Neno Warisman, Bukan Radikal Seperti yang Kalian Gambarkan

Hadiah Ultah 21 Juni :

NENO WARISMAN, YANG SAYA KENAL, BUKAN RADIKAL YANG KALIAN GAMBARKAN..!!!

MEPNews.id — Saya punya kain bagus dan mahal, warna kuning, hadiah dari Neno Warisman.
“Ini ..kenakan untuk pacar atau istrimu kelak ya Mas, pabila blm pakai hijab,” kata Neno, di rumahnya yang asri — sebuah bangunan minimalis khas Jawa yang teduh dan rimbun pepohonan — , di bilangan Jaksel, periode 1995-an silam.

Tahun itu, Neno baru pakai hijabs. Senengnya bagi2 kerudung ke teman2 wartawan. Saat itu, saya diterima datang ke rumahnya untuk wawancara khusus, untuk tulisan rubrik profil artis, saat saya masih bekerja di sebuah tabloid hiburan.

Saya mengenal Neno dari album-album rekamannya maupun film “Sayekti & Hanafi” yang ditayangkan TVRI thn, disutradarai Irwinsyah.

Beberapa kali di awal 90an itu saya ketemu Neno.

Neno populer dengan film itu tadi film “Sayekti & Hanafi”

Neno lahir di Banyuwangi, Jatim, tapi besar di Jakarta. Nama aslinya Tatiek Widoretno.
Sejak kecil ia suka sastra. Tahun 1978, Neno meraih juara baca puisi se-Jakarta.

Neno menempuh pendidikan formal di kampus Fakultas Sastra Perancis Universitas Indonesia.

Dekade90an itu, Neno pernah duet dengan Fariz RM lewat tembang “‘Nada Kasih”, dan juga lagu religi “A Ba Ta Tsa” dan tentu saja ia ngetop saat menyanyikan “Matahariku.”

Lewat film “Semua Sayang Kamu” (1989) Neno masuk nominasi Aktris Terbaik Festival Film Indonesia 1989.

Pada 2005 belakangan, Neno masih main film garapan Garin Nugroho Rindu Kami PadaMu (2005). Film ini bahkan meraih penghargaan sebagai film terbaik Asia di Osian’s Cinefan Festival ke-7 di New Delhi, India, yang digelar16-24 Juli 2005.

Kalau soal seni akting dan nyanyi, Neno muda, sangatlah berbakat.

Pada 1991, Neno memutuskan berhijab. Ia pun banyak bergerak di dunia pendidikan anak Muslim. Sudah mulai jarang di panggung artis.

Saat saya datang ke rumahnya, yang dikasih kerudung kuning yang berenda itu, ia banyak bercerita tentang program anak-anak PAUD. Nada suaranya tegas. Berprinsip. Dan penuh semangat.

Pada ulang tahunnya yang ke-40, pada 21 Juni 2004 silam, Neno menerbitkan buku “Izinkan Aku Bertutur.”.
Selain itu, Neno juga membuka usaha biro perjalanan haji dan umrah.

Lantas, lama sekali saya tak mendengar kabar Neno. Baru saat Ahok didemo jutaan umat Islam dengan gerakan “212” , tahun silam, muncul lagi sosok Neno Warisman, —- dengan lebih lantang dan militan.

Sama seperti Pegy Melati Sukma yang kini berhijab dan bercadar, Neno yang dulu vokalnya lembut dan teduh seperti embun, ia berubah menjadi seperti harimau betina dari gurun.

Bareng tokoh2 Islam garis lurus dan lantang bersuara, Neno segera rilis lagu kolosal yang dinyanyikan rame-rame: “2019 Ganti Presiden” (ciptaan Sang Alang).

Karena bahannya dari kain sutra dan mahal, kerudung kuning hadiah dari Neno, percaya gak, masih saya simpan di almari di rumah.

Dan, bulan Juni ini, tanggal 21, Neno akan berulang tahun. Jadi saya ingat lagi kerudung kuning ini, dan saya menulis ini. Ia memang pintar dan cerdas, qanaah dan pantas jadi figur Muslimah Indonesia, tapi ia tidak radikal. Tidak radikal seperti yang digambarkan media2 mainstream yang anti Islam.
Tapi niscaya ia selembut sutra kerudung kuning yang dihadiahkan kepada saya. InshaaAllah begitu. Wallahualam bish-shawabi (Dan Allah Maha Tahu yang benar/yang sebenarnya).
(7/6/18 * damarhuda)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.