Penguatan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidkan Butuh Model Berkarakter

By: Syaifulloh

Penikmat Pendidikan

MEPNews.id —- Mencermati setiap perubahan pada bidang pendidikan yang sudah berlaku selama ini menunjukkan bahwa segala macam konsekuensi logis dari penyesuaian kemajuan zaman tidak lepas sebagaimana cepat manusia bisa bergerak maju agar dapat mengikuti perubahan yang begitu cepat dari seluruh aspek kehidupan.

Perubahan yang terus menerus terjadi tentang masalah pendiidkan sepertinya adalah hal yang lazim dengan melihat fenomena kebutuhan yang terus berkembang terutama masalah kurikulum dan isi serta implementasinya.

Untuk membangun manusia seutuhnya di bidang pendidikan dibutuhkan manusia yang “utuh” juga dengan memiliki kekuatan bidang agama, kognitif, Afektif, psikomotorik sebagai bahan para pendidik untuk menyampaikan kandungan ilmu dan karakter yang akan diberikan.

Bila melihat perkembangan pendidikan, beberapa tahun ini sudah melaksanakan pendidikan karakter bagi semua satuan pendiidkan melalui integrasi karakter di dalam pembelajaran. Munculnya pendidikan karakter sebagai wacana baru pendidikan nasional bukan merupakan fenomena yang mengagetkan. Sebab perkembangan sosial politik dan kebangsaan ini memang cenderung menghasilkan karakter bangsa. maraknya perilaku anarkis, tawuran antar warga, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, korupsi, kriminalitas, kerusakan lingkungan dan berbagai tindakan patologi lainnnya merupakan indikasi masalah besar dalam pembangunan kararter bangsa ini.

Melihat kenyataan ini yang terjadi di masyarakat betapa beratnya pendidkan karakter ini di masyarakat keseluruhan . Hal tersebut telah menumbuhkan kesadaran betapa mendesaknya agenda untuk melakukan terobosan guna membentuk dan membina karakter para siswa sebagai generasi penerus bangsa.

Sejumlah ahli pendidikan mencoba untuk merumuskan konsep-konsep tentang pendidikan karakter, dan sebagiannya lagi bahkan sudah melangkah jauh dalam mempraktekannya. Hal ini perlu dilakukan agar kita (umat Islam, yang merupakan mayoritas warga bangsa ini) tidak asing dengan tradisi keilmuannya sendiri.

Menilik Perpres No. 87 Tahun 2017 tentang : Peraturan Presiden (Perpres) Nomor: 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang sudah ditandatangani oleh Presiden pada tanggal 6 September 2017 merupakan bentuk dari persiapan siswa menghadapi masa depan di Indonesia agar negara ini tetap merdeka tidak dijajah oleh bangsa lain dalam bentuk apapun.

Inilah yang menjadi pertimbangan dan alasan diterbitkannya Perpres Karakter ini. Dengan pertimbangan dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab, pemerintah memandang perlu penguatan pendidikan PPK.

Dalam Perpres PPK yang sudah diterbitkan bertujuan untuk : a. membangun dan membekali Peserta Didik sebagai generasi emas Indonesia Tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan; b. mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi Peserta Didik dengan dukungan pelibatan publik yang dilakukan melalui pendidikan jalur formal, nonformal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia; dan c. merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik, tenaga kependidikan, Peserta Didik, masyarakat, dan lingkungan keluarga dalam mengimplementasikan PPK.

Pada bagian lain Perpres ini, Penyelenggaraan PPK pada Satuan Pendidikan jalur Pendidikan Formal sebagaimana dimaksud dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan: a. Intrakurikuier; b. Kokurikuler; dan c. Ekstrakurikuler, dan dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan Satuan Pendidikan Formal.

Bagaimana implementasinya Peprpres PPK ini di sekolah? kalau menunggu Juknis dan segala macam pelatihan pasti akan menunggu waktu yang lama sekali sehingga bisa menjadi kurang maksimal. Karena kegiatan PPK ini adalah kegiatan penguatan yang bisa dilakukan tanpa menggunakan dana, Hanya butuh model dari para pendidik dan tenaga kependidikan agar bisa dilihat dan ditiru oleh peserta didik.

Model dari stakeholder Sekolah bisa menjadi teladan yang berbekas ke dalam sanubari siswa. Pola asah, asih, asuh menjadi kesatuan perjalanan penguatan pendidikan karakter terasa dalam prilaku sehari-hari. Semua melaksanakan sebagai kebutuhan dan keutuhan dalam pencapaian visi, misi, tujuan Sekolah melalui sosialisasi yang terukur.

Sosialisasi perencanaan implementasi pendidikan karakter ini penting dilakukan pada awal tahun pelajaran agar segenap warga sekolah mengetahui bahwa sekolah merencanakan dan melaksanakan program penguatan pendidikan karakter. Dengan sosialisasi ini seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab yang sama. Pemahaman secara komperhensif semua sumber daya yang ada di sekolah yang diperlukan dalam pelaksanaan PPK.

