Menjadikan Hidup Bersama Lailatul Qodar

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Menjelang 10 hari terakhir pelaksanaan ibadah puasa selalu diwarnai dengan perbincangan tentang malam lailatul qodar, malam yang disebut sebagai malam kebaikan yang bernilai 1000 bulan. Begitulah Allah menjelaskan dalam Al Qur’an tentang malam kebaikan 1000 bulan tersebut. Malam dimana malaikat turun
Untuk memberikan pelayanan tentang apa saja perbuatan yang dikerjakan pada malam itu agar bernilai sama dengan perbuatan yang dilakukan dalam kurun waktu 1000 bulan.

Al Qur’an adalah kitab petunjuk bagi manusia, sebagai petunjuk tentu Al Qur’an menjadi kitab yang harus mudah dipahami oleh manusia. Oleh karenanya ketika Allah harus menjelaskan tentang informasi langit kepada manusia, maka bahasa bahasa dan pilihan kata yang mudah dipahami oleh manusia dipilih menjadi sebuah rangkaian kalimat. Misalkan ketika Allah menjelaskan kepada manusia tentang surga, Allah menjelaskan dengan sebuah ilustrasi seperti sebuah tempat dimana disana ada air yang mengalir lalu ada bidadari yang digambarkan sebagai personifikasi perempuan yang elok dan hal lain yang bisa dipahami, sehingga mendorong imajinasi manusia untuk membayangkan agar termotivasi untuk menggapainya. Apakah surga seperti itu, tentu lebih dahsyat dari apa yang digambarkan, karena surga itu sebuah keindahan yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia saat ini.

Nah dalam kaitan rangkaian ibadah puasa, tentu apa yang dilakukan oleh manusia dibutuhkan sebuah penghargaan. Karena pada dasarnya ” penghargaan ” merupakan salah satu kebutuhan manusia. Didalam ” penghargaan ” tentu diharapkan manusia akan merancang ruang untuk beraktualisasi. Artinya bahwa sebuah penghargaan akan didapatkan tidak begitu saja diberikan, tetapi melalui sebuah proses panjang yang dilakukan sehingga bisa mendapatkan penghargaan. Ada proses sebab akibat yang mesti dilalui.

Puasa sebagai ibadah yang dilakukan pada bulan Rhomadon, sejatinya merupakan pengingat bagi kita semua, apakah proses ketaqwaan yang kita lakukan sudah benar benar kita jaga selama kurun waktu 11 bulan sebelumnya, ataukah proses menuju ketaqwaan dalam waktu 11 bulan sebelumnya sudah benar kita lakukan. Sebagaimana pelaksanaan puasa puasa yang dilakukan oleh non muslim, puasa bermakna sebuah wujud aktualisasi hasil dari sebuah proses panjang 11 bulan yang kita lewati. Kalau 11 bulan yang kita lewati menunjukkan indikasi jalan yang sudah benar, maka potret pelaksanaan ritual selama Rhamadan akan terlihat dengan baik.

Puasa Bermakna Menahan Diri

Puasa dalam pemaknaan kemampuan menahan diri merupakan potret laku kita sebelumnya selama 11 bulan. Sebagai contoh kalau selama 11 bulan diluar Rhomadon, laku kita diwarnai dengan kemampuan menahan diri dari perilaku konsumtif, maka ibadah romadhon kita tentu akan menjadi potret kemampuan diri menahan diri dari perilakuk konsumtif. Apakah itu terjadi? Tidak semua bisa melakukan, justru dalam data statistik, inflasi dibulan menjelang pelaksanaan hari besar keagamaan, inflasi meningkat. Apa ini artinya? Proses keagamaan kita yang sehatusnya hemat, tapi terkadang dalam. Implementasinya jauh dari nilai nilai hemat tersebut. Kalau sudah begitu, apakah julukan taqwa layak kita sandang?

Sikap hemat dalam berkehidupan adalah membelanjakan sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki. Sikap memaksakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan adalah wujud dari perilaku berlebih lebihan, sehingga akan menjauhkan kita dari perilaku yang disebut taqwa. Perilaku taat terhadap sesuatu yang berdimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Nah itulah yang disebut dengan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Bukankah saat ini sering terjadi perilaku berlebihan dan memaksakan diri yang dilakukan oleh negara? Jangan jangan perilaku inilah yang kemudian menjadikan bangsa ini tidak banyak rasa damai, sering terjadi kegaduhan. Begitu juga kalau terjadi kegaduhan dimasyarakat, di kelompok masyarakat, bisa jadi karena disebabkan ketakmampuan kita menahan diri dari sikap berlebih , berlebih dalam berasumsi, berlebih dalam kebodohan, berlebih dalam kebohongan dan berlebih dalam mengkonsumsi informasi sampah dan menebar fitnah.

Malam 1000 Bulan

Malam 1000 bulan adalah malam peneguh sebuah komitmen keberhasilan manusia merangkai 11 bulannya, sehingga Allah perlu menyematkan penghargaan dimalam itu. Apa bentuk penghargaan Allah kepada manusia tentang kebaikan 1000 bulan itu? Tentu saja penyematan manusia Taqwa. Nah Nabi menggambarkan manusia taqwa itu adalah manusia yang bisa bermanfaat bagi manusia yang lainnya. ” sebaik baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya “.

Apa itu kemanfaatan? Kemanfaatan adalah suatu keadaan ketika orang lain bisa merasakan sesuatu dari kita yang berisi kebaikan kebaikan. Nah apakah selama 11 bulan diri kita sudah kita hiasi dengan kebaikan kebaikan yang bermanfaat? Jawabannya ada pada kita masing masing.

Semoga saja puasa kita di bulan Romadhon menjadi peneguh kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, dijauhkan dari berlebihan dalam bersikap, dalam menggunakan harta serta dijauhkan dari membicarakan orang lain yang berlebihan dalam fitnah dan prasangka. Aamien.

Assalamualaikum wr wb… Selamat pagi selamat beraktifitas dan berbagi manfaat dan kebaikan. Semoga Allah memberkahi kita, aamien.

Surabaya, 9 Juni 2018

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan, Anggota Dewan Pendidikan Jatim dan Staf Pengajar ilmu komunikasi Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.