Dua Minggu Saya Distrap Cak Nun

MEPNews.id —- Di Medsos pagi viral #65TahunCakNun. Ya, hari ini Cak Nun berulang tahun ke-65.

Gara2 dulu saya nulis ” kiai kok gurung haji” , Cak Nun mogok gak mau nulis serial “Markesot” di koran Surabaya Post (SP), suatu hari di tahun 1991.

Syarat agar Cak Nun mau nulis lagi, kata redaktur SP M Anies, reporternya suruh “ngaji” dua Minggu di rumah kontrakan Cak Nun yang bercat seba hitam, di Petang Puluhan, Jogjakarