Tauladan untuk Membangun Karakter Anak

tom kolom kecilOleh: Teguh Wahyu Utomo

MEPNews.id – Beberapa kasus kenakalan bahkan kejahatan di sekolah atau yang melibatkan anak sekolah sempat mencuat menjadi berita besar tapi negatif. Kalangan orang tua dan pendidik sampai-sampai mengelus dada dibuatnya. Kalangan pemerintah dan aparat sudah ambil tindakan. Belakangan, pemerintah mengeluarkan program Penguatan Pendidikan Karakter.

Bagaimana mengajari anak untuk berkarakter baik? Kita semua ingin anak-anak memiliki kecerdasan akademik dan ketrampilan hidup. Kita tentu juga ingin anak-anak punya karakter baik hati, cinta damai, sabar, lembut, bisa mengendalikan diri dan lain-lain. Nah, kuncinya bukan cuma di pembelajaran verbal. Yang lebih penting justru keteladanan. Dengan mencontoh langsung pada orang lebih dewasa, anak-anak lebih bisa terarah ke karakter tertentu.

Nah, berikut ini cara-cara memperkenalkan konsep karakter pada anak lewat tauladan langsung.

  1. Cinta

Anak-anak secara verbal bisa diajari apa itu arti cinta. Tapi, apakah mereka bisa mengerti bahwa mencintai kadang berarti berkorban untuk orang lain dan kadang-kadang harus mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri? Nah, beri contoh nyata dulu bagaimana Anda berkorban untuk anak-anak. misalnya, Anda menyisihkan waktu istirahat untuk menolong anak tertentu. Kemudian, tantanglah anak untuk memberi kesempatan lebih dulu pada teman atau saudaranya ketika saatnya melakukan sesuatu yang menyenangkan. Misalnya, saat waktunya mendapatkan kue, tantang anak untuk lebih dulu memberikan kue itu pada temannya. Belajar untuk menyisihkan sejenak keinginan pribadi dan mendahulukan keinginan bagi orang lain adalah karakter cinta.

  1. Damai

Di kelas, sesekali terjadi ‘drama’yang dimainkan satu atau dua anak. Ada anak yang suka berulah sehingga membuat suasana kelas jadi gaduh. Pensilnya jatuh saja bisa ia gunakan alasan untuk menuduh teman-teman lain merusaknya. Menghadapi ‘drama’ ini, Anda harus lebih dulu bersikap tenang dan menghindari konflik. Lindungi anak-anak lain yang jadi korban ‘drama’ si pembuat ulah. Setelah itu, dalam kondisi terpisah dari teman-teman, tantang si biang onar untuk bersikap lebih damai. Seringkali, yang diperlukan untuk menghentikan pecahnya konflik adalah segera mengingatkan si biang onar bahwa hal itu tidak benar.

  1. Sabar

Oh, ini sulit! Semakin muda anak, semakin sulit. Kebanyakan anak tidak sabar menunggu antrian. Waktu pelajaran lama, anak mengeluh lalu gelisah. Nah, menghadapi ini, tunjukkan lebih dulu kesabaran Anda. Saat anak mengeluh atau tidak konsentrasi belajar, Anda jangan langsung marah. Tersenyumlah dulu pada anak-anak. Lalu, bikin tantangan kesabaran pada anak. Ingatkan anak bahwa kesabaran itu penting. Lalu dorong mereka untuk mencoba menikmati antrian, menikmati pelajaran, sampai tuntas tanpa mengeluh. Di tengah waktu, Anda boleh menawarkan cara-cara yang dapat diterima agar anak bisa menikmati tantangnnya sampai ke tujuan akhir.

  1. Baik

Perilaku baik adalah yang kita inginkan dari anak-anak. Maka, beri contoh mereka cara untuk mengenali kebutuhan anak lain lalu tawarkan kebaikan kepada anak lain yang butuh. Misalnya, tunjukkan Anda menyumbang sesuatu pada panti asuhan. Lalu, tantang anak-anak untuk memberikan sumbangan apa saja yang mungkin pada anak-anak panti. Tunjukkan Anda menolong anak yang terjepit jendela, lalu minta anak-anak menunjukkan tindakan yang sama saat dibutuhkan.

  1. Kelembutan

Konsep ini sulit dijelaskan pada anak-anak, tapi mudah untuk dicontohkan. Yang enak adalah saat Anda menemukan contoh kurangnya sikap kelembutan. Misalnya, jika Anda melihat anak mengatakan sesuatu yang kasar atau menyakitkan (bahkan jika itu kenyataan), maka hentikan. Lalu katakan, “Sttt… bicaralah yang lembut. Kata-kata kasar bisa menyakiti perasaan seseorang.” Lebih baik tidak berkomentar mengenai topik itu sama sekali. Atau tunjukkan cara lebih lembut untuk mengkomunikasikan kata-kata pada orang lain.

  1. Kontrol Diri

Yang satu ini kadang tumpang tindih dengan ‘kesabaran’. Salah satu karakter besar yang dapat dilakukan anak adalah kontrol diri. Sebagai pengasuh atau pendidik, kita harus terus memantau perilaku anak demi kehidupan masa depan mereka. Tunjukkan lebih dulu Anda tidak mudah marah, tidak gampang sedih, tidak langsung meledak-ledak, saat menghadapi situasi tertentu. Lalu, tantang anak untuk kontrol diri saat menghadapi sesuatu. Misalnya, minta anak untuk menghitung lebih dulu satu sampai sepuluh sebelum menanggapi kata atau perbuatan yang harusnya membuat mereka emosi. Nah, dalam jeda sekian detik itu, ingatkan mereka untuk bertanya pada diri sendiri, “Apa ini yang saya ingin lakukan? Apakah ini hal yang tepat untuk saya katakan?” Latihan menahan disi sesaat ini membuat anak lebih hati-hati dalam melampiaskan emosi.

 

Penulis adalah:

  • praktisi media, trainer motivasional
  • bisa dihubungi di cilukbha@gmail.com, Facebook.com/teguh.w.utomo, Instagram.com@teguh_w_utomo

Facebook Comments

POST A COMMENT.