Tentang Membaca dan Menulis

tom kolom kecilOleh: Teguh W. Utomo

MEPNews.id – Membaca dan menulis itu satu paket. Sama-sama menggunakan objek simbol-simbol, dan sama-sama diproses dalam otak. Saat membaca, yang terjadi adalah objek diproses lalu disimpan di dalam otak. Saat menulis, yang terjadi adalah otak berproses untuk menghasilkan objek. Nah, paket ini sifatnya resiprokal.

Namun, kebanyakan yang terjadi tidak resiprokal. Yang lebih sering terjadi adalah satu arah. Lebih sering mengumpulkan info dan ide, namun jarang menuangkannya dalam bentuk tulisan. Lebih sering membaca, namun lebih jarang menulis. Lebih menikmati buku, namun tak pernah membayangkan bisa menulis buku.

Yang lebih buruk, proses resiprokal itu jarang atau malah tidak terjadi. Artinya, orang jarang sekali serius membaca sehingga hanya menabung sangat sedikit info dan ide dalam gudang memori otak mereka. Kalau sudah begini, bagaimana bisa menuangkan info dan ide? Kalau toh tertuang berupa tulisan, tentu bunyinya acak-acakan.

Dalam praktik sehari-hari, umumnya orang lebih banyak membaca daripada menulis. Membaca buku, membaca koran, membaca medsos, membaca rambu, membaca petunjuk, namun lebih jarang menulis. Kalau toh menulis, itu pun biasanya bersifat ‘wajib’ dan tidak ‘voluntir’ bahkan tidak ‘kreatif.’ Misalnya, menulis di WA, menulis di papan tulis saat mengajar, menulis formulir, menulis pengumuman, dan sejenisnya. Bukannya menulis sesuatu menurut keinginan bebas diri sendiri. Bukannya menulis kreatif untuk menciptakan karya sendiri. Bukannya menuliskan ide-ide pribadi untuk dibaca orang banyak di luar sana.

Kondisi demikian membuat menulis kreatif menjadi hal yang susah. Mencoba mengambil memori dari ruang penyimpanan di otak, mengolah lagi semua memori itu di dalam otak, lalu menggerakkan jemari untuk menuangkan olahan memori tadi, seolah-olah menjadi pekerjaan berat. Akibatnya, dari sekian banyak orang, sangat sedikit yang jadi penulis.

Ada tiga permasalahan dasar yang membuat orang merasa susah menulis. Pertama, tiadanya atau lemahnya niat. Kedua, rendahnya ketrampilan dan kebiasaan menulis. Ketiga, susahnya menemukan media betulan untuk menuangkan tulisan serius.

Untuk membangkitkan niat, perlu diangkat bagaimana pentingnya menulis. Perlu disadari reward apa saja yang bisa didapatkan dari menulis. Perlu dipanasi dengan bagaimana orang-orang yang terkendala pun bisa menulis. Dan lain-lain.

Untuk meningkatkan ketrampilan dan kebiasaan menulis, perlu disadari nikmatnya menulis terus-menerus. Tidak ada cara lain untuk meningkatkan ketrampilan dan kebiasaan menulis selain dengan terus-menerus berlatih menulis. Kembangkan terus sehingga tiada hari tanpa menulis.

Untuk mendapatkan media menulis, silakan hubungi penerbit buku, pengelola media cetak, dan sejenisnya. Jika tidak, saat ini banyak media online yang bisa dijadikan ajang untuk menuangkan info dan ide. Bikin blog sendiri. Bikin e-buku sendiri.

 

Penulis adalah:

  • praktisi media, trainer motivasional, menulis sejumlah buku
  • bisa dihubungi di cilukbha@gmail.com, Facebook.com/teguh.w.utomo, Instagram.com@teguh_w_utomo

Facebook Comments

POST A COMMENT.