Jangan Mau Kalah Sama Mereka Ini

tom kolom kecilOleh: Teguh W. Utomo

MEPNews.id – Dalam sejumlah kesempatan terjun di Kelas Inspirasi, saya bertanya pada anak-anak SD di daerah terpencil. “Siapa yang bercita-cita ingin menjadi penulis?”Tidak pernah ada satu pun murid yang menunjukkan diri. Saya prihatin karena tak satu pun yang paham tentang ‘menjadi penulis.’

Bukan cuma di level anak-anak SD di kawasan terpencil, pertanyaan serupa juga sering saya ajukan pada orang-orang dewasa yang mengundang saya untuk memberi pelatihan penulisan. Jarang sekali yang mengaku bercita-cita menjadi penulis. Ada beberapa yang mengaku sudah menulis untuk koran atau majalah, tapi tetap saja tidak bercita-cita menjadi penulis.

Maka, saya memotivasi orang-orang yang tidak punya cita-cita menjadi penulis itu dengan menunjukkan kisah-kisah orang yang sukses karena menulis. Nah, di bawah ini beberapa orang-orang yang telah mendapatkan manfaat langsung dari menulis;

  • Joanne Kathleen Rowling berada di jurang kehancuran. Jatuh miskin, keluarga berantakan, sampai-sampai ia harus hidup dari dana bantuan sosial. Lalu, ia menulis kisah Harry Potter. Laris-manis terjual ke seluruh dunia. Hidup J.K. Rowling langsung berobah. Dari terlunta-lunta menjadi salah satu wanita terkaya. Bukan sihir Harry Potter yang menyebabkan perobahan itu, tapi kemampuan J.K. Rowling untuk menulis.
  • Ernesto Guevara bersepeda-motor keliling Amerika Selatan. Ia melihat berbagai penderitaan, lalu mencatat semuanya di dalam buku harian. Penderitaan yang ia saksikan itu menggugahnya menjadi ‘Che’ si revolusioner terkemuka dunia. Tulisan-tulisan dalam ‘Motorcycle Diary‘ memberinya ilham untuk menumbangkan penjajahan dan penindasan di dunia.
  • Vaclav Havel sasterawan, dramais, dan penulis di Cekoslovakia. Pada 1960-an, karya-karyanya mulai menyinggung politik kiri haluan kiri negerinya. Pada 1977, ia menuliskan manifesto HAM berjuluk Charter 77. Meski dijebloskan ke penjara, ide dan pemikirannya mengalir lewat berbagai tulisan. Saat terjadi ‘Velvet Revolution‘, ia pun diangkat menjadi presiden.
  • Raden Ajeng Kartini putri berdarah biru aristokrat Jawa. Ia bisa menikmati pendidikan Belanda, namun dipaksa menikah dengan pria beristri tiga. Ia juga menyaksikan para wanita di zamannya tidak mendapat pendidikan layak. Lalu, ia rutin menulis surat pada teman-temannya di negeri Belanda mendiskusikan keadaan wanita di Hindia Belanda. Lewat surat-surat yang dibukukan berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ ini, Kartini dihormati sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita Indonesia.
  • Bacharuddin Jusuf Habibie presiden ketiga Republik Indonesia menderita psikosomatis malignant setelah istrinya, Ainun, meninggal 22 Mei 2010 di Jerman. Sedih, linglung, depresi berat, dan sedikit lagi menjadi gila. Menurut tim dokter, jika tak berbuat apapun, Habibie bisa mengikuti jejak istrinya. Dokter memberi empat saran. Pertama, dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, di rumah tapi dirawat tim dokter dari Indonesia dan Jerman. Ketiga, curhat kepada orang-orang dekat dengan Habibie dan Ainun. Keempat, menulis. Habibie memilih yang keempat. Maka, terciptalah buku laris ‘Habibie & Ainun’. Buku itu difilmkan dan ditonton jutaan orang. Selain sembuh dari depresi, tulisan Habibie bisa menginspirasi banyak orang.

Dari lima kasus di atas, saya ingin menggambarkan bahwa dengan menulis maka semua kemungkinan bisa Anda capai. Dengan mengungkapkan fakta-fakta dan pemikiran lewat tulisan, Anda bisa menjadi apa saja dan mendapatkan apa saja. Ini bukan omong doang karena sejumlah mahasiswa saya sudah membuktikan.

Teguh W. Utomo adalah

  • praktisi media dan trainer motivasional
  • bisa dihubungi di cilukbha@gmail.com, Facebook.com/teguh.w.utomo, Instagram.com@teguh_w_utomo

Facebook Comments

POST A COMMENT.