Bila Pendidik Dibaratkan Petani

liatariOleh: Liatari Suseno

MEPNews.id – Bila diibaratkan petani, pendidik itu bisa dibagi ke dalam dua kelomok berdasarkan bagaimana memproses tugas. Pertama, ada model petani jangka panjang. Kedua, model petani jangka pendek.

Petani jangka panjang biasanya cukup ikhlas dalam memproses. Ia dengan telaten menanam tanaman dari bibit. Kemudian, ia sabar merawat dan sepenuh hati merawat tanaman hingga nanti saat dipanen. Perkara nanti panenannya gagal atau berhasil, itu urusan belakangan. Yang penting ia menjalani semua proses krusial yang menyertai aktivitas menanam.

Petani kedua, yang model jangka pendek, suka ikut kontes dan selalu mengharapkan kemenangan. Karena tidak selalu sabar memelihara dan merawat, akhirnya dia hanya membeli tanaman cangkok yang telah nampak akan menghasilkan. Lalu tanaman yang mulai ranum itu dipamerkannya ke sana dan ke mari. Ia tidak terlalu peduli proses penumbuhan dan pengembangannya, yang penting hasilnya tampak.

Bagi petani yang pertama, gagal atau berhasil saat tanaman akan dipanen atau dipamerkan itu hanyalah proses. Jika bibitnya kurang baik, ia memberi perawatan tertentu agar tumbuhnya lebih baik. Jika ia sendiri kebetulan lalai, maka kelalaian itu ia jadikan untuk mencambuk diri agar lebih disiplin. Keberhasilan atau kegagalan tananam dijadikan alat untuk memacu semangat perbaikan dan bahan renungan.

Bagi petani kedua, lebih enak dan gampang menjual buah mentah yang dikarbit agar cepat matang. Tak ada jejak manis proses pembentukan buah hingga matang betul. Buah yang karbitan terlihat cantik dan ranum dari luar, namun cepat hancur saat dikupas. Rasanya sepat dan tekturnya keras saat dimakan.

Pendidik dengan tipe petani kedua ini kadang dianggap pahlawan karena dengan cepat mengorbitkan gengsi dan prestise sekolah lewat muridnya. Namun, sering kali itu semua hanya fatamorgana yang terlihat sejuk namun esensinya tiada.

Untuk jangka pendek, siswa karbitan bisa merasa bangga dengan prestasi mendadaknya. Namun, lama kelamaan, itu bisa menjadi bumerang bagi mereka sendiri saat dihadapkan pada tanggung jawab nyata dan dituntut menunjukkan kemampuan tertinggi. Ujung-ujungnya, para siswa yang dikarbit gurunya ini akan merasa malu karena tak dapat mengembangkan diri sebagaimana sejatinya jika gagal dalam tantangan. Atau, siswa yang dikarbit gurunya malah menjadi sombong ketika berhasil dalam tantangan. Si siswa cenderung menyepelekan segala hal karena terlalu meyakini bahwa selalu ada guru yang siap membantu menyelesaikan tantangan itu.

Lalu, bagaimana dengan pendidik tipe petani jangka panjang? Mereka biasa dicap sebagai orang yang terlalu idealis, yang suka dengan keruwetan dalam menangani murid agar tumbuh baik, dan saking ruwetnya sehingga ‘tak lazim’ dijadikan panutan sesama guru. Padahal, pendidik ini melakukan hal nyata dan berpengaruh pada setiap sendi kehidupan siswa tanpa disadari, bahkan hingga kurun waktu tak terhingga. Para siswa awalnya kadang sebal dengan aturan dan kedisiplinan yang diterapkan, meski suatu saat nanti akan mengakui kebenaran petuah-petuah dan ajaran sang pendidik.

Tentu semua pendidik mengharapkann bukan hanya perubahan dan pertambahan ilmu pengetahuan tampak luar pada siswa, namun juga perubahan dan pengembangan karakter internal ke arah yang lebih baik. Ibarat buah, para siswa di masa depan dapat menjadi buah yang benar-benar matang, ranum, dan harum. Nah, untuk mencapai itu, tidak bisa melalui proses instan. Semua tentu harus melalui proses yang cukup panjang dan butuh ketelatenan.

Jadi, kira-kira Anda tipe pendidik yang mana?

 

Penulis adalah guru di Kabupaten Malang

Facebook Comments

POST A COMMENT.