Kepemimpinan Tak Mempesona: Menjilat Atasan, Menginjak Bawahan

 

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Organisasi pendidikan dengan berbagai permasalahannya memberikan kenikmatan tersendiri bagi para individu pelakunya. Masing-masing individu yang memiliki keunikan tersendiri dalam mengikuti gerak langkah organisasi sesuai dengan visi, misi dan tujuan organisasi masing-masing sebagai pengikat pencapaian tujuan besar organisasi secara rinci dan terukur.

Sebagai pemimpin di dalam organisasi tentunya memiliki peran masing-masing. Peran itu membutuhkan kepiawaian khusus untuk mengikuti segala macam program sesuai keinginan stakeholder dengan irama yang kadang mendatar, turun naik, melonjak-lonjak bahkan berlari kesana kemari tanpa tujuan jelas.

Tujuan organisasi di tulis besar-besar agar setiap orang bisa membaca maksud secara terang benderang. Tulisan itu diharapkan sebagai bekal untuk berimajinasi bagi para pembaca, imajinasi menimbulkan keliatan berpikir karena tidak memiliki dasar dan indikator jelas dalam memahami tujuan organisasi pendidikan tersebut. Sedangkan anggota organisasi di dalamnyapun juga tidak memahami apa rencana strategis yang sudah ditulis. Bagaimana mencapai mutu organisasi pendidikan itu. Masing-masing anggota memiliki persepsi tersendiri melihat tujuan organisasi seperti panah yang berhamburan kesana kemari.

Inilah akhirnya menjadikan kepemimpinan tidak mempesona bisa terjadi di dalam organisasi. Model Kepemimpinan dengan menggunakan pendekatan sesuai kebutuhan individu pemimpin untuk menguatkan posisi dirinya dari segala macam kegagalan.

Bila ada kegagalan itu adalah tanggungjawab dari bawahannya, kalau ada keberhasilan maka dia akan menepuk dada terlebih dahulu dan dengan segera membuat laporan khusus ke atasan agar dapat segala macam pujian yang di inginkan. Dengan membuat kepemimpinan versi tersendiri ini tentunya seolah-olah akan menguatkan posisinya dalam jangka panjang. Padahal pola ini akan mengancam posisinya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan masa periode kepemimpinan setiap organisasi.

Model kepemimpinan memberdayakan setiap individu agar memiliki kapasitas meningkat biasanya dijauhkan dari angannya. Melihat kekurangan individu yang dipimpinnya bukannya diberdayakan agar meningkat kompetensinya dengan berbagai program dengan rancangan sesuai kebutuhan organisasi secara mendalam, tetapi orang seperti ini akan segera mencari cara bagaimana mempersekusi untuk menjatuhkan dengan cara cukup lihai dengan seringaian mengerikan.

Menjual omongan satu orang di tempat lain dengan berbagai bumbunya agar kelihatan semakin didukung alibi ketidakmampuannya menyelesaikan masalah. Sebaliknya omongan dari tempat yang dihadiri akan dikulak lagi untuk dibagikan kepada yang lain dengan tetap diberi micin semakin banyak sebagai penyedap dan kalau kurang lagi ditambah jilatan yang kuat agar semakin kaget dan wah para pendengarnya.

Kepemimpinannya tidak dipahami sebagai segala daya upaya besama untuk mengerakan semua sumber dan alat (resources) yang tersedia dalam suatu oganisasi yang dipimpinnya tersebut. Resaouces yang mestinya diberdayakan justru dijual kesana kemari untuk dijelek-jelekkan dengan berbagai metode penghakiman tanpa dasar kuat.

