Menyelesaikan Siswa Berkesulitan Membaca Menantang Guru dan Orangtua

 

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

Banyak kasus yang terjadi pada beberapa sekolah yang memiliki murid tidak bisa membaca walau sudah kelas 6 sekolah dasar (SD). Ha ini tentunya menyulitkan guru dan orang tua menghadapi anak dengan kesulitan membaca yang tidak berkesudahan mulai kelas 1 sampai mendekati ujian akhir sekolah. Kesulitan membaca ini bisa menjadi penghalang anak untuk dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik dan dapat menyesuaikan pelajaran yang diberikan oleh gurunya pada semua mata pelajaran yang di ikutinya.

Deteksi anak yang berkesulitan membaca tentunya sudah diketahui oleh guru dan orang tua sejak kelas satu SD. Namun seiring perjalanan guru dan orang tua belum menemukan faktor penyebab berkesulitan membaca tersebut sehingga antara guru dan orang tua mencari solusi tepat sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya untuk membantu siswa berkesulitan membaca tersebut. Segala daya dan upaya masih belum bisa menyelesaikan masalah pada anak tersebut.

Siswa berkesulitan belajar terutama membaca perlu dipahami secara utuh agar dalam penanganannya mendapat layanan yang tepat untuk dapat menyelesaikan gangguan tersebut dengan baik dan benar. Untuk itu perlu Memahami Pengertian Kesulitan Belajar Menurut para ahli:

Lyon (1996) konsep learning disability (kesulitan belajar) fokus pada kesenjangan antara prestasi akademik dan kapasitas kemampuan belajar anak. Contohnya pada anak dengan kesulitan membaca juga akan mengalami gangguan pemusatan perhatian pada tingkat tertentu. Individu dengan learning disability memiliki intelegensi umum rata-rata dan bahkan di atas rata-rata. Beberapa peneliti menyatakan learning disability merupakan kesenjangan antara usia kematangan mental (kecerdasan berdasarkan usia mental, bukan usia berdasar tanggal kelahiran) yang seharusnya dan usia prestasi atau kemampuan pencapaian prestasi saat ini (yang senyatanya).

Masalah di atas Learning Disabilities (LD = ketidakmampuan belajar)menyangkut ketidak mampuan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas akademiknya secara tepat. LD adalah kondisi yang dialami siswa berkait dengan adanya hambatan, keterlambatan dan ketertinggalan dalam kemampuan membaca. Siswa yang berkesulitan belajar adalah siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga presatsi belajarnya rendah dan anak beresiko tinggi tinggal kelas. Kalau pada Kurikulum 2013, anak dengan kesulitan membaca bisa diberikan remidi agar bisa mencapai KBM (Ketuntasan Belajar Minimal) tetapi guru merasa kesulitan karena siswa tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan oleh gurunya walaupun soalnya sudah dibuat yang paling mudah.

Samuel Krik (dalam Hallahan, Kaufman & Pullen, 2012) menyatakan learning disability memiliki banyak jenis yang digunakan untuk mendeskripsikan siswa dengan inteligensi normal, namun memiliki masalah dalam belajar. Seperti minimally brain injured, slow leaner, dyslexic, atau perceptually disabled.
Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) tahun 1997 mendefinisikan specific learning disability (kesulitan belajar spesifik, yang kemudian disingkat dengan SLD) sebagai gangguan pada satu atau lebih proses dasar psikologikal termasuk pemahaman atau penggunaan bahasa, berbicara atau menulis, gangguan yang termanifestasi pada kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau melakukan kalkulasi matematika. Gangguan yang termasuk SLD adalah perceptual disabilities, brain injury, minimal brain dysfunction, dyslexsia dan perkembangan aphasia. Sedangkan gangguan yang tidak masuk kategori dalam SLD adalah ketidakmampuan melihat, mendengar atau memiliki gangguan pada organ gerak, retardasi mental, gangguan emosi, lingkungan atau budaya, serta kemiskinan

Biasanya guru kelas dalam mengatasi masalah membaca ini juga mengalami kesulitan yang cukup mendebarkan untuk dapat menyelesaikannya. Pada kurikulum 2013 dengan pendekatan tematik yang mengintegrasikan semua bidang studi menjadikan murid yang kesulitan membaca semakin “tolah toleh” atau kebingungan karena tidak tahu apa yang sedang dipelajarinya. Akhirnya siswa hanya bengong tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Gurupun harus berfikir keras untuk menyelesaikan penilaian KI 2,3,4 di dalam siklus pembelajaran yang setiap hari harus dilakukan, kata guru-guru itu intruksi dari Pengawas sekolah seperti itu sehingga secara adminsistratif tidak mungkin secara khusus memberikan perhatian dari awal sampai akhir pembelajaran di kelas.

The National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) mendefinisikan pengertian kesulitan belajar sebagai istilah umum terkait dengan sekelompok variasi atau berbagai gangguan. Heterogenitas gangguan ini dimanifestasikan pada kesulitan yang signifikan dalam menggunakan dan memperoleh berbagai kemampuan, seperti mendengar, berbicara, membaca, menulis atau matematika. Kesulitan yang dialami merupakan gangguan proses psikologikal dasar yang bersifat internernal, dikarenakan tidak sempurnanya fungsi sistem syaraf pusat (otak) dan berlangsung sepanjang rentan kehidupan.

