Kepentingan, Kemauan, Belajar, dan Ilmu

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Belajar memang tidak terbatas. Kita bisa belajar kapan saja dan apa saja. Termasuk belajar menulis. Yang bisa dipelajari dalam menulis pun banyak sekali ragamnya. Sangat kurang jika kita hanya berhenti mempelajari satu aliran menulis. Jika sudah pernah belajar menulis artikel, lain waktu kita juga harus belajar menulis berita, menulis features, menulis puisi dan seterusnya. Belajar terus bergerak ke segala arah. Satu sudah didapat, segera mulai belajar yang lain.

Di dunia ini, kita harus rakus dengan ilmu. Karena apa pun tidak bisa lepas dari ilmu. Mau bicara apa pun perlu ilmu. Mau aktivitas apa pun perlu ilmu. Hidup ini memang tidak bisa lepas dari ilmu. Sedang ilmu tidak bisa didapat tanpa belajar. Karena itu, kita juga harus rakus belajar.

Belajar dan ilmu itu berkait kelindan; tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Belajar dan kemauan pun demikian. Belajar tidak bisa dipisahkan dari kemauan. Aktivitas belajar tak akan muncul tanpa kemauan dari si pembelajar.

Lalu bagaimana memunculkan kemauan?

Kemauan hanya akan muncul bila yang bersangkutan memiliki kepentingan pada suatu hal yang akan dipelajari. Jika tidak, mustahil dalam diri kita muncul kemauan besar. Kepentingan itu lah, menurut saya, yang menjadi pemicu munculnya kemauan.

Sebagaimana aktivitas menulis, kemauan tidak akan pernah ada jika tidak memiliki kepentingan terhadapnya. Barangkali, kemauan hanya jadi angan kosong yang terus melayang tanpa ada bentuk nyata kegiatan.

Ngobar dan sinau bareng bisa menjadi prototipe perpaduan antara kepentingan, kemauan, belajar dan ilmu.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.