Hasil Pendidikan Bersulut Ria

 

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Kejadian demi kejadian di negara Indonesia terus silih berganti setiap saat, sesuai dengan agenda masing-masing yang memiliki kepentingan agar dapat menjadi perhatian khalayak ramai. Ketika kejadian itu bisa memancing emosi masyarakat, emosi diciptakan dengan berbagai cara agar emosi itu tetap terjaga.

Untuk menjaga emosi masyarakat dibutuhkan media yang kompak menguatkan dalam menyuarakan agenda besar untuk mencapai tujuan bersama dalam satu kelompok tertentu. Pola penggiringan opini dilakukan dengan berbagai cara agar agenda tersembunyi dapat dukungan luas dari masyarakat. Pembuat opini memiliki kekuatan lahir dan batin dalam memberikan pandangan-pandangan yang menyusul Kalau para pemirsa.

Tipuan kameranya dengan sudut yang pas akan terus dimainkan melalui pola-pola tertentu sesuai pesanan dan masukan dari para konsultan sekaligus tim “pengintil” kemanapun pergi untuk dapat merekam dan menyebarkan kepada khalayak ramai untuk dapat dukungan dan tepuk tangan. Semakin riuh tepuk tangan para pendukungnya, semakin menambah kekuatan untuk melakukan kegiatan segala macam agar mendapat dukungan signifikan.

Dukungan signifikan dirasakan semakin kuat kalau para pendukungnya memberikan tambahan-tamabahan komentar untuk menguatkan argument bahwa yang dilakukan memang sesuai tuntutan keadaan.

Kondisinya seperti ada pertunjukan yang dirancang oleh sutradana dengan memberikan umpan-umpan lambung kepada para wayang agar memerankan lakon sesuai dengan agenda yang diusungnya. Agenda tersembunyi yang diperankan secara terang-terangan akhirnya menbulkan asumsi dan kesimpulan bermacam dari seluruh kalangan. Baik pengamat maupun setengah lengamat bersatu padu menyuarakan pendapatnya dan itu semua bisa dinikmati oleh siapapun tanpa batasan sosial.

Untuk meramaikan suasana para penjilat juga akan memberikan keterangan di berbagai media untuk dapat punggung tersendiri. Punggung dibuat sendiri, dimainkan sendiri, ditonton sendiri dan diberi tepuk tangan sendiri pula. Lakonnya dibuat “mbuleti” seperti susur. Tak lupa para penjilat juga akan membuat meme untuk mendukung apa yang dilakukan oleh junjungannya. Berbagai macam meme dibuat untuk meninggikan junjungan dan menjatuhkan kelompok lain.

Saat ini sedang tren kata radikalisme yang mulai disuarakan dengan sangat kencang. Suara nyaring yang terus disuarakan tanpa henti oleh berbagai komponen dan dilanjutkan dengan bahasan tanpa henti di media massa untuk mendapat perhatian sempurna dari berbagai kalangan. Mulai masyarakat biasa sampai institusi pendidikan mulai bergerak bersama membuat nyanyian merdu tentang radikalisme.

Muncullah daftar radikalisme yang memberikan penilaian kepada institusi-institusi tertentu di perguruan tinggi. Ada istilah khusus agar bisa menjadikan sempurna apa yang dimaksud dengan radikalisme itu. Untuk membuat mata terbelalak bagi para pembaca diberikanlah kata tambahan “terpapar radikalisme”. Ukuran terpapar yang digunakan dengan menggunakan kacamata terhimpit akan menimbulkan himpitan kepada pihak-pihak yang akan dihimpit oleh agenda tertentu.

Terlihat ada institusi pendidikan yang kalut dengan kata terpapar itu dan membuat kaget para pengelolanya. Masing-masing membuat klarifikasi dengan memanggil orang-orang yang pernah berkalimat dan pernah membuat tulisan ilmiah. Mereka kena dampak dari kata “terpapar” tersebut.

Hasil pendidikan saat ini di Indonesia selama puluhan tahun merdeka masih berkecamuk pada “BERSULUT RIA” dengan memberikan ruang luas kepada fenomena yang terjadi sesaat. Ketika ada kejadian masing-masing berpolemik dan bersahut-sahutan tanpa henti.

Pola berrsulut ria ini menjadikan pendidikan di Indonesia sepertinya belum beranjak menjadikan manusia Indonesia yang suka berfikir. Pikiran yang sangat diperlukan para pendahulu pendiri republik ini. Para pendahulu sudah mewariskan perdebatan dengan menggunakan Logic yang sampai saat ini bisa dilihat dan dibaca dari berbagai literatur.

Bagaimana perdebatan yang keras dari para pendiri bangsa bisa menjadikan persatuan kuat untuk menjadikan negara ini meredekandari cengkeraman penjajah. Terlihat begitu keras perbedaan dalam pikiran masing-masing tapi mereka saling menguatkan.

Hasil pendidkan Indonesia, bersulut ria ini bisa menjadikan problem tersendiri dalam menatap dan menjadikan bangsa yang kuat dan mandiri. Kepentingan-kepentingan kelompok bisa menjadi pemicu kuat untuk melemahkan bangsa ini di masa mendatang. Masing-masing kelompok dengan sulutan yang berbeda-beda akan memberikan dampak pola pikir dan gerakan untuk saling melemahkan. Melalui kekuatan tertentu untuk saing menjatuhkan ini bisa dijadikan contoh oleh anak-anak usia sekolah.

Para siswa dan mahasiswa bisa melihat secara langsung dari para pelaku pemerintahan dan diluar pemerintahan yang bisa diakses setiap saat di sosial media. Bila anak-anak yang sekarang sedang menuntut ilmu di bangku sekolah dan perkuliahan melihat contoh jelek di Republik ini, maka itu secara religius, kognitif, afektif dan psikomotorik akan berpengaruh kuat bagi mereka. Mereka tidak menemukan model terbaik dari ora pelaku kehidupan di pemerintahan dan masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Pancasila.

Nilai-nilai Pancasila yang begitu baik hanya dijadikan modal untuk melakukan pengaturan negara tetapi tidak bisa digunakan sebagai tata nilai dalam berkehidupan berbangsa dan negara sebagai tuntunan yang tidak dilanggar. Ketaatan pada nilai-nilai Pancasila inilah yang saat ini sulit ditemukan dan bisa dicontoh oleh para generasi yang saat ini sedang menuntut ilmu.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.