Ary Nilandari: ‘Membaca dan Menulis itu Ibarat Breath In and Breath Out’

MEPNews.id – Membaca, berenang, dan traveling adalah hobi Ary Nilandari. Siapa sangka, salah satu dari hobi tersebut bisa memberikan sejumlah penghargaan. Salah satunya menjadi representatif dari IKAPI untuk Asian Festival of Children’s Content 2016 di Frankfurt, Jerman.

Mungkin, bagi segelintir orang, membaca adalah kegiatan waktu luang atau untuk sekedar menyegarkan pikiran dari penatnya rutinitas harian. Padahal, membaca merupakan alternatif termudah untuk menetralisir rasa stress.

Hasil penelitian Dr. David Lewis, yang dilansir oleh Telegraph edisi 30 Maret 2009, mengungkapkan bahwa membaca dapat menurunkan kecepatan detak jantung, tensi darah, serta ketegangan otot yang semuanya adalah pemicu stress. Di samping itu, membaca juga meningkatkan kreativitas diri.

Bagi Ary Nilandari, membaca tidak hanya hobi tetapi kebutuhan. “Seperti bernafas. Breath in, breath out,” ujar wanita kelahiran Cirebon, 19 September 1968 itu.

Sejak SD, kebutuhan ini mendorong Ary menuangkan semua isi pikiran dari konsumsi bacanya ke dalam tulisan. Menurutnya, membaca dan menulis adalah dua kegiatan berkesinambungan. Apabila membaca adalah menarik nafas, maka menulis adalah menghela nafas. “Maka, saya rasa, sudah menjadi keharusan setiap orang untuk menulis.”

Penulis dikenal sebagai profesi. Ini membuat sebagian orang terjebak pada pemahaman, bahwa penulis harus mengeluarkan karya sastra buku dengan ragam genre tertentu. Padahal, orang-orang yang bekerja sebagai guru, dokter, atau bahkan pengusaha, juga penulis.  Setiap orang memiliki kecakapan untuk menulis. Itu karena menulis adalah life skill yang secara tidak langsung diasah dengan sendirinya sebagai bagian dari rutinitas kebutuhan hidup.

“Nah, untuk terjun menjadi penulis profesional, kemampuan yang dibutuhkan adalah breath in, breath out; membaca lalu menulis. Agar karyanya dapat menginspirasi orang lain, dibutuhkan banyak referensi. Baca, baca, dan baca!” tekan Ary berulang-ulang. “Karena hasil tulisan atau karya ini akan dibaca orang lain, maka ada tanggung-jawab akan isi tulisan.”

Berawal dari hobi membaca yang kemudian dituangkan jadi tulisan, Ary Nilandari memantapkan diri menjadi penulis. Ia membuat karya tulisan, menjadi penerjemah lepas, hingga jadi editor. Bahkan, pada 2010, Ary meninggalkan dunia kerja dan fokus untuk berkarya.

Berkat fokus dan konsistensi, Ary Nilandari menciptakan ragam karya. Mulai dari novel, cerpen, naskah komik, hingga picture book. Ia juga menjadi representatif Komisi Pemberantasan Korupsi untuk membuat bacaan anak mengenai anti korupsi. Ia juga menjadi mentor menulis pada event teacher super camp yang diadakan KPK.

Genre tulisan karya Ary diawali dengan romansa, kemudian fantasi, misteri/detektif, supernatural, dan laga. Ia juga membuat tulisan non-fiksi antara lain parenting, cerita nyata, dan semi-akademik.

Di antara sekian genre, yang menjadi favoritnya adalah anak. Buku anak. Ary memiliki ketertarikan tersendiri dengan buku anak. Itu karena ada misi yang dijalankannya hingga sekarang. Ary prihatin dengan tingkat membaca anak di Indonesia yang cenderung rendah. Maka, ia terpanggil untuk menyebarkan minat baca melalui karya tulis.

Untuk karya novel, misalnya, Ary menggunakan tokoh yang memiliki ketertarikan dengan dunia menulis. Tokoh ‘Wynter’ dalam Write Me His Story adalah word master yang suka pelajaran creative writing. Keo dalam seri Keo&Noaki digambarkan ingin menjadi penulis dan karya dituangkan dalam jurnal KID (Keo’s Intelligent Diary). Tokoh ‘Lazuardi’ dari PELIK juga menulis jurnal epistolary Check Point. Tidak ketinggalan, tokoh ‘Iggy’ dari The Visual Art of Love juga penulis.

Melalui trik ini, Ary ingin menularkan kebiasaan menulis melalui pembaca. Setelah membaca, seseorang cenderung ingin melakukan sesuatu yang baik. Orang yang terinspirasi dari bacaan akan cenderung meniru apa yang telah dibacanya.

Ary Nilandari memilih menulis di ruang kerja. Ia menginkubasi diri dari kemungkinan gangguan seperti e-mail atau aktivitas lainnya saat sedang berkarya. Segelas cokelat hangat dapat menjadi energi untuk mulai berkelana di ruang imajinasinya.

Ada kebiasaan unik Ary, yaitu membawa notes kecil ke mana saja pergi. Ide bisa datang dari mana saja, dan Ary memilih cara tradisional untuk menuangkannya ke dalam notes. Meski ada kecanggihan teknologi seperti handphone dengan kecanggihan voice note. Tapi ia memilih catatan tangan di atas kertas. Kebiasaan ini mirip dengan yang dilakukan Vladimir Nabokov, hanya saja Nabokov menggunakan kartu indeks untuk media ide random.

Ary juga berbagi ide saat pejuang pena menghadapi kendala writer’s block atau buntu ide. Penulis lain mungkin memilih untuk istirahat atau melakukan aktivitas lain. Namun, Ary justru menekankan, “Ide itu dicari, bukan ditunggu.”

Jika mengalami writer’s block, menurut Ary, yang perlu dilakukan adalah mengaduk diri sendiri, pengalaman hidup, memori lain yang terekam dalam benak, atau apa saja yang berpotensi untuk ide baru.

“Jangan terlalu silau dengan ide luar biasa dari orang lain. Setiap pribadi itu unik. Masing-masing individu bisa saja memiliki sudut pandang berbeda, meski topik yang dibicarakan sama. Untuk itu, tidak ada salahnya mengandalkan sudut pandang subjektif ketika sedang mencari ide,” kata Ary.

Penulis yang sesungguhnya adalah yang terus berkarya, yang bisa mempertanggung-jawabkan karya. Meski penulis memiliki hak cipta, nasib dari karyanya ditentukan pembaca. Semahal apa pun, pembaca rela membeli karena menyukai tulisannya. Maka, penting untuk memahami keinginan pembaca.

Ia menambahkan, “Tapi, mempertahankan originalitas karya juga perlu. Salah memperhatikan trend, penulis bisa terkena getahnya. Karyanya dapat menjadi sampah karena tidak lagi memiliki value yang sebelumnya dimiliki. Penulis yang kehilangan nilai orisinilnya adalah bencana.”

Tidak ada resep spesial untuk menjadi penulis sukses. Yang penting adalah terus menggali diri sendiri, menghargai diri sendiri, dan terus ‘bernafas’. Jika tersandung ketatnya selektifitas penerbit, jangan jadikan ini rintangan. Banyak media sosial untuk menuangkan karya, antara lain Wattpad.  (Anggie Yalas)

Facebook Comments

POST A COMMENT.