Pak Nuchin alias Pak Markesot

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.id —- Tidak rutin saya ke Jombang. Sekenanya saja dan se-sreg-nya saja. Sejak 2008 hingga sekarang 2018, sepertinya saya tak terlalu banyak ke Jombang. Mungkin belum sepuluh kali. Juga bukan dalam rangka pengajian meskipun yang saya datangi adalah pengajian Padhang Mbulan. Sebab saya kesana itu aslinya rekreasi. Terkadang saya bilang seperti orang-orang yang punya hobi mancing di weekend. Perkara pulang dari rekreasi dapat ilmu dan sebagainya, alhamdulillah.

Lebih-lebih lagi insya Allah bukan dalam rangka sok alim: “Rekreasinya saja ke pengajian, kok sok alim banget sih?” Apalagi jika dibalik: “Kalau ngopi ke pantai berarti sedang ngaji ya, kalau ke pengajian sedang rekreasi gitu ya?” Sebagaimana orang shopping di mall, terkadang nyeletuk: “Alhamdulillah, saya tadi di mall mendapat hikmah yang banyak. Saya bagaikan ditegur, diingatkan dan diajari langsung oleh Tuhan beberapa tabir hikmah tatkala melihat baju yang mahal. Kok bisa baju mahal ya, saya yang khilaf dan gelap atau gimana ya…” Begitu jugalah saya ke Jombang. Pokoknya ya ke Jombang, dolan-dolan, dan semoga dapat hikmah.

Maka di luar jadwal rencana malam itu saya mendadak ingin ke Jombang. Mulanya tak ingin kesana. Tanya tiket kereta api ternyata masih ada. Jam 7 pagi langsung tancap naik KA Ekonomi ke Jombang. Sore sampai lokasi. Dan usai malam Padhang Mbulan bertema Menyorong Rembulan itu, pulangnya ke Banyuwangi saya nunut mobil rombongan teman-teman Jamaah Maiyah Rampak Osing Banyuwangi yang sejak awal sudah berada di Jombang.

Nah, di Jombang kali ini, saya bertemu dan sempat berfoto dengan Pak Nuchin. Nama asli dan yang telah di-selameti oleh orang tuanya hanyalah nama Nuchin ini. H-nya pakai ch, ejaan lama, bacanya Nuhin. Begitu uraiannya. Kemudian nama itu ia gonta ganti sendiri sesukanya, termasuk katanya pernah ia ganti dengan nama Abdul Gofar. Lalu saya tanya: “Kalau Markesot itu siapa yang ngasih nama Pak?”

“Ya saya sendiri yang ngasih nama. Nama Markesot itu saat saya di Kalimantan,” katanya. Nah, nama Markesot inilah yang kemudian di tahun 1990-an dijadikan tokoh dalam penulisan oleh Emha Ainun Nadjib di kolom Surabaya Post, yang kemudian diterbitkan oleh Mizan dalam bentuk dua seri buku: Markesot Bertutur dan Markesot Bertutur Lagi.

Difoto dengan camera handphone-nya Mas Lazuardi dari Malang, saya dan Pak Markesot ini berfoto bareng. Dan beliau juga guyon: “Cak Nun itu bolak balik memfoto saya. Lha saya ini heran sendiri: koen iku gak apal-apal ta ambek rai-ku Nun, lha koen iku lak koncoku ket cilik se, mosok koen gak apal-apal, mbok fota-foto ae rai-ku iki Nun, hahahahaha…” Sambil tertawa renyah.

Ya, Markesot seperti yang pernah dituliskan Cak Nun dalam pengantar bukunya Markesot Bertutur Lagi merupakan kawan kecilnya ketika sama-sama duduk di bangku Sekolah Dasar di Jombang. Lebih spesifik lagi Cak Nun menuliskan dalam pengantar bukunya itu: “Ia adalah tipe manusia egaliter murni. Ia tak punya kompleks kelas, feodalisme, kepriyayian atau ke-‘orang-kecil’-an.” Sehingga tatkala diajak naik ke panggung oleh Cak Nun, Cak Markesot tidak nervous dan tenang-tenang saja meskipun dihadapan ribuan orang yang hadir sekalipun, serta terdiri dari berbagai strata kelas sosial yang beragam.

Malam itu saya sempat bertemu dan bercanda-canda singkat dan sebentar dengan Pak Markesot alias Pak Nuchin ini. Dan semoga saya mendapatkan “sawab”-nya. (Banyuwangi, 31 Mei 2018)

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.