Pusaran Ketakjelasan dan Kejelasan, Kita Berada di Mana?

Catatan Oase  :

MEPNews.id —- Sabtu siang 2 Juni 2018 sebelum melakukan aktifitas bersama anak anak dari kalangan marginal, saya sempatkan untuk berdiskusi dengan beberapa dari kalangan mereka. Adalah Rafa ( 12 ) anak yatim piatu yang berasal dari salah satu panti di Surabaya. Menyatakan perasaan senangnya ketika bersama dan berkumpul dengan teman temannya yang berasal dari panti yang lain. Ada harapan baru bagi mereka yang mengalami situasi yang sama ketika berada dalam situasi berkumpul.

Ada hal lain yang juga sama situasinya, seseorang bersama teman temannya yang, berharap dengan harapan yang baru, tapi karena dilandasi oleh suasana yang dipenuhi oleh energi negatif, maka kenegatifaannya semakin membuncah, pada akhirnya kebingungan bersama dan mengalami ketakjelasan. Mengapa? Karena apa yang diharapkan berasal dari suatu yang tak jelas dan cenderung dibuat buat.sehingga tampaklah dihadapan orang lain sebuah potret ketakjelasan yang cenderung bermuatan kebohongan.

Apa yang terpotret dari dua kejadian diatas, merupakan gambaran perilaku masyarakat kita saat ini. Sebagian mereka bergerak dengan nalar yang bijak, informasi yang benar, tidak pandang usia, pada kejadian pertama, betapa anak anak dengan kejujuran perasaannya mereka berkumpul dan membangun harapan baru dan itu bisa, karena bisa bertemu dengan niat membangun harapan baru yang sama. Sementara pada kejadian yang kedua, meski mereka sudah beranjak tua, namun karena diwarnai ketidak jujuran dan ketidak jelasan, maka harapan barunya tak ditemui, pusaran ketidak jelasan semakin menjadi jadi.

Pusaran itu ibarat medan magnet, hanya akan bisa bertemu dengan situasi yang bisa dipengaruhi olehnya. Medan magnet, dalam ilmu Fisika, adalah suatu medan yang dibentuk dengan menggerakan muatan listrik (arus listrik) yang menyebabkan munculnya gaya di muatan listrik yang bergerak lainnya. Sehingga apapun yang berada dalam satu rangkaian medan itu akan bergerak sesuai dengan pengaruhnya.

Dalam ilmu sosial bisa dianalogkan bahwa kebaikan akan bisa bertemu dengan kebaikan dan akan membangun energi kebaikan yang besar dan hasilnya pastilah sebuah kebaikan. Tidak dengan keburukan, energi keburukan akan bergayung sambut dengan energi keburukan yang lainnya, dan hasilnya akan melahirkan keburukan yang lain. Misalnya energi kebaikan yang bertemu kebaikan adalah anda berada diruang belajar atau diskusi, karena semua berniat belajar, maka akan dibuka ruang pikir untuk belajar saling memberi dan menerima. Kalau anda dalam ruang belajar atau diskusi hanya ingin menegaskan anda sajalah yang benar apalagi ingin mempermalukan dan menjatuhkan orang lain, maka ruang pikir anda akan tertutup, tak mampu menerima pendapat orang lain sehingga akan cenderung bersikap culas. Keculasan itulah merupakan ketak jelasan, karena pikiran kita sudah dibatasi dengan energi negatif.

Menyediakan Ruang Menerima

Pernahkah anda membayangkan sebuah gelas yang penuh berisi air? Apakah gelas itu bisa menampung air lagi kalau kita isi? Tentu tidak, air akan tertumpah. Mengapa bisa tertumpah? Karena memang tak ada ruang lagi dalam gelas itu untuk menerima.

Begitulah hidup, ketika kita tak mampu lagi menyediakan ruang hati dan ruang pikir menghargai dan mengapresiasi orang lain, maka kita akan selalu menolak apa yang ada pada orang lain. Saya ingin ilustrasikan kejadian itu pada kegiatan yang saya lakukan bersama sahabat sahabat saya alumni SMPN 4 Surabaya di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Merr Surabaya. Betapa kami yang sudah tidak lagi dibilang muda, setelah lulus SMP dan melanjutkan jenjang pendidikan yang berkelanjutan, kami berpisah dan berjibaku dengan kehidupan kita masing masing. Tentu situasi kami sangat berbeda dengan semasa kami masih berteman dalam sekolah. Keadaan ruang sosial yang berbeda, tidak menyebabkan kami harus berjarak, masing masing diantara kami mampu menyediakan ruang hati dan pikir untuk bisa saling menerima. Apa yang terjadi? Kami mampu melepaskan apa saja yang melekat pada kami, kami menciptakan medan magnet baru dan bisa bergerak bersama, membangun energi baru, apa itu? Semangat saling berbagi dan saling merekat kan sebagai keluarga besar. Sehingga keakraban, suasana harmonis saling mengingatkan dan saling berbagi menjadi warna aktifitas yang dijalankan. Terima kasih kepada sahabat sahabat saya alumni SMPN 4 Surabaya, anda semua memberi tauladan kebersamaan dan membangun energi kebaikan.

Nah kawan… Pusaran baik dan tidak baik adalah sebuah pilihan, maka ketika kita bersama orang lain mampu membuka ruang dan menebar kebaikan dan kejujuran, maka harapan baru berupa kejelasan makna hidup akan terpatrikan, tapi sebaliknya ketika ruang diri kita tutup dan hanya membenarkan asumsi dan kecurigaan yang kita bangun, maka saat itu kita menempatkan diri pada pusaran ketidak jelasan. Waktu akan terus berjalan, ketidak jelasan kita akan menjadikan kita tertinggal dan digilas oleh kebodohan sikap kita.

Sambutlah harapan baru dengan kejujuran dan kejelasan sikap . Hiduplah dalam balutan informasi yang benar, jangan terlalu banyak hidup dengan asumsi, karena sejatinya hidup itu nyata, butuh hal hal nyata dan pasti.

Semoga bermanfaat!

Assalammualaikum wr wb… Selamat pagi, selamat beraktifitas dalam kejelasan makna dan hidup, agar harapan baru itu bisa kita raih.

Surabaya, 3 Juni 2018

M. Isa Ansori

Pegiat penulisan, staf pengajar ilmu komunikasi Untag 1945 Surabaya dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.