Hati-hati Saat Menatap Mata Orang 10 Menit

MEPNews.id – Pernah tahu mentalis, ilusionis, atau hipnotis meminta seseorang menatap matanya? Ya, itu salah satu taktik untuk mengalihkan kesadaran seseorang. Menatap mata orang lain 10 menit saja, orang awam bahkan bisa mengalami halusinasi.

Science Alert edisi 31 Mei 2018 mengabarkan ulang, psikolog Giovanni Caputo dari Universitas Urbino di Italia menemukan cara menginduksi kesadaran orang tanpa pakai obat-obatan. Penelitian pada 2015 ini melibatkan 20 relawan usia dewasa muda (termasuk 15 perempuan), dan 20 lainnya sebagai pembanding.

Dalam eksperimen, Caputo meminta 20 relawan duduk berhadapan dan saling menatap mata selama 10 menit. Tugas yang tampak sederhana ini ternyata bisa membawa pengalaman aneh berupa ‘keluar dari tubuh’ bagi para relawan. Bahkan, itu juga menyebabkan relawan bisa melihat halusinasi monster, kerabat mereka, dan diri sendiri di wajah pasangan yang matanya ditatap.

Saat eksperimen, para relawan duduk di dalam ruangan remang-remang. Pencahayaan di ruangan itu cukup terang bagi relawan melihat fitur wajah pasangan mereka, tetapi cukup rendah untuk mengurangi persepsi warna secara keseluruhan. Dalam kondisi ini, relawan diminta duduk berpasangan berhadapan dalam jarak 1 meter dari satu sama lain, lalu menatap mata pasangan 10 menit.

Sementara itu, kelompok kontrol yang terdiri dari 20 relawan juga diminta duduk menatap 10 menit di ruangan lain yang remang-remang, tetapi kursi mereka menghadap dinding kosong. Semua relawan diberitahu sangat sedikit tentang tujuan penelitian. Mereka hanya diberi tahu apa yang harus dilakukan dengan “pengalaman meditasi mata terbuka”.

Setelah 10 menit berlalu, para relawan diminta mengisi kuesioner terkait dengan apa yang mereka alami selama dan setelah eksperimen. Satu kuesioner difokuskan pada gejala adanya disosiasi yang mungkin dialami relawan. Satu lainnya menanyakan apa yang mereka rasakan di wajah pasangan (kelompok yang menatap mata) atau wajah mereka sendiri (kelompok kontrol).

Disosiasi adalah istilah yang digunakan dalam psikologi untuk menggambarkan berbagai macam pengalaman psikologis yang membuat seseorang merasa seolah-olah terpisah dari lingkungan terdekatnya. Gejala itu misalnya hilang ingatan, melihat sesuatu dalam warna yang terdistorsi, atau merasakan dunia tidak nyata. Gejala ini biasanya disebabkan kekerasan dan trauma; obat-obatan semacam ketamine, alkohol, dan LSD. Untuk eksperimen ini, penyebab distorsi adalah menatap wajah.

“Relawan dalam kelompok yang menatap mata pasangan mengatakan mereka memiliki pengalaman menarik yang tidak seperti apa yang mereka rasakan sebelumnya,” tulis Christian Jarrett dalam jurnal Research Digest of British Psychological Society saat itu.

Saat melaporkan penelitian untuk jurnal Psychiatry Research, Caputo menyatakan kelompok yang menatap mata mengisi kuisener lebih dahsyat dibanding kelompok kontrol. Ini menunjukkan, menatap mata orang lain selama 10 menit tanpa henti memiliki efek mendalam pada persepsi visual dan keadaan mental mereka.

Jarrett menjelaskan: “Pada kuisener tes disosiatif, mereka memberikan poin terkuat untuk item yang berkaitan dengan berkurangnya intensitas warna, suara yang terdengar lebih tenang atau lebih nyaring daripada yang diharapkan, keluar dari tubuh sendiri, dan waktu seolah berlarut-larut. Pada kuesioner wajah, 90 persen dari kelompok yang menatap mata mengaku melihat wajah cacat, 75 persen mengaku melihat monster, 50 persen melihat wajah mereka sendiri di wajah pasangan, dan 15 persen melihat wajah kerabat.”

Hasil eksperimen ini mengingatkan apa yang ditemukan Caputo pada 2010 dalam eksperimen serupa dengan 50 relawan yang menatap diri sendiri di cermin 10 menit. Makalah berjudul Strange-Face-in-the-Mirror Illusion melaporkan, setelah kurang dari satu menit para relawan mulai melihat apa yang digambarkan Caputo sebagai “ilusi wajah-aneh”.

“Deskripsi para relawan antara lain deformasi wajah mereka sendiri, melihat wajah orang tua yang masih hidup atau yang sudah meninggal; wajah-wajah tipikal seperti wanita tua, anak atau potret leluhur; wajah binatang seperti kucing, babi atau singa; dan bahkan wajah makhluk fantasi mengerikan,” tulis Susana Martinez-Conde dan Stephen L. Macknik di jurnal Scientific American. “Semua relawan penelitian melaporkan perasaan ‘jadi orang lain’ ketika berhadapan dengan wajah yang tampaknya tiba-tiba tidak dikenal. Beberapa relawan bahkan merasakan emosi yang kuat.”

Menurut Jarrett di British Psychological Society, kelompok yang menatap mata pasangan dalam eksperimen 2015 ini hanya mendapat skor rata-rata 2,45 poin lebih tinggi daripada kelompok kontrol dalam kuesioner (yang menggunakan skala lima poin di mana 0 adalah “tidak sama sekali” dan 5 adalah “sangat”). Meski demikian, Caputo mengatakan efeknya lebih kuat daripada yang dialami relawan yang melihat cermin dalam eksperimennya pada 2010.

Jadi apa yang terjadi di sini? Martinez-Conde dan Macknik menjelaskan, hal itu mungkin terkait dengan adaptasi neural. Dalam adaptasi ini, neuron dapat memperlambat atau bahkan menghentikan respons mereka terhadap stimulasi yang tidak berubah.

Ini terjadi ketika Anda menatap setiap adegan atau objek untuk jangka waktu yang lama. Maka, persepsi Anda akan mulai memudar sampai saat Anda berkedip atau saat adegan berubah, atau dijedakan oleh gerakan mata kecil tidak disengaja yang disebut microsaccades.

Baca Juga:

  • h
  • j

Facebook Comments

POST A COMMENT.