Mengapa Fungsi Jantung Menurun di Ketinggian?

MEPNews.id – Pernah naik gunung atau tempat tinggi lainnya? Pernah merasakan kepala pening di ketinggian? Ya, di tempat-tempat tinggi, fungsi jantung jadi berkurang. Ini mengurangi jumlah darah yang dipompa ke seluruh tubuh dalam setiap detakan jantung. Berkurangnya oksigen yang diangkut darah ke kepala bisa membuat pusing dan tubuh lelah.

Penelitian baru yang diterbitkan The Journal of Physiology yang dipublikasikan EurekAlert! edisi 28 Mei 2018 bisa menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Temuan akan menjadi penting bagi orang yang tinggal, bepergian, beraktivitas atau berolahraga di tempat tinggi.

Selama bertahun-tahun, beberapa teori diusulkan untuk menjelaskan pengurangan jumlah darah yang dapat dipompa jantung. Ini bahkan menarik para ilmuwan yang terlibat dalam pertemuan puncak pertama di Gunung Everest pada 1950-an.

Sekarang ditemukan, pada ketinggian lebih dari 3000 meter jumlah oksigen yang rendah di udara menyebabkan (1) penurunan volume darah yang beredar di tubuh, dan (2) peningkatan tekanan darah di paru-paru. Para peneliti menemukan, kedua faktor ini berperan dalam pengurangan volume darah yang dapat dipompa jantung pada setiap detakan. Tetapi, yang terpenting, tidak satu pun dari faktor-faktor ini mempengaruhi kemampuan kita untuk berperforma maksimal.

Penelitian ini penting karena bisa meningkatkan pemahaman tentang bagaimana tubuh manusia beradaptasi dengan area tinggi. Ini membantu membuat aktivitas eksplorasi dan pariwisata kawasan pegunungan jadi lebih aman. Ini juga dapat membantu memfasilitasi kinerja berbagai acara olahraga yang berlangsung di ketinggian.

Penelitian dilakukan Cardiff Metropolitan University (Wales), bersama University of British Columbia Okanagan (Kanada) dan Loma Linda University School of Medicine (Amerika Serikat). Para peneliti mengumpulkan data bagaimana pembuluh darah jantung dan paru beradaptasi dengan kehidupan yang sedikit oksigen. Para peneliti dan peserta penelitian melakukan studi dua minggu di fasilitas penelitian tepencil The Barcroft Laboratory di White Mountain, California.

Meski demikian, ukuran sampel penelitian ini relatif kecil. Efek dari mekanisme ini juga hanya dibandingkan pada kalangan individu keturunan Eropa. Selain itu, ekokardiografi yang digunakan untuk menilai fungsi vaskular jantung dan paru ini tidak invasif dan tidak langsung.

Michael Stembridge, kepala peneliti pada proyek tersebut, berkomentar tentang rencana penelitian masa depan. “Saat ini, sejumlah tim peneliti sudah siap berangkat untuk ekspedisi yang berfokus pada penduduk asli dataran tinggi yang tinggal dan bekerja di industri pertambangan di pegunungan Andes. Sepertiga dari orang-orang ini mengalami sakit jangka panjang karena tempat tinggal mereka di ketinggian. Kondisi ini disebut ‘Chronic Mountain Sickness‘. Kami berharap bisa menerapkan temuan ini untuk membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan populasi dengan memajukan pemahaman kita tentang kondisi dan menjelajahi kemungkinan terapi.”

Baca Juga:

Facebook Comments

POST A COMMENT.