Malu Berbuat Kebaikan

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Malu merupakan wasiat para nabi terdahulu. Dalam Islam, malu memiliki ruang bahasan tersendiri. Dalam berbagai referensi, ada beberapa kalimat yang menyatakan keutamaan dan pentingnya malu. Misalnya, “Barang siapa banyak rasa malunya, banyak pula kebaikan dan manfaatnya. Barang siapa sedikit rasa malunya, sedikit pula kebaikannya.” Ada pula, “Buah dari malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa’ (setia).” Dan, “Malu adalah cabang dari iman.”

Ungkapan tersebut merupakan sedikit dari sekian banyak ungkapan tentang keutamaan dan hikmah dari malu. Tentu saja, malu tersebut adalah malu yang terpuji. Kita memang harus malu untuk melakukan perbuatan yang tercela, perbuatan yang tidak disukai Allah, dan perbuatan lain yang menyimpang dari agama.

Selain malu yang terpuji, ada pula malu yang tercela, yaitu malu dalam melakukan kebaikan. Misalnya; malu dalam menuntut ilmu, malu menghidari kemaksiatan dan lainnya. Seringkali kita menjumpai banyak orang —atau mungkin kita sendiri— malu untuk melakukan kebaikan. Misalnya, malu untuk belajar menulis.

Banyak orang yang ingin belajar menulis, tapi dia malu kalau hasil tulisannya jelek. Mereka ingin sekali menulis, namun yang hasilnya langsung bagus. Kalau hasil tulisannya jelek, mereka malu kalau nanti harga dirinya menurun.

Misalnya, ada orang-orang yang memiliki kedudukan atau posisi terhormat yang ingin sekali menulis. Tapi, mereka tidak lantas belajar dari bawah. Malah, mereka merasa malu kalau nanti tulisannya tidak bagus. Malu harga dirinya turun. Akhirnya, mereka malah tidak jadi nulis sama sekali.

Menurut para pakar di bidang kepenulisan, bagus dan tidak tulisan itu tergantung jam terbang dan ketekunan dalam belajar. Sungguh mustahil jika orang yang baru nulis lantas tulisannya langsung bagus. Belajar memang tidak mudah. Kadang, kita dihantui harga diri. Untuk belajar kepada orang yang lebih rendah itu beban. Beban psikologis, “Masak iya harus belajar kepada orang ini. Dia kan anak buah saya?” atau, “Masak saya harus belajar dengan dia. Dia kan mantan murid saya?”

Menurut ulama salaf, “Orang yang pemalu tidak akan meraih ilmu. Demikian juga orang yang sombong.” Secara tidak langsung, orang yang malu belajar pada orang yang lebih rendah posisinya merupakan sikap yang sombong. Seolah, malu dalam ketegori ini mirip dengan sombong.

Presiden pertama Indonesia pernah mengatakan,”Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan, selangkah pun.”

Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa malu berbuat kebaikan merupakan malu yang tidak terpuji. Ini jenis malu yang harus kita hindari dan tidak kita lakukan. Khususnya, malu dalam belajar dan menuntut ilmu. Sudah barang tentu ini harus kita jauhi sejauh-jauhnya.

Sebaliknya, seharusnya kita tidak perlu malu untuk berbuat kebaikan. Misalnya, tidak pernah malu untuk belajar dan menuntut ilmu. Terkhusus belajar menulis kepada yang lebih ahli, meski memiliki posisi lebih rendah.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.