Adanya komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur. Pelaksanaan pekerjaan / tugas secara kolaboratif untuk mewujudkan visi, misi, tujuan, sasaran, rencana dan program-rogram implementasi Penguata pendidikan karakter. Perlu adanya perubahan secara terus menerus (continuous improvement) yang mengarah sesuai dengan visi, misi, tujuan, sasaran,rencana dan program peningkatan implememntasi penguatan pendidikan karakter. Dapat menginventarisasikan budaya dan sumberdaya yang belum ada namun harus digunakan dalam pelaksanaan penguatan pendidikan karakter.

Penyusunan rencana program madrasah harus dapat mengakomodir berbagai program yang berkaitan dengan pengembangan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab, Selain itu, penyusunan rencana program sekolah harus melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (stake holder), misalnya komite sekolah, guru, siswa, tata usaha/karyawan, orangtua siswa, tokoh masyarakat yang memiliki perhatian kepada sekolah. Dengan cara itu diharapkan rencana pelaksanaan PPK menjadi “milik” semua warga sekoah dan pihak lain yang terkait. Keterlibatan berbagai unsur sesuai dengan kemampuan masing-masing akan mewujudkan “rasa terwakili” dan “rasa memiliki” terhadap hasil sehingga pada akhirnya merasa wajib untuk melaksanakan PPK tersebut.

Manajemen Berbasis sekolah (MBS) dalam pelaksanaan PPK, sebagaimana diamanatkan dalam berbagai peraturan perundangan pendidikan bahwa semua satuan pendidikan harus memenuhi SNP, yaitu meliputi; Standar isi, Standar proses, Standar kompetensi lulusan, Standar pendidik dan tenaga kependidikan, Standar sarana dan prasarana, Standar pengelolaan, Standar pembiayaan, dan Standar penilaian. Upaya-upaya yang ditempuh untuk pemenuhan SNP tersebut melalui manajemen sekolah dilaksanakan dengan merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan semua program dan kegiatan agar komponen-komponen SNP dapat terpenuhi. Penerapan manajemen sekolah inilah diharapkan dapat diintegrasikan dengan penguatan pendidkan karakter (PPK) sesuap Perpres 87 tahun 2017 baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pengendalian program sekolah .

Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya perilaku. prinsip-prinsip yang digunakan dalam penguatan pendidikan karakter dilakukan melalui setiap mata pelajaran, dan dalam setiap kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler.

Kegiatan pengkondisian agar siswa-siswa memiliki bekal sebagai manusia yang beriman, bertakwa kepada Alloh SWT dan berakhlak mulia dalam bentuk mengembangkan nilai religius, untuk itu siswa dibiasakan shalat dzuhur dan dhuha berjamah yang dilakukan di Mushalla atau di kelas. Disamping itu siswa juga dibiasakan berdoa sebelum dan sesudah pelajaran; membaca Al Qur’an/Juz Amma dan terjemahannya, dan Asmaul Husna pada pagi hari; kultum, pesantren kilat Ramadhan, pelaksanaan buka puasa bersama, pelaksanaan ‘Idul Qurban, merayakan hari-hari besar keagamaan.

PPK juga bisa dilakukan melalui guru piket untuk menyambut kedatangan siswa pagi hari di gerbang sekolah sambil bersalaman dan diiringi dengan musik dan lagu- lagu perjuangan dan juga lagu-lagu daerah serta lagu bernuansa islam dan Asmaul Husna menyesuaikan satuan pendiidkan masing-masing. Setiap ruangan madrasah baik di dalam maupun di luarnya dihiasi dengan kata-kata mutiara, semboyan, ayat Alqur’an dan hadist nabi. Semua kegiatan ini terprogram secara baik dan dilaksanakan dengan pola yang sesuai standart agar PPK dapat mencapai tujuan.

Setiap satuan pendidikan bisa melakukan segala macam kegiatan dalam rangka pelaksanaan Perpres 87 tahun 2017 ini dengan mudah dan menyenangkan demi mempersiapkan generasi yang berkarakter dan berkualitas.

Sangat penting dilakukan oleh Kementerian sebagai leading sektor Perpres ini: Jangan sampai membuat blunder lagi dengan memberikan segala macam pelatihan yang hanya menghasilkan format-format yang harus dibuat dan dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan setiap hari di satuan pendidikan. Dengan berbagai macam format yang merepotkan guru ini, justru esensi dari Perpres sulit untuk diterapkan karena ketergantungan untuk mengisinya pada setiap mengajar.

Esensi dari penguatan pendidkan karakter (PPK) ini yang juga tidak kalah penting adalah: Bagaimana para pemimpin negeri ini memberi tauladan menerapkan karakter ini dengan baik, guru dan peserta didik melihat model kepemimpinan nasional ini adalah cerminan dari karakter yang sudah dicapai dari hasil pendidikan Indonesia yang sudah dijalankan.

Pesan Khalifah Ali Bin Abi Tholib RA: Tiada kekayaan lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan. Dan tiada pembantu yang lebih baik daripada musyawarah.

Wassalam

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.