Over Nasihat

Catatan : Adriono

FB_IMG_1528248623851

Memberi nasihat itu baik, bahkan mulia. Tetapi terlalu cepat memberikannya bisa berakibat kontraproduktif. Terlalu sering menasihati hingga overdosis juga berisiko untuk tidak digubris. Ini berlaku untuk semua orang, apalagi kepada anak remaja.

Menurut psikolog Drs Asep Haerul Gani, kita sebaiknya jangan tergesa-gesa memberi nasihat, apalagi jika tidak diminta. “Kamu jangan palentinan ya, itu tidak boleh, itu haram, itu budaya kapir, dalilnya ini .. ini… ini…,” katanya memberi contoh di hadapan peserta pelatihan “Teacher as Coach” di Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM), Surabaya, Senin, kemarin.

Coaching seperti itu, meskipun nasihatnya baik dan dasar dalilnya kuat, justru tidak mengena di benak anak. Sebab bisa jadi respons anaknya: “Ah, emak payah, gak ngerti anak jaman now.” Padahal seharusnya didengar dulu pendapat anak tentang Valentine itu apa. Ditanya terus dan digali terus unsur positif dan negatifnya budaya itu, sehingga lama-lama anak menemukan sendiri jawabannya, dan pada akhirnya memilih sikapnya sendiri (yang sesuai dengan kehendak kita).

“Masalahnya, kita sering kagak sabar dengan prosesnya. Malas bertanya jawab yang kadang habisin waktu. Padahal itulah awal dari jalinan komunikasi kita dengan mereka. Kita maunya langsung saja kasih nasihat,” kata Kang Asep, panggilan akrabnya.

FB_IMG_1528248609249

Maka ketrampilan bertanya menjadi kata kunci. Dalam melakukan bimbingan terhadap seseorang, hendaknya disadari bahwa kalimat yang diucapkan seorang klien tidak selalu sama persis dengan realitasnya. Sebab dalam berbicara orang kadang melakukan distorsi, menyortir informasi. Bisa juga tanpa sadar terjadi kesalahan bernalar, lantaran dia melakukan generalisasi (gebyah uyah, pukul rata). Berikut ini contoh generalisasi.

“Semua lelaki memang buaya,” kata seorang klien dengan wajah kusut, kepada Kang Asep, pada sesi awal konsultasi.
“Lho kalau begitu saya buaya dong, kan saya laki-laki,” respons Kang Asep yang ingin meluruskan generalisasi yang diucapkan oleh kliennya.
“Ya enggak lah, Kang, gimana sih.”
“Kamu punya ayah laki-laki, punya adik laki-laki. Berarti ada dua buaya di rumahmu, dong” kejar Kang Asep.
Klien itu marah karena tidak terima ketika disebutkan ayah dan adiknya buaya. Tapi kemudian dia menangis keras dan mulai curhat bahwa yang dimaksud buaya adalah kekasihnya, yang telah membuatnya terhina.”

Kemampuan bertanya menjadi syarat utama keberhasilan memberi bantuan. Sayangnya kita enggan memanfaatkan kehebatan metode bertanya. Bahkan hampir semua guru di sekolah memulai pelajaran dengan menerangkan, dengan memberitahu.

Ada sih yang memulai dengan apersepsi, melontarkan pertanyaan pretest. Tapi itu sekadar untuk mengetahui kondisi awal pengetahuan siswa sebelum dituangi dengan pelajaran baru. Bertanya bukan benar-benar bertanya tentang sesuatu yang ingin diketahui dan dipelajari oleh siswa.

Padahal Rasulullah, banyak sekali memberikan informasi dengan cara mengajukan pertanyaan terlebih dahulu. Kepada sahabat, beliau melontarnya tanya: “Tahukah kalian, apa itu penyakit wahm?” Ketika sahabat menggeleng dan berucap, “hanya Allah dan Rasulnya yang tahu,” maka Nabi baru menerangkannya.

Demikian juga ketika ada pemuda menghadap beliau untuk mohon izin berzinah, Nabi tidak langsung mencegah dengan mengatakan haram. Tapi dengan bertanya balik: “Seandainya perempuan yang dizinahi itu ibumu, bagaimana pendapatmu?” Pria itu tentu menolak dan akan marah kepada pelakunya. Nabi bertanya lagi, “Seandainya perempuan yang dizinahi itu adik perempuanmu bagaimana?” Pria itu akhirnya menyadari sendiri betapa tidak pantasnya melakukan zinah.

Bagaimana pendapat Sampeyan? (Lho kok pertanyaannya dipasang di bagian akhir?, mestinya kan pada awal tulisan tadi ya..hehehe….)

adrionomatabaru.blogspot.com

 

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.