Bila gangguan proses psikologikal dasar yang bersifat internernal, dikarenakan tidak sempurnanya fungsi sistem syaraf pusat (otak) maka sekolah bisa melakukan sejak awal masuk sekolah dengan observasi dengan bantuan psikolog agar dapat diketahui sejak dini bila ada gangguan fungsi otak ini sejak awal. Orang tua sejak awal akhirnya bisa mengetahui kondisi ideal yang harus dilakukan bagi anaknya. Bila anak itu diterima di sekolah, hasil observasi dari psikolog bisa digunakan untuk dasar dalam merancang pembelajaran juga bisa digunakan dasar dalam melakukan terapi okupasi agar dapat membantu anak berkesulitan belajar.

Kesulitan belajar termasuk pada membaca terjadi karenan adanya gangguan dikarenakan tidak sempurnanya fungsi sistem syaraf pusat (otak) dan berlangsung sepanjang rentan kehidupan. gangguan pada satu atau lebih proses dasar psikologikal termasuk pemahaman atau penggunaan bahasa, berbicara atau menulis, gangguan yang termanifestasi pada kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau melakukan kalkulasi matematika. learning disability merupakan kesenjangan antara usia kematangan mental (kecerdasan berdasarkan usia mental, bukan usia berdasar tanggal kelahiran) yang seharusnya dan usia prestasi atau kemampuan pencapaian prestasi saat ini (yang senyatanya).

Kriteria yang harus dipenuhi sebelum seseorang dinyatakan menderita kesulitan belajar, tertuang dalam sebuah buku petunjuk yang berjudul DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder). Diagnosis yang didasarkan pada DSM umumnya dilakukan ketika individu mengajukan perlindungan asuransi kesehatan dan layanan perawatan. Wood (2005), menyebutkan kesulitan belajar dapat dibagi menjadi tiga kategori besar, diantaranya:
a. Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
b. Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
c. Kesulitan lainnya, yang mencakup kesulitan dalam mengordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori di atas. Masing-masing kategori itu mencakup pula kesulitan-kesulitan lainnya yang lebih spesifik, dan pada makalah ini akan dipaparkan tentang kesulitan belajar membaca (disleksia).

Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys yang berarti sulit dalam dan lex berasal dari legein, yang artinya berbicara. Jadi secara harfiah, disleksia berarti kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis.

Bryan & Bryan (dalam Abdurrahman, 1999: 204), menyebut disleksia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat dan dalam belajar segala sesuatau yang berkenaan dengan waktu, arah dan masa. Sedangkan, menurut Lerner seperti di kutip oleh Mercer (1979: 200), mendefinisikan kesulitan belajar membaca sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan fungsi otak.

Pada kenyataannya, kesulitan membaca dialami oleh 2-8% anak sekolah dasar. Sebuah kondisi, dimana ketika anak atau siswa tidak lancar atau ragu-ragu dalam membaca; membaca tanpa irama (monoton), sulit mengeja, kekeliruan mengenal kata; penghilangan, penyisipan, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, dan membaca tersentak-sentak, kesulitan memahami; tema paragraf atau cerita, banyak keliru menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan; serta pola membaca yang tidak wajar pada anak.

Untuk melihat gangguan secara utuh orang tua dan sekolah bisa minta bantuan psikolog agar dapat penanganan yang tepat dalam membantu kesulitan membaca. Minimal dapat diketahui secara detail faktor penyebab gangguan tersebut dan cara menangani anak yang berkesulitan membaca. Banyak faktor yang bisa menjadi alasan yang bisa diungkapkan ketika kasus ini ditangani sehingga dapat membantu guru dan orang tua menyelesaikan kasus membaca ini denagn cepat dan tepat.

Hingga saat ini para ahli neurologis belum dapat mengetahui fungsi otak manusia secara keseluruhan, baru beberapa bagian saja yang sudah dapat dikenali fungsinya secara pasti dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Pada saat manusia melakukan kegiatan pemprosesan bahasa, aktivitas pada himesfera bagian kiri akan tampak lebih besar daripada hemisfera bagian kanan, sedangkan pada orang yang mengalami gangguan disleksia aktivitas himesfera kedua bagian menjadi sama besar (Devaraj, 2006:35).

Salah satu penyebab terhambatnya anak disleksia dalam melakukan pemprosesan bahasa adalah dikarenakan terjadinya pemusatan pada perjalanan saraf penghubung atau confusing traffic jam of nerve signal menjadikan proses penginformasian antar saraf semakin lama (Devaraj, 2006:36).

Menurut Mulyono Abdurrahman pada bukunya Pendidikan Pada Anak Berkesulitan Belajar, ada beberapa metode pengajaran membaca bagi anak berkesulitan belajar, yaitu:

Metode Fernald: Metode ini menggunakan materi bacaan yang dipilih dari kata-kata yang diucapkan oleh siswa, dan setiap kata diajarkan secara utuh. Ada empat tahapan dalam metode ini. Pertama, guru menulis kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayon. Selanjutnya, siswa akan menelusuri tulisan tersebut dengan jarinya (tactile and kinesthetic). Ketika menelusuri tulisan tersebut, siswa melihat tulisan (visual), dan mengucapkannya dengan keras (auditory). Proses semacam ini dilakukan secara berulang sehingga siswa dapat menulis kata tersebut dengan benar tanpa melihat contoh. Apabila siswa sudah berhasil menulis dan membaca dengan benar, bahan bacaan tersebut disimpan.

Di tahap kedua, siswa mempelajari tulisan guru dengan melihat cara guru menulis, sambil mengucapkannya. Pada tahapan ketiga, siswa mulai mempelajari kata-kata baru dengan melihat tulisan pada papan tulis atau tulisan cetak. Lalu, dilanjutkan dengan mengucapkan kata tersebut sebelum menuliskannya. Di tahapan ini siswa mulai membaca tulisan dari buku. Pada tahap terakhir, siswa mampu mengingat kata-kata yang dicetak atau bagian dari kata yang sudah dipelajari.

Metode Gillingham: Metode ini memerlukan lima jam pelajaran selama kurun waktu dua tahun. Aktivitas pertama diarahkan pada belajar berbagai bunyi huruf serta perpaduan huruf-huruf tersebut. Siswa akan menjiplak untuk mempelajari berbagai huruf. Dari bunyi-bunyi tunggal huruf, selanjutnya dikombinasikan ke dalam kelompok-kelompok yang lebih besar dan kemudian program fonik diselesaikan.

Melalui metode Analisis Glass, siswa dibimbing untuk mengenal kelompok-kelompok huruf sambil melihat kata secara keseluruhan. Metode ini menekankan pada latihan auditorik dan visual yang terpusat pada kata yang sedang dipelajari. Guru dapat menyiapkan materi yang diperlukan untuk belajar mengenal kelompok-kelompok huruf pada kartu berukuran 3×15 cm.

Di setiap kartu, guru menuliskan secara baik kata-kata terpilih yang telah menjadi perbendaharaan kata siswa. Kelompok kata didefinisikan sebagai dua atau lebih huruf yang merupakan satu kata utuh, menggambarkan suatu bunyi yang relatif tetap. Dalam bahasa Indonesia kelompok huruf yang merupakan satu kata yang hanya terdiri dari satu suku kata sangat jarang. Misalnya kata “tak” yang sebenarnya merupakan kependekan dari kata “tidak”. Kemudian, kata “pak” atau “bu” yang merupakan kependekan dari kata “bapak” dan “ibu”. Dengan demikian, penerapan metode analisis Glass dalam bahasa Indonesia akan berbentuk suku kata, misalnya kata “bapak” terdiri dari dua kelompok huruf “ba” dan “pak”. Metode ini bisa mengurangi waktu untuk menyelesaikan bacaan dengan cara meningkatkan perhatian terhadap bacaan.

Cara paling mudah untuk membantu mengatasi masalah disleksia ini setelah melakukan tes psikologi adalah dengan cara membuatkan program yang bisa diketahui oleh orang tua dan guru agar anak memperoleh penanganan yang tepat berdasarkan pada hasil interpretasi yang tepat dari psikolog pada langkah-langkah yang dapat membantu kemampuan membaca pada anak. Program capaian bisa dibuat model mingguan agar anak merasa tidak bosan dalam belajar membaca dari yang paling mudah menuju yang agak kompleks.

Apalagi kalau melihat pendekatan pembelajaran pada kurikulum 2013 yang dilakukan di SD dengan menggunakan tematik dengan tidak konsisten dari Kemendikbud. Bila awal tematik seluruh pelajaran (menyisakan mata pelajaran Agama) masuk menjadi satu kegiatan pembelajaran sampai kompetensi dasar (KD) dan indikator yang tidak ada hubungan sama sekali terpaksa dihubung-hubungkan agar menjadi satu kesatuan.

Ndilalah pda tahun pelajaran 2017/2018 mata pelajaran matematika dan olahraga dikeluarkan dari pendekatan tematik dan berdiri sendiri. Lha biyen (dulu) Waktu merancang opo ra dipikir ndisek to Pak De dan Bu De? Ketidak konsistensian ini bisa jadi mempersulit guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Nek sing bagian merubah-rubah sih gak ada beban sama sekali, lha Wong tinggal mengganti plus interuksi, yang bagian implementasi di kelas bisa jungkir walik (balik) menyesuaikan terus menerus yang sebetulnya tidak perlu disesuaikan.

Ada baiknya anak dengan kesulitan belajar dibuatkan Program Pembelajaran Individu (PPI) agar ananda tetap bisa mencapai kompetensi yang dipersyarstkan dalam Kurikulum Nasional. Guru perlu berkonsuktasi kepada ahlinya agar dalam penguatan PPI sesuai dengan kebutuhan dan hasil tes psikologi anak. Kesesuaian ini penting agar terjadi pembelajaran efektif yang dapat meningkatkan kompetensi pada setiap tahun pelajaran.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.