Motivasi Anak, Kalah Besar Dibanding Motivasi Orang Tua

 

By: Syaifulloh
Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —-Anaknya kelihatan tersenyum ceria ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya. Tatapan mata kelihatan berbinar dan tidak nampak ada ketakutan ketika melihat kehadiran orang baru.

Ketika ditanya namanya, dia bisa menjawab dengan tangkas, baik nama lengkap maupun nama panggilannya. Sambil sesekali melihat ibunya yang ikut mendampingi si anak.

Diberi pertanyaan penjumlahan sederhana, dia juga bisa menjawab dengan baik dan benar. Walaupun menjawabnya dengan nada yang datar-datar saja tetapi si anak bisa mereapon semua pertanyaan yang diajukan.

Cerita tentang teman-temannya di sekolah, sambil tersenyum dia menceritakan kejadian-kejadian yang menyenangkan dan kejadian-kejadian yang menurutnya cukup tidak menyenangkan di sekolah.

Yang menyenangkan adalah pelajaran-pelajaran yang ada hubungannya dengan pelajaran agama Islam yang menjadi favoritnya karena memiliki cita-cita setelah lulus SD akan melanjutkan mondok di pondok pesantren sehingga itu memicu dia untuk memperkuat hafalannya.

Pelajaran umum juga disukainya, tetapi ada pelajaran yang kurang disukai yaitu pelajaran Matematika. Pelajaran yang dia merasa membebani pikirannya dalam belajar.

Masalah pelajaran Matematik inilah yang menjadi keluhan utama orang tuanya dan membuat risau kalau anaknya tidak bisa mengikuti ujian nasional kelak di kelas 6.

Kekhawatiran yang wajar dialami oleh orang tua manapun kalau anakanya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi belajar, motivasi sering dipandang sebagai faktor yang cukup dominan.

Jika disimpulkan dari observasi terlihat anak memiliki intelegensi normal dan itu merupakan modal utama dalam usaha mencapai prestasi belajar, disamping itu anak juga memiliki bakat keagamaan uang cukup kuat, namun keduanya tidak akan banyak berarti bila sebagai individu tidak memiliki moivasi untuk berprestasi sebaik-baikya.

Dalam hal ini, Setelah berdiskusi panjang lebar dengan ortunya, justru ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi belajar si anak, yaitu Ortu memiliki motivasi lebih tinggi dibanding anaknya dalam mencapai hasil belajar yang lebih tinggi akan mencapai hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan ortunya.

Ortunya memiliki motivasi tinggi agar anaknya bisa mengikuti berbagai macam prestasi yang baik agar tidak ketinggalan dengan yang lainnya. Ortu juga membandingkan kondisi dirinya sendiri waktu belajar masa kecil dahulu dibanding anaknya pada kondisi sekarang. Akibat seringnya anak diajak membandingkan kondisi dulu dan sekarang, si anak semakin rendah atau tidak memiliki motivasi sama ekali.

Yang justru jadi motivasi cukup cerah adalah setelah anaknya di observasi ternyata anaknya bisa matematika dengan metode dan pendekatan penyampaian yang memang berbeda dari yang selama ini dialaminya. Kondisi ini memunculkan harapan bahwa dia masih memiliki motivasi uang cukup dalam menyelesaikan masalah belajar dengan menggunakan gaya belajar yang sesuai dengan kondisi anak.

Ketika dicoba dengan model gaya belajar sesuai dengan anaknya, ternyata dia dengan mudah menangkap pelajaran sesuai dengan kemampuan dan materi yang disederhanakan khusus untuk memberi penguatan ilmu dasar matematika.

Ada orang tua yang fokus dengan ketidakbisaan anak padahal si anak memiliki kelebihan yang banyak tetapi orang tua terlalu fokus pada bagian kecil yang tidak bisa. Karena orang tua fokus kepada pelajaran yang tidak bisa, akhirnya orang tua memberi cap yang kurang baik pada anaknya sendiri.

Fokus pada keberhasilan untuk memberikan motivasi agar si anak juga menguasai pelajaran yang belum dikuasainya. Dorongan dan pujian pada kebaikan akan memberi dampak signifikan pada pengembangan kapasitas pikiran anak semakin terbuka menerima materi dan harapan baru dalam kehidupan.

Pesan Imam Syafi’i: “Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap. Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.”

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.