Perhatikan, Orang Narsis Punya Fitur Alis Khas

MEPNews.id – Mohon maaf jika Anda punya ciri yang disebutkan di sini namun karakter Anda tidak persis seperti yang digambarkan. Namun, setidaknya, pencirian ini didasarkan penelitian ilmiah. Kalau ada yang meleset sedikit, itu relatif lumrah.

Belakangan ini, kata-kata ‘narsis’ sering kita dengan. Istilah ‘narsis’ memiliki nama ilmiah Narcisstic Personality Disorder (NPD). Ini penyakit mental, ketika seseorang memiliki rasa percaya diri terlalu tinggi untuk kepentingan pribadi dan punya rasa ingin selalu dikagumi. Terlalu suka selfie adalah salah satu wujud narsis.

Orang narsis kadang sulit dikenali, terutama jika Anda sedang menjalin hubungan romantis dengan dia. Kecenderungan ini karena orang-orang narsis memanfaatkan penggunaan dan manipulasi orang lain untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka; sambil menyesuaikan diri seperti bunglon.

Ada ciri-ciri khas orang narsi yang berperilaku dengan cara-cara tertentu. Tapi, selalu perlu beberapa waktu untuk mengenali pola perilaku mereka. Bahkan, ketika sudah dikenali pun, orang narsis masih dapat merayu dengan berjanji akan berubah. Mereka bisa saja tidak narsis, tapi sementara.

Namun, sebagaimana dikabarkan Lindsay Dodgson dalam Business Insider edisi 6 Juni 2018, menurut penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Personality, Anda dapat mendeteksi seseorang itu narsis atau tidak hanya dengan berfokus pada satu fitur wajah tertentu; alis mata.

Peneliti Miranda Giacomin dan Nicholas Rule merekrut peserta penelitian untuk melihat orang-orang dari berbagai spektrum narsistik. Mulai dari tingkat normal yang tidak narsis sampai ke narsis habis-habisan. Nah, para peneliti ternyata punya metode bagus dalam mengidentifikasi mereka.

Para peneliti melakukan eksperimen dengan memberikan sejumlah gambar pada para peserta penelitian. Yang menarik, ketika diperlihatkan gambar-gambar alis, para peserta yang normal hingga yang narsis sama-sama dengan cepat dan benar bisa mengidentifikasi alis mana milik orang narsis.

Peserta penelitian memang menyoroti femininitas, perawatan, dan kekhasan ketika menentukan mana yang narsis. Tapi, hasilnya menunjukkan kekhasan lah yang jadi kuncinya. Nah, hasil eksperimen itu menunjukkan, orang yang narsis cenderung memiliki alis yang lebih pekat, lebih tebal, lebih khas.

Untuk menguji validitas eksperimen, para peneliti mengedit dengan photoshop alis narsis ke wajah orang yang non-narsis, dan sebaliknya. Hasilnya, ciri khas alis semakin memperkuat kesimpulan peneliti.

Alis memang membuat wajah kita jadi lebih mudah dikenali. Belakangan ini, alis telah menjadi semacam mode tertentu. Selain alis alami, ada berbagai upaya untuk membuat alis jadi lebih tampak. Nah, kaum narsis ingin menyampaikan pernyataan lewat alis mereka sehingga memberi kesan agar diri mereka dilihat atau bahkan dipuji orang lain.

Seperti yang ditulis para peneliti, “Orang-orang yang narsis mungkin berusaha mempertahankan alis yang khas untuk memfasilitasi kemampuan orang lain agar memperhatikan, mengenali, dan mengingat mereka, sehingga meningkatkan daya tarik mereka dan memperkuat pandangan diri mereka yang terlalu positif.”

Bisa juga, karena alis memberikan lebih banyak pesan sosial daripada yang kita sadari. Alis penting untuk ekspresi wajah, tetapi juga bisa mengungkapkan informasi bawah sadar yang halus.

“Kemampuan untuk mengidentifikasi ciri-ciri kepribadian gelap pada kondisi zero-acquaintance (saat mana seseorang menilai orang lain yang belum pernah dijumpai sama sekali) bisa memberi nilai tertentu untuk menghindari eksploitasi dan manipulasi. Meningkatnya insiden narsisme menggarisbawahi pentingnya nilai ini,” tulis para peneliti. “Untungnya, orang dapat secara akurat menakar kondisi narsisme orang lain berdasarkan pada bagaimana mereka bertindak, apa yang mereka katakan, apa yang mereka kenakan, dan seperti apa wajah mereka.”

Apa pun rahasia yang alis sembunyikan, itu berarti alis dapat mengungkapkan kepribadian seseorang. Maka, akan ada alasan yang cukup untuk menghindari –atau, sebaliknya, memanfaatkan– mereka.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.