Toko Ramah Ayah

agus harionoOleh: Agus Hariono

MEPNews.id – Dalam keluarga, umumnya tugas belanja pakaian adalah istri atau ibu. Meski tidak semua semua keluarga demikian, yang pasti urusan belanja pakaian dalam keluarga saya adalah tugas istri. Lalu apa tugas saya sebagai suami atau ayah? Tugas saya adalah menjadi pendamping setia atau bodyguard yang menenteng ranjang belanjaan.

Simple sekali tugas ayah, ya?

Meski demikian, ada hal yang aneh tapi nyata. Dengan tugas yang sesederhana itu, ayah harusnya lebih kuat berlama-lama mendampingi bunda belanja. Tapi, kenapa kebanyakan ayah kok justru mengeluh kecapekan alias tidak kuat?

Padahal, sang bunda meski seharian dilepas di toko pakaian, tidak nampak sedikit pun raut muka capek atau kelelahan. Kalau belanja pakaian tidak cukup hanya satu atau dua jam. Beli satu pakaian saja bisa memakan waktu sedikitnya 45 menit. Pakaian sudah dipilih, tapi bunda masih melirik pakaian yang lain. Akhirnya bingung sendiri pilih yang mana. Tidak cukup itu, masih dipertimbangkan lagi model, warna, dan harganya. Praktis dalam waktu satu jam hanya dapat baju satu. Dengan waktu yang sekian lama itu, kadang juga masih belum puas dengan hasil pembeliannya. Capek deh.

Kalau sang ayah? Boro-boro sampai seharian. Mendampingi sejam saja keluhannya hingga nembus langit ketujuh. Ayah yang bisa mendampingi bunda belanja pakaian lebih dari dua jam sudah hebat. Karena itu, saya sering amati banyak ayah-ayah yang duduk di depan toko sambil mainan HP atau bermain bersama anaknya.

Mengapa ayah cenderung tidak betah berlama-lama mendampingi bunda belanja pakaian? Karena ayah hanya menjadi pendamping pasif. Fikirannya tidak seperti bunda yang aktif terus fokus pada aktivitas belanja. Fikiran ayah fokusnya beda, yakni pada lamanya sang bunda belanja. Akhirnya, fikiran lebih fokus ke merasakan kejemuan atau kecapekan. Kalau saya ibaratkan orang bersepeda motor, ayah dalam posisi itu adalah yang dibonceng. Kebanyakan orang yang bermotor, orang yang diboceng lebih capek daripada yang membonceng.

Fikiran pasif itu membuat badan jadi lebih cepat capek atau lelah. Coba kalau sang ayah saat belanja bersama bunda turut membantu mencari barang-barang belanjaan, saya pastikan daya tahan tubuhnya lebih lama. Atau, diganti saja yakni ayah mencari barang belanjaan dan bunda membawakan ranjang belanjaan dan mengikuti sang ayah di belakang.

Hehehe, umpama.

Iya, tidak sepenuhnya yang saya sampaikan itu pas, karena masing-masing orang berbeda. Namun, apa yang saya sampaikan juga tidak sepenuhnya salah. Saya sendiri pernah merasakan keduanya. Kalau saya hanya pasif ngikut di belakang ketika belanja, bisa dipastikan saya tidak akan kuat hingga langkah terakhir. Tapi, kalau saya juga aktif membantu belanja, mencari barang belanjaannya, saya mungkin bisa mengikuti hingga langkah terakhir. Walau tidak ada jaminan.

Tapi, bila waktunya kurang pas, saya lebih memilih menunggu di depan toko. Hanya saja, kadang saya kurang beruntung. Tidak semua toko itu ramah ayah. Artinya toko tersebut tidak menyediakan ruang atau tempat duduk bagi ayah-ayah yang menunggui bunda-bunda yang sedang belanja. Seperti para penunggu yang lain, para ayah pasti bertebaran di sekitar toko. Ada yang nongkrong di atas motor, ada yang mendengarkan musik di dalam mobil, dan lain-lain.

Namun, ada pula ayah yang kreatif. Waktu senggang menunggu bunda belanja digunakan untuk menulis. Ya, menulis apa saja yang dia ingin tulis. Contohnya, tulisan cekeremes seperti yang Anda baca sekarang ini. Saya melihat dan merasakan sesuatu yang bisa ditumpahkan dalam tulisan. Tentunya tulisan harus dikemas dengan yang baik, tidak provokatif, apalagi menebar kebencian.

Sekarang sudah banyak toko pakaian yang ramah ayah. Pelayanan toko terhadap pembeli tidak saja kepada orang yang sedang belanja, tapi juga kepada pengantar –terkhusus ayah. Toko yang menjajakan barang murah, tapi juga ramah ayah, pasti akan manarik untuk dikunjungi lagi. Bunda ketika hendak belanja pasti akan meminta pendapat sang ayah di mana akan belanja. Kemudian sang ayah tentu akan mencari tempat yang sesuai dengan pengalaman baiknya. Iya, pengalaman baik akan cenderung mengundang orang untuk datang kembali.

Wallahu a’lam!

Facebook Comments

POST A COMMENT.