Getuk Singkong

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Di Jawa Timur, ketela pohon atau singkong merupakan salah satu bahan pangan serba guna. Selain beras, singkong ini juga dapat diolah menjadi berbagai macam olahan, bahkan makanan khas daerah. Sepanjang yang saya tahu ,setidaknya ada bebarapa makanan tradisional hasil olahan dari singkong. Antara lain; getuk, tiwul, sawut, cenil, kripik, lemet, krupuk, dan masih banyak lagi. Yang lebih modern antara lain singkong keju, singkong krispi.

Di antara beberapa makanan hasil olahan dari singkong, pagi ini saya menemukan getuk. Iya, getuk merupakan makanan atau jajanan anak seusia saya ketika kecil dulu. Hampir setiap pagi saya selalu dibelikan getuk. Selain murah, getuk singkong juga enak dan tanpa bahan pengawet. Saking senangnya, dulu sering saya datang langsung ke penjualnya yang sedang membuat getuk. Sekalian ingin tahu cara pembuatannya.

Makanan ini bisa ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau kawasan yang dihuni orang-orang Jawa. Jauh di balik bumi di Suriname, getuk sudah jadi makanan umum bersama gado-gado, petjel atau souto. Begitu juga getuk bisa ditemukan di kalangan orang Jawa yang jadi warga Kaledonia Baru di kawasan Pasifik.

Ada getuk singkong yang cara membuatnya digiling sederhana saja. Ada getuk lindri dan getuk trio yang penggilingannya hingga lebih lembut dan tampilannya warna-warni. Ada juga getuk goreng yang tentu saja setelah singkongnya digiling lalu getuknya digoreng.

Seingat saya, dulu getuk dibuat menggunakan penggiling yang diputar tangan dengan semacam pedalnya. Penggiling tersebut penggunaannya cukup sederhana. Tidak perlu menggunakan listrik atau mesin bensin. Cukup menggunakan tanaga manusia, yakni dengan cara pedalnya dikayuh. Maka, getuk pun sudah menjadi olahan yang siap untuk dinikmati.

Proses pembuatan getuk menurut saya juga terbilang sangat mudah. Singkong dikupas, kemudian dikukus dan digiling. Pada waktu proses penggilingan, singkong diberi pemanis. Biasanya gula pasir. Untuk menyajian, getuk ditaburi gula pasir dan parutan kelapa. Agar menarik, biasanya getuk diberi pewarna, misal, merah, kuning, hijau dan coklat. Serta biar baunya sedap diberi vanili.

Selain saya harus beli, dulu getuk juga bisa saya dapatkan di rumah sendiri. Iya, karena saya anak petani. Tentu punya tanaman singkong. Ketika singkong sudah layak diolah, saya pun sering dibuatkan getuk di rumah. Tentu saja, getuk buatan rumah berbeda dengan getuk yang saya beli. Getuk buatan Mbah saya sangat sederhana pembuatanya. Singkong dikupas dan direbus, kemudian ditumbuk dan diberi gula merah. Penyajiannya dengan cara diiris berbentuk persegi dan ditaburi parutan kelapa. Tanpa vanili, tanpa pewarna. Asli warna singkong berpadu dengan gula merah.

Sekarang, di kampung saya di Pare sudah jarang getuk dijual keliling. Ketika saya kecil, tidak hanya satu dua penjual getuk. Banyak. Selain penjual khusus getuk yang selalu lewat depan rumah saya pukul 07.00, ada juga di penjual sayur yang juga jual getuk. Intinya, dulu getuk mudah sekali didapat. Sekarang, agak susah.

Sekarang, di kampung saya, juga jarang orang menanam singkong. Dulu, singkong biasanya ditanam di tanah kosong sebelah rumah atau di belakang rumah. Sekarang, tanah kosong itu sudah penuh bangunan. Bagaimana dengan di sawah? Sama saja. Jarang yang sebagiannya ditanami singkong. Petani sekarang lebih memilih menanaminya dengan tanaman yang lebih menjanjikan hasil ketimbang sekadar singkong. Tidak heran jika sekarang jarang getuk dibuat di rumah.

Padahal, bagi saya, getuk singkong salah satu makanan fenomenal. Makanan itu turut menyejarah dalam hidup saya. Bahkan, penjualnya pun tidak luput dari ingatan saya. Pak Ponirin, Tanjung. Iya, Ponirin itu namanya dan Desa Tanjung tempat tinggalnya. Bersebelahan dengan kampung saya. Mungkin hanya berjarak 300 meter. Namun, beliau sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Semoga mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya. Aamiin. Meski telah tiada cukup lama, ternyata namanya masih mudah diingat sebagian besar pelanggannya, termasuk saya.

Getuk singkong sekarang hanya bisa saya temui di beberapa tempat. Salah satunya di selatan pintu masuk Pasar Baru Pare, Kediri. Getuk itu dijual oleh seorang ibu kira-kira berusia 55 tahun. Mungkin ini satu-satunya penjual getuk singkong di Pasar Baru Pare. Sepanjang jalan mengelilingi pasar, saya tidak menjumpai penjual getuk selain ibu tersebut. Semoga getuk singkong terus menyejarah sekaligus mengiringi zaman.

Salam getuk.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.