Pemahaman utuh tentang organisasi kuat hanya sebatas dipahami sebagai suatu kebutuhan jangka pendek untuk segera mendapat nama baik secara individu pemimpin tersebut. Setiap langkah yang dilakukan selalu bercermin menggunakan masa lalu, masa lalu yang suram dijadikan sebagai cermin untuk memberikan contoh kepemimpinan sesuai versinya. Padahal sudah jamak diketahui sukses tidaknya suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung atas kemampuan pemimpinya untuk menubuhkan iklim kerja sama dengan mudah dan dapat menggerakan sumber-sumber daya yang ada sehingga dapat mendaya gunakanya dan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Pengalaman kepemimpinan menjilat ke atasan dan menginjak kepada bawahan adalah teori khusus untuk mengamankan singgasananya dari kejatuhan. Ketakutan yang dibuat sendiri untuk menakuti dirinya sendiri melalui kecurigaan berlebihan. Ketakutan dibingkai dengan berbagai macam informasi yang dirancang sendiri, dihembuskan semdiri untuk menimbulkan kepanikan dan ketidakpastian.

Ketidakpastian sengaja dihembuskan agar menimbulkan suasana gaduh. Ketika terjadinya kegaduhan itulah harapan terbesarnya. Ketika kegaduhan itu membutuhkan solusi maka sang penjilat seakan-akan berubah diri sebagai pahlawan untuk menyelesaikan masalah ini. Tipe kepribadian penjilat ini hanya dimiliki oleh orang yang memiliki kepribadian khusus. Tidak semua orang bisa jadi penjilat karena itu membutuhkan trik dan intrik dengan menghilangkan sebagian besar kepribadian manusia utuh.

Pemimpin tipe penjilat ke atas merupakan ciri khusus berdasarkan ketentuan diri untuk bisa mengaktualisasikan kemampuan yang terbatas. Kemampuan terbatas itu perlu diperlihatkan orang lain untuk mendaptkan pengakuan. Pengakuan yang dibutuhkan untuk memperkuat eksistensi dirinya agar terus bisa mendapatkan kebutuhan lahir batin sampai mengalahkan harga diri yang harus dijaga sedemikian rupa.

Jika menjilat ke atas sudah mendapatkan porsi yang di inginkan berupa kelanggengan kedudukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan kegiatan menginjak ke bawah. Bawahan yang memiliki rasa takut kepada atasan penjilat, maka itu akan menjadi lahan subur bagi penjilat untuk memperkuat eksistensinya. Bawahan yang tidak berani mengkritik dan memberi masukan pada setiap tindakan pemimpin yang tidak mempesona tersebut seakan menjadi aliran udara tanpa batas. Tangan pimpinan merasa lembut kalau setiap saat dapat ciuman dari bawahan, dan sodoran kepada bawahan untuk dicium tangannya merupakan kesadaran yang dilanggengkan.

Akhirnya terjadi regenerasi sempurna di lembaga pendidikan dengan penjilat di atas dan penjilat di bawah. Terjadi mutuasis simbiosis antara atasan dan bawahan. Atasan butuh informasi untuk memata-matai bawahannya dan bawahan butuh jilatan dengan melaporkan temannya sendiri kepada atasannya agar dapat pujian. Atasan-bawahan memiliki kesamaan kepribadian (personality) pola pemikiran dan perasaan, konsep diri, dan mentalitas yang senada seirama sehingga dapat melakukan kebersamaan kurang mempesona itu.

Menghindari model kepemimpinan tak mempesona dengan menjilat atasan dan menginjak bawahan bisa dihindari dengan memberikan Job disc dengan jelas dan terukur. Untuk itu dibutuhkan SOP (Standar Operasional Prosedur) sehingga leader sesungguhnya bisa memantau keberhasilan melalui evaluasi denagan membandingkan program dan capiannya. Program tertulis sebagai pemimpin dievaluasi secara kontinui tanpa ewuh pakewuh dengan alasan gak penak dsb.

Selanjutnya pemimpin model seperti ini, tanpa disadari telah mengalami gangguan kepribadian. Tugas pemimpin di level atasnya perlu menyembuhkan gangguan kepribadian itu dengan mengantarkan ke psikolog atau yang lainnya untuk dapat menyembuhkannya. Orang dengan kepribadian seperti ini sebaiknya dilakukan scanning rutin agar gangguan itu bisa disembuhkan secara maksimal.

Pesan Imam Syafi’i: “Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap. Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.”

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.