Permainan Tradisional, Salah Satu Kegiatan Terapi Anak Autis: Mudah, Murah Meriah

By: Syaifulloh,

Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Begitu gembiranya anak-anak yang memiliki pengalaman permainan tradisional, hampir di setiap lingkungan anak- anak melakukan permainan tradisional mulai gobak sodor, bermain lompat tali, bermain kelereng, membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, bermain petak umpet, meriam, meniup balon, meletupkan daun, berenang di sungai, bermain ban, bermain gendongan dll.

Bisa jadi dengan segala macam permainan ini secara tidak sadari para orang tua dahulu telah memberikan jalan terbaik kepada anak-anak yang mengalami masalah perkembangan bisa diselesaikan masalahnya dengan baik. Zaman dahulu belumlah dikenal istilah autis baru beberapa dekade istilah autis berkembang di Indonesia.

Apa sebetulnya autisme itu? adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang: interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik perkembangan terlambat atau tidak normal.

Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil, biasanya sebelum anak berusia 3 tahun. Hasil penelitian terbaru menunjukkan satu dari 150 balita di Indonesia kini menderita autis. Laporan terakhir badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2005 pun memperlihatkan hal serupa, yang mana perbandingan anak autis dengan anak normal di seluruh dunia, termasuk Indonesia telah mencapai 1:100.

Di Indonesia, tren peningkatan jumlah anak autis juga terlihat. Meski tidak diketahui pasti berapa jumlahnya karena pemerintah belum pernah melalukan survey. Satu dari seribu anak Indonesia terkena gangguan autis, mengenai kebenaran pernyataan tersebut, belum pasti, mungkin saja hanya spekulasi dan tidak berdasarkan pada riset atau sensus penderita autis di setiap wilayah. Jika diestimasikan bahwa jumlah anak usia dini di Indonesia sekitar 20% saja, berarti jumlah anak Indonesia 65 juta jiwa dari sekitar 280 juta total penduduk indonesia, berarti jika perseribu anak salah satunya adalah autis, jumlah anak dengan gangguan autis berjumlah sekitar 65.000 anak (Yayasan cinta anak bangsa, 2010).

Permasalahan yang perlu dicermati terkait autis adalah kebanyakan orang tua anak autis tidak menerima apabila buah hati mereka menyandang autis sehingga terjadi keputusasaan untuk mengasuh anaknya. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan para orang tua tentang autis. Penghambat proses penyembuhan anak autis tidak hanya faktor mahalnya biaya terapinya saja, penanganan masalah anak-anak autis di Indonesia, bila dibandingkan dengan negara lain, boleh dibilang masih kurang memadai.

Sudah jamak diketahui bahwa untuk menangani anak inklusi dibutuhkan anggaran yang layak, dokter ahli, lembaga penelitian, obat-obatan, alat terapi, klinik, terapis, dan pusat terapi yang murah. Wajar bila banyak keluarga anak-anak istimewa ini, khususnya dari kalangan dhuafa, makin dibuat menjerit oleh tiga hal: pertama oleh berbagai kepedihan mengasuh anak-anak tersebut yang memiliki gangguan amat kompleks dan seperti tak berakhir, kedua oleh biaya terapi yang amat mencekik dan ketiga oleh bayangan ketakutan tentang masa depan mereka yang memilukan.

Seiring dengan bertambahnya sekolah inklusi di Indonesia, metode-metode terapi yang efektif dan bersahabat dengan para siswa yang biasanya dapat diperoleh dengan mengeluarkan biaya besar pun bisa direkomendasikan ke setiap sekolah inklusi agar semua siswa khususnya penyandang autis dapat merasakannya.Dalam tataran operasional di sekolah, sekalipun sudah banyak sekolah yang mendeklarasikan sebagai sekolah inklusi, tetapi dalam implementasinya masih banyak yang belum sesuai dengan konsep-konsep yang mendasarinya.

Menurut Mayer (2001) seorang anak yang belajar dengan memanfaatkan penglihatan, pendengaran, dan pemahaman akan lebih mudah untuk memahami sesuatu. Berdasarkan teori tersebut, metode yang tepat untuk mengembangkan potensi anak autis di sekolah dasar adalah dengan mengadakan permainana tradisional.

Metode ini biasa disebut dengan Paying tradisional teraphy. Terapi permainan tradisional hampir semua cocok untuk anak autis. Hal ini dikarenakan permainan ini menitikberatkan pada daya fokus atau konsentrasi bagi anak autis, dimana anak autis itu sendiri tidak mampu membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.

Permainan tradisional mulai gobak sodor, adalah permainan tradisional yang menekankan pada motorik kasar dan melatih konsentrasi pada anak autis, permainan tradisional iki bila rutin diberikan pada anak inklusi akan mempengaruhi koordinasi alat gerak dan memori otaknya. Ketika anak melompat akan melatih keseimbangan dan iki sangat bagus memberikan respon untuk anak autis.

Bermain lompat tali, bagi anak autis merupakan terapi yang sangat baik karena dia belajar menggunakan rangkaian gerak dan ketepatan berpikir. Dengan diberi ketinggian lompatan pertama tidak lebih dari 30 cm akan membuat anak dapat menggunakan logika sederhana juga koordinasi gerak.

Bermain kelereng, bagi anak autis terapi ini sangat membantu konsentrasi anak, dia akan belajar memotivasi dirinya untuk memperoleh sesuatu dengan cara yang benar. Permainan ini melatih kejujuran dan dengan permainan ini dapat menjadikan Ananda mengerti artinlengorbanan.

Membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, terapi ini melatih motorik halus Ananda sebagai langkah awal untuk menuju anak autis belajar menulis. Dengan terapi ini, anak autis akan belajar pola dan kehati-hatian ketika membuat desain gambar. Pada saat terapi pertama si anak autis mungkin hanya memotong-motong saja, tapi lambat laun akan belajar memadamkan rangkaian potongan itu, saat mau memasang itulah sebutnya logikanya sudah mulai bisa berfikir.

Bermain ban, dengan bermain menggelindingkan ban merupakan terapi sederhana dan bisa dilakukan ditempat yang aman dan memastikan keamanan anak autis terhindar dari bahaya kendaraan. Terapi iki sangat bagus untuk melatih koordinasi antara tangan, keseimbangan, dan koordinasi kaki saat bergerak. Dengan terapi ini dapat melatih keberanian anak dalam menghadapi masalah, dia bisa melatih segala kemungkinan dari roda yang berputar tanpa arah. Roda berputar hanya bisa dilakukan oleh sang penggerak yaitu si anak sendiri.

Terapi ini bisa dilakukan oleh sekolah-sekolah yang memiliki murid-murid autis yang berkekurangan. Terapi yang mudah, murah dan bisa dilakukan oleh siapapun. Tidak perlu membayar mahal dan menghabiskan biaya yang besar untuk mengatasi anak inklusi dengan tarap perkembangan kognitif dan psikomotorik serta afektif yang masih bisa dikembangkan.

Nasihat Imam Syafi’i : Orang yang paling zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah : orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati) di depan orang yang tidak menghargainya, Menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat dan Mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.”

Wassalam

Facebook Comments

POST A COMMENT.