Orang Ini

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Siapakah Orang Ini? Apakah dia seorang penikmat kopi? Apakah dia gelandangan? Apakah dia wali kekasih Allah yang menyamar kelaparan terlunta-lunta jalan kaki di sepanjang jalan? Adakah di zaman now sekarang ini orang-orang akan bergetar hatinya dan bertambah iman yang menyala di dadanya, cukup dengan disebutkan kata wali kekasih Allah kepadanya? Adakah orang yang peduli dan tertarik mempelajari, mengembarai dan iseng-iseng tanya-tanya kesana kemari perihal gelandangan dan wali kekasih Allah?

Kata wali, kekasih Allah, dan gelandangan sengaja dimunculkan dalam tulisan ini hanyalah sekedar agar hati kita bergetar kembali atau mungkin bersedia menengok mereka yang bersembunyi dalam kekumuhan untuk mungkin diingat kembali, dirasani dan dijadikan bahan obrolan atau diskusi dan rasan-rasan, ditengah kemewahan, gemerlap, dan nikmat hidup yang mungkin semakin berlimpah tumpah ruah dalam kehidupan ini.

Apakah setiap yang gelandangan, kumuh, hina, suram dan buram adalah pasti wali? Pasti tidak. La ya’ rifu wali illa wali. Tak mengerti wali kecuali hanya sesama wali. Hanya wali yang mengerti wali. Dan ini sudah jamak. Seorang wali bisa necis bisa kumuh. Kewalian tidak batal hanya karena baju kekumuhan. Juga tidak akan gugur hanya karena ia berseragam kemewahan. Sebagaimana kepandaian tetap kepandaian meskipun telah nyata-nyata dihina: “Kamu itu kebodohan!” Dan kebodohan tetaplah kebodohan meski disebutkan kemana-mana dan kepada siapa saja sebagai kepandaian.

Tapi siapakah Orang Ini dalam tulisan ini?

Puasa tahun lalu Orang Ini mentraktir sate seorang pengangguran di daerah utara. Juga membelikan beberapa jajan lebaran, yang tentunya sangat membahagiakan sang pengangguran. Tidak mungkin terhadap kebaikan balasannya adalah keburukan. Hal jaza’ul ihsani illal ihsan, dalam Quran Surat Ar-Rahman. Jika ada hal buruk yang terjadi, pasti itu sekadar pintu ujian yang sangat memungkinkan bagi yang bersangkutan agar mendapatkan balasan yang lebih tinggi, yakni naik ke kelas yang lebih tinggi.

Puasa tahun ini, Orang Ini bertemu dengan si pengangguran tersebut namun tak lagi sebagai penganggur. Ditraktirnya sate Orang Ini di daerah selatan. Diajaknya ia mengembara sebentar dalam sebuah malam. Berharap hatinya bergetar dan penuh kandungan mutiara iman di hatinya. Adakah sesuatu hal dalam kehidupan ini yang paling berharga melibihi iman? Demikianlah ia bergumam.

Setelah selesai bertemu dengan Orang Ini, orang yang tak lagi pengangguran tersebut menghubungi temannya. Diseretnya ia ke tempat ngopi yang lumayan agak mewah. Di sebuah cafe baru. Dibayari ngopinya. Begitu mulai agak gerimis, bergegaslah mereka untuk saling pulang.

Orang Ini, wali, kekasih Allah, gelandangan, ngopi dan cafe, gerimis, dan sebagainya, adakah dari kata-kata tersebut yang membikin hati kita sontak tersentak sebentar, bergetar, dan menambah iman? Akan tetapi terlepas dari semua itu, semoga tulisan singkat ini bisa menjadi semacam hari libur atau jeda sejenak dari hiruk pikuknya berbagai kabar berita media, pusingnya membaca dan mempelajari teori-teori, serta mungkin sempitnya hati yang absurd. Semoga saja demikian.

Lantas siapakah Orang Ini? Biarlah untuk sementara waktu ia bagai orang yang berpuasa, yakni sebuah rahasia yang sesungguhnya tak seorang pun tahu apakah dia benar-benar berpuasa ataukah ia sedang berpura-pura berlaku seperti orang yang berpuasa. Puasa merupakan ibadah rahasia, dimana lapar dan dahaga disembunyikan, sehingga siap andai dianggap seperti tak tampak berpuasa, tak tampak lapar dan dahaga, serta tak tampak jika sering berbuat baik melebihi kebaikan yang tampak.

Kemudian ada yang berbisik: “Sepertinya yang terakhir ini memang bukan tanda-tanda orang yang berpuasa bos. Melainkan tanda orang yang tak dipercaya, hahahaha….” (Banyuwangi, 3 Juni 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.