Jabat Tangan Juga Bisa Ungkapkan Kondisi Otak

MEPNews.id – Dari memelintir mie hingga meremukkan tulang, genggaman tangan seseorang dapat mengungapkan banyak tentang siapa mereka. Penelitian menunjukkan, cengkeraman yang lemah terkait dengan kesehatan yang buruk. Cengkeraman yang lemah juga dapat berfungsi sebagai penanda klinis untuk obesitas dan bahkan kematian. Nah, sebuah studi baru menunjukkan, kekuatan jabat tangan seseorang juga dapat menunjukkan tingkat kecerdasannya.

Madison Dapcevich, dalam IFLScience edisi 24 April  2018, peneliti antar-negara menguji kekuatan jabat tangan dan bagaimana kaitannya dengan keterampilan kognisi. Pengujian dilakukan terhadap lebih dari 475.000 responden di Inggris –khususnya penderita gangguan skizofrenia. Pengujian dilakukan dengan mengukur memori, waktu reaksi, dan penalaran.

Data dikumpulkan antara 2007 dan 2010 dari studi kesehatan nasional UK Biobank. Hasilnya dianalisis lebih dulu, sebelum dilakukan uji responden dalam wawancara pribadi, penilaian kesehatan fisik, dan kuesioner layar sentuh. Dengan menggunakan dinamometer tangan hidrolik, peneliti kemudian mengukur kekuatan jabat tangan responden.

Para peneliti menemukan, kekuatan cengkeraman lebih tinggi secara signifikan dan positif sangat terkait dengan kinerja tugas yang lebih baik pada orang normal dan orang dengan skizofrenia. Keterkaitan itu tetap signifikan bahkan ketika peneliti juga memperhitungkan faktor usia, jenis kelamin, berat badan, pendidikan, dan wilayah geografis.

“Penelitian skala populasi ini menegaskan, dalam sampel besar, ada korelasi signifikan antara kekuatan genggaman dengan domain kognitif ganda,” begitu laporan penelitian Joseph Firth, Brendon Stubbs, Davy Vancampfort, Josh A. Firth, Matthew Large, Simon Rosenbaum, Mats Hallgren, Philip B. Ward, Jerome Sarris, dan Alison R. Yung, yang diterbitkan dalam Schizophrenia Bulletin.

Ini adalah hasil temuan yang terus berkembang tentang betapa kuatnya pengaruh jabat tangan. Studi pada 2012 menemukan, sapaan sederhana bisa meningkatkan perasaan positif dalam interaksi antara dua orang dan mengurangi dampak kesan negatif. Meskipun ukuran sampelnya kecil, studi lain oleh American Psychological Association menemukan korelasi kuat antara eratnya jabat tangan –yang ditentukan oleh kekuatannya, durasinya, kontak mata, dan kelengkapan pegangan– dengan kesan pertama yang menyenangkan.

Karena jabat tangan juga dapat dikaitkan dengan kesehatan dan kekuatan fisik, penulis studi terbaru ini mengatakan memahami tentang eratnya genggaman tangan juga dapat berfungsi sebagai penanda potensi disfungsi kognitif.

Meski demikian, ada keterbatasan dalam penelitian ini. Beberapa tugas kognitif ternyata melibatkan lebih sedikit responden daripada yang lain. Dalam hal ini, hubungan antara kekuatan genggaman dengan kognisi jadi kurang signifikansi berdasarkan statistik. Tapi, tugas-tugas lain dengan ukuran sampel lebih besar tentu cocok untuk hitungan statistik.

Selain itu, peneliti mengakui kurangnya informasi tentang faktor-faktor spesifik skizofrenia, antara lain fungsi responden dalam dunia nyata, dapat mempengaruhi hubungan antara keduanya.

Maka, peneliti mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya memahami hubungan ini dan implikasi kekuatan jabat tangan untuk fungsi dunia nyata dalam populasi psikiatris. Penelitian selanjutnya diarahkan untuk melihat apakah intervensi penguatan otot dapat membantu meningkatkan kognisi, terutama pada tahap awal penyakit.

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.