Melali ke Dalam Diri and Happy Birthday to Simbah

Oleh: Moh. Husen

MEPNews.is —-Melali itu bahasa Bali. Artinya jalan-jalan. Alkisah seorang penikmat kopi hitam menuturkan kepada kawan dialognya, bahwa puasa dengan lapar dan dahaganya itu merupakan sebuah “pemaksaan” kepada si pelaku puasa untuk ditarik berjalan ke dalam melihat dirinya sendiri.

Setidaknya dia pasti ingat perut yang lapar. Dia juga ingat akan metabolisme tubuh. Kehebatan dan kecanggihan daya olah makan yang masuk ke tubuh ini sistematika otomatisnya canggih banget. Lapar membuat berfikir kok bisa lapar sih? Lapar itu apa? Kok seperti ada rasa panas di perut? Bagaimana aliran darah ketika lapar? Puasa membikin kita menengok kebawah, tepatnya di perut kita yang sedang dilatih kuat dan sehat melalui lapar.

“Puasalah agar menyehatkan,” sabda baginda Nabi.

Tapi beberapa kawan si penikmat kopi mengingatkan bahwa belum tentu orang merenungi yang macem-macem terhadap puasa. Puasa cukup dijalani saja. Kemudian diskusi agak mulai menghangat sedikit tatkala ada kawan pemikir yang menyampaikan bahwa orang yang diberi akal tapi nggak mau berfikir itu bagaikan bintang ternak.

“Ula’ika kal an’am. Bal hum adhol. Mereka yang punya mata tapi tak digunakan untuk melihat, punya telinga tapi tak digunakan untuk mendengar, punya akal tapi tak digunakan untuk berfikir. Maka mereka seperti bintang ternak. Bahkan lebih rendah. Ingat! Quran menyebut dengan bintang ternak. Yakni simbolisasi binatang yang digiring sana digiring sini oke-oke saja. Disuruh shalat, puasa, zakat, dan sebagainya, dikerjakan saja tanpa pemikiran dan perenungan kenapa disuruh shalat, zakat, puasa, dan lain sebagainya.”

“Lantas bagaimana kalau kita ingin merenungi sesuatu? Bagaimana cara merenung, katakanlah merenungi puasa?” Sebuah pertanyaan langsung merespon.

“Kamu sudah gila ya?” Spontan dia langsung merespon pula dengan ketus, “merenung ya merenung, gitu aja. Tinggal ingin dan merenung. Ya pokoknya ingin merenung. Kayak kamu merenungi nasibmu sekarang ini yang ternyata nggak bisa ke Jombang hari ini, sehingga kamu akhirnya berkompromi dari pada stress oleh nasib akhirnya sepakat bahwa tidak bisa ke Jombang adalah nasib yang terbaik, sambil kamu sombong-sombongkan sendiri: siapa hayo yang berani mengatakan bahwa apapun saja yang terjadi hari ini adalah yang terbaik. Kamu membicarakan puasa merupakan perjalanan ke dalam diri sendiri itu sebenarnya adalah ungkapan hatimu yang sedang gagal ingin melakukan perjalanan ke luar, yakni tepatnya ke Jombang, tapi kamu gagal karena nggak punya sangu, iya kan? Ngaku saja, hahahaha….”

“Lho, kok tiba-tiba kesini sih? Memang 27 Mei itu ulang tahun Simbah di Jombang yang ke 65, tapi apa yang kita bicarakan ini nggak ada hubungannya dengan ulang tahun Simbah dong. Meskipun aslinya saya juga pengen kesana. Tanggal 27 Sinau Bareng Persembahan Anak Cucu dipandu oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh. Tanggal 28 ada Letto, Teater Perdikan, Kiai Kanjeng, dan semuanya…”

“Ah, sudahlah. Jangan alasan dan ngeles. Kamu sudah benar mengenai melali atau jalan-jalan ke dalam diri itu. Karena apa saja yang berada dalam diri itu lebih sejati, termasuk doa yang dipanjatkan sungguh-sungguh dari dalam diri, melebihi ucapan fisik kita semua. Meskipun ucapan fisik, perjalanan fisik, itu juga perlu. Syariat Hakikat. Jasmani Ruhani. Keduanya perlu. Jadi, marilah kita yang tak bisa hadir ke Jombang, mendoakan dalam diri masing-masing secara sungguh-sungguh…”

Si penikmat kopi hitam inginnya merenungi puasa yang lebih mendalam ke dalam dirinya sendiri tapi justru merenungi bahwa tidak bisanya ia ke Jombang kali ini karena berbenturan dengan acara lain ternyata merupakan jenis “puasa” tersendiri. Dia pun juga mendoakan Simbah dalam diri dengan sungguh-sungguh.

“Selamat ulang tahun Mbah. Happy birthday to you,” ucapnya dalam diri. Simbah merupakan sapaan karib Emha Ainun Nadjib bagi internal Jamaah Maiyah pasca akrab dipanggil Cak Nun. Beliau kelahiran Jombang, 27 Mei 1953, tinggal di Kadipiro Yogyakarta. Untuk lebih jelas dan detailnya 27-28 Mei 2018 ini jika tak ada halangan silahkan mampir sejenak ke Menturo Sumobito-Jombang dalam rangkaian acara indah bertema: Menyorong Rembulan. (Banyuwangi, 27 Mei 2018)

Facebook Comments

POST A COMMENT.