Sobyektifitas Keadilan

Oleh: M.Yazid Mar’i

MEPNews.id —- Pengumuman hasil UN SD/MI telah usai. Namun hiruk pikuk pasca pengumuman masih menyisakan polemik panjang. Soal dengan dua bentuk jawaban komputer dan uraian yang pertama diujicobakan menuai protes. Ini tak kan pernah terjadi bila korektor soal uraian dilakukan oleh mereka yang secara kualitas tidak diragukan kemampuaanya. Betapa tidak kuslitas korektor yang heterogen yang ditunjuk oleh tim adalah masih banyak dipertanyakan.
Suatu contoh proses penyelesaian soal dalam bentuk jawaban mata pelajaran matematika, banyak menuai protes, sebagai indikator kurangnya pengetahuan yang dimiliki korektor.

Selain itu proses penilaian yang tidak memenuhi SOP, yaitu tidak menutup asal sekolahnya seperti yang terjadi di kecamatan kota Bojonegoro, melahirkan sobyektifitas terhadap cara penilaian soal uraian, yang kemudian cendrung tidak memenuhi rasa keadilan.

Ya. Memang baru pertama dilakukan. Namun mestinya dapat disikapi dengan menutup identitas sekolah, sehingga tidak sampai terjadi siapa menjatuhkan siapa, atau sebaliknya siapa menguntungkan siapa.

Guru juga masih manusia. Karena logika mesti akan muncul jangan jatuhkan nilai siswaku, atau sebaliknya markuplah nilai siswaku.

Sementara disisi lain, kita sering berbicara pendidikan karakter, membisakan karakter positif, tapi pada sisi lain antisipasi akan timbulnya sobyektifitas keadilan todak dilakukan.

Tentu sebagai bagian dari komunitas besar pendidikan hanya bisa berharap kedrpan akan menjadi lebih baik. Karenanya guru korektor, tim panitia koreksi, dinas terkait dapat belajar dari kejadian saat ini, tahun ini. Agar tak ada lagi dusta, dan tidak merugikan anak didik yang berjuang dengan penuh kesungguhan.

#catatan dari koreksi soal uraian UN SD/MI 2018.

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.