pun yang terjadi dalam hidup, ketika Anda menjalani hidup berdasarkan tujuan. Misalnya, jika tujuan Anda adalah hidup sehat, maka Anda akan membuat berbagai keputusan dan tindakan yang mendukung niat sehat ini. Anda akan merasa baik tentang diri ketika Anda benar-benar sehat. Nah, apa pun tujuan ideal hidup Anda, segera tetapkan dan mulai lakukan.

Jalani beberapa pijakan dasar di atas, dan semoga Anda mulai merasakan sayang pada diri Anda sendiri dengan tetap peduli pada orang-orang di sekitar dan jagad lebih luas di luar sana.

 

Penulis adalah guru di Surabaya Grammar School

Facebook Comments

POST A COMMENT.