Sudah Seharusnya Guru Bisa Menulis Buku

tom kolom kecilOleh: Teguh W. Utomo
MEPNews.id – Berkembangnya GGM (Gerakan Guru Menulis) patut diapresiasi. Yang dimaksud menulis di sini tentu untuk umum. Menulis di media yang bisa dibaca siapa saja. Bukan menulis untuk kepentingan pribadi atau kewajiban pribadi. Guru bisa menulis di buku, menulis di koran, di jurnal, bahkan di blog dan media sosial sejenis. Apa lagi, sudah ada Gerakan Guru Menulis Buku. Ini hebat.

Nah, manfaat menulis bagi guru banyak sekali.

Pertama, untuk berbagi. Guru bisa berkisah tentang hal-hal baik untuk ditiru atau hal-hal yang gagal untuk tidak ditiru. Menuliskan ide, proyek, atau prestasi yang berhasil akan membuat orang lain tahu bagaimana caranya turut berhasil. Menuliskan tentang permasalahan akan menggugah orang lain untuk berjaga-jaga agar tidak mengalaminya atau mencari cara untuk menanggulanginya.

Kedua, untuk penerbitan. Tidak akan ada lagi keluhan soal kewajiban menulis PTK dan sejenisnya jika para guru mau berlatih menulis kecil-kecilan di blog atau medsos. Manfaatkan media sosial untuk berlatih rutin menulis. Manfaatkan media sosial untuk menyimpan data dan ide. Ketika tiba waktunya untuk menulis lebih serius, guru tinggal mengambil lagi data-data dari situ lalu menyusunnya menjadi karya lebih besar.

Ketiga, mengasah ketrampilan membaca. Saat ini, ada gerakan nasional membaca buku. Saat Gernas Baku ditujukan pada orangtua, tantangannya kemudian; sudah berapa buku yang dibaca habis oleh para guru dalam setahun terakhir? Jawabnya, mari jujur pada diri sendiri. Nah, dengan dorongan untuk rutin menulis, mau tak mau guru harus trampil dan banyak membaca. Itu karena sebagian dari bahan penulisan adalah hasil bacaan.

Keempat, menginspirasi murid. Dalam seminggu, berapa kali tugas menulis yang diberikan guru pada murid? Menulis resume buku dari perpustakaan, menulis laporan hasil study tour, mengarang, dan lain-lain? Murid akan lebih suka dan bahkan tertantang untuk menulis jika gurunya juga suka menulis. Bagaimana murid tahu gurunya suka menulis? Tinggal tunjukkan saja karya sang guru. Bisa dalam bentuk buku, kliping koran, blog, dan sejenisnya. Tapi, kalau gurunya tidak pernah menulis, bagaimana bisa menginspirasi murid?

Kelima, banyak reward. Saat ini, pemerintah sangat menghargai karya tulis. Guru dan dosen digerakkan untuk lebih banyak menulis. Yang menarik, reward untuk tulisan ini pasti ada. Bisa dijadikan untuk memenuhi syarat naik pangkat, bisa untuk memenuhi syarat menaikkan nilai tunjangan, dan banyak lagi.

Jadi, rasanya tidak ada alasan bagi guru untuk tidak produktif menulis. Kalau ada yang bilang tidak bisa menulis, jelas itu keliru. Semua guru kan sudah lulus SD dan sudah diajari merangkai huruf jadi tulisan? Kalau ada yang bilang tidak ada waktu, itu sebenarnya masalah pengelolaan. Setiap orang diberi waktu 24 jam sehari, dan masing-masing orang bisa membagi waktu dengan bijak digunakan untuk apa.

Biasanya, yang kurang adalah motivasi. Meski sudah disediakan banyak reward, ada guru yang masih belum termotivasi untuk menulis. “Ah, sudah umur segini, mau naik pangkat saja koq pakai disuruh menulis segala?”

Nah, untuk menapatkan motivasi, carilah wawasan dari orang-orang yang berwenang. Silakan ikuti seminar dengan nara sumber profesor atau pejabat tinggi. Semoga dari situ muncul benih-benih motivasi menulis.

Tapi, kalau ingin benar-benar bisa dan terbiasa menulis, belajarlah pada penulis sejati yang sudah punya karya. Penulis profesional itu punya pengalaman nyata dan praktis untuk benar-benar menulis. Bukan cuma teori menulis. Belajarnya juga tidak instan semacam ikut seminar tiga jam lalu dapat sertifikat. Belajar pada penulis sejati bisa butuh waktu lebih lama, tapi hasinya nyata. Bukan abal-abal.

Ingat, menulis itu kebiasaan. Kebiasaan itu muncul bila dilakukan terus-menerus dalam waktu lama.

Teguh W. Utomo adalah:

  • praktisi media massa, trainer motivasional, penulis buku
  • bisa dihubungi di email cilukbha@gmail.com, Facebook.com/teguh.w.utomo, dan Instagram.com@teguh_w_utomo

Facebook Comments

POST A COMMENT.