Ketika Otak Sudah Mengalami Gangguan, Proses Tak Dihargai

Catatan Oase :

MEPNews.id —- Pagi ini saya membaca statusnya Mas Dimas Pramuka yang menuliskan dialognya dengan seseorang yang menurutnya berpikir instan tak mampu mengjargai proses yang beliau lakukan dan kemudian dikomentari oleh mbak Endang Irowati yang mengatakan orang yang tak mampu menghargai proses dan hanya menangkap sesuatu secara instan sebagai orang yang ” loro uteke ” sakit otaknya. Apa yang disampaikan oleh Mas Dimas Pramuka Atmaji Dpa dan Mbak Endang Irowati, bagi saya merupakan potret kebablasan manusia sekarang yang diantara ketidak tahuannya lalu merasa tahu dan kemudian menjadi agen penyebar kebohongan… Saya kira ini gambaran hidup yang tidak sehat.

Statusnya sebagai berikut :

” Malam2 ada telpon. Ternyata orang mencari tari LENGGANG SURABAYA dan menanyakan kalau penari 7 dengan tarian itu untuk pembukaan peresmian sampai berapa mas? Ngobrolnya panjang tentang tari it menggambarkan apa? Videonya mana? Busana bisa pakai warna merah? tetapi sebelumnya dah minta beberapa gambar tentang warna2 unt tari tersebut, poto penarinya yg mana saja? Lantas aku sent pula 11 wajah penari. Dia memilih 7 lalu ok. Hemmmm giliran ak jawab nominal ( harga lumrah biasa terjdi pd relasi tanpa dinaik2an, lalu dia jawab LOH TARI GITU SAJA SAMPAI SEGITU? BUKANYA INI TARI TRADISONAL YANG BUKAN MODERN? Lalu ak pun jelaskan detail.dia jawab TARIAN nya KAN CUMA 6 MENIT? trus jawab dia yg terakir DAH SAYA CARI SANGGAR LAIN SAJA, sayapun jawab SILAHKAN BU MONGGO. Lalu masih call lagi, dia bilang SAYA INI JUGA PENARI MAS, BELAJAR 2 MENIT SAJA DAH BISA, MASAK GITU SAJA HARGANYA SEGITU, masih diteruskan dengan pertanyaan per Penari dikasih berapa sama mas, saya jawab itu urusan kami dan bisa dikatakan rahasia perusahaan bu. Anehnya lagi marah sekali dengan bilang BERARTI ANDA MAKELAR DONG, TERIMA JOB LALU BAYARI PENARI. saya tersenyum dan ketawa dengan menjawab, saking jengkelny saya yang Membuat Tari lenggang surabaya bu, saya juga pelatih tari hingga saya punya penari dan punya sanggar bu. Mereka juga tidak instan seperti ibu yg 2 menit saja sdah bisa menari. Berarti ibu lebih mahir dong kenapa tak menari sendiri saja lalu uang di taruh saku ibu. Saya tutup dan dia call2 tetus tdk say respon.
Hemmmm itulah orang yang tidak menyadari bahwa ada PROSES dsb prOSES itulah yg mahal dan sangat murah kaLAU dibanding harga yg saya sampaikan kepadanya.
Malam ini sebuah malam yg luarbiasa bagiku……. hemmmm keanehan karena selama ini saya baru kali ini bertemu dan berbicara dengan orNg aneh. Karena lontaran kata2 yg saya paling ingat itu” tari lenggang surabaya itu gampang dan tergolong tari MURAHAN kan masih tradisi? Dan tidak seperti tari2 yang loncat2 akrobatik dan tidak ada faktor kesulitanya. Aku sabar aja menghadapi. He he he he ”

Saya respect dengan sikap Mas Dimas yang dengan sabar melayani dan menjelaskan, meski saya memahami apa yang Mas Dimas rasakan, jengkel dan marah serta kecewa. Kesabaran Mas Dimas melayani adalah bagian kecerdasan emosi dan kecerdasan komunikasi.

Kualitas Diri Ditentukan Oleh Apa Yang Diucapkan dan Ditulis

Era digital dengan segala kemudahannya menjadikan semua orang tergagap gagap, apalagi generasi tua yang berusia diatas 40 tahun, mereka inilah generasi X yang hidup pada zaman 4.0.

Seringkali generasi ini, meski tidak semuanya mengalami kegagalan berkomunikasi. Apalagi ketika harus menggunakan media sosial. Media sosial yang seharusnya digunakan secara bijak membangun relasi, berbagi kebaikan, dan hal hal positif lain, ternyata tak mampu dilakukan. Justru hal sebaliknya banyak dilakukan. Misalnya karena ketakmampuan menyaring imformasi yang baik, tanpa pikir panjang informasi itu dimakan saja, padahal belum tentu benar, lalu disebarkan tanpa merasa bersalah.

Kita yang berusia diatas 40, sejatinya adalah generasi yang ” teraleniasi “, kita adalah tamu bagi generasi digital, generasi Z ini. Sebagai tamu tentu kita harus mampu menyesuaikan dengan tuan rumahnya. Bukan kita lalu bertindak semaunya sendiri. Sehingga jangan salahkan kalau kita distigma sebagai orang yang sakit otaknya. Apa yang kita ucapkan dan apa yang kita tuliskan mencerminkan kualitas diri. Sehingga sudah seharusnya kita bijak dalam berosial media.

Bijak dalam bersosial media banyak dipengaruhi oleh sikap keterdidikan kita. Sikap terdidik itu adalah sikap bijak memperlakukan media sosial dan orang lain, bukan asal ngomong dan asal tulis. Terdidik dalam berkomunikasi itu disebut sebagai kecerdasan komunikasi intra personal dan intra personal. Kecerdasan intra personal adalah kemampuan orang merasakan akibat ketika dia melakukan perbuatan terhadap orang lain, dia berusaha menggambarkan akibat itu pada dirinya, sehingga kalau berdampak kurang baik, maka tidak akan dilakukan. Komunikasi interpersonal merupakan kemampuan menempatkan diri ketika berada diantara orang lain dalam hal berkomunikasi. Kemapuan ini merupakan etik yang diterapkan, misalnya bagaimana dia harus bersikap ketika bersama orang lain serta kalimat seperti apa yang bisa kita pilih untuk menyampaikan maksud kita agar tidak mengusik perasaan orang lain.

Semakin bijak dalam bermedia sosial semakin menunjukkan kualitas diri seseorang. Kita ini pasti akan jadi contoh bagi anak anak kita, nah kalau kita yang berusia diatas 40 tahunan ini tak bijak dalam berbicara dan bermedia sosial, maka jangan sesali kalau kelak anak anak kita juga akan meniru. So… Berhati hati dalam menulis dan berbicara merupakan sebuah keniscayaan.

” Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik-baik atau diam. Barangsiapa percaya kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia menghormati tetangga dan tamunya.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim

Assallammualaikum wr wb….. Selamat pagi, selamat beraktifitas semoga kita selalu dalam kebaikan, terjaga dari perbuatan menyebar kebohongan dan fitnah , Aamien.

Surabaya, 2 Juni 2018

M. Isa Ansori

Penulis dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim serta Staf Pengajar Psikologi Komunikasi di Untag 1945 Surabaya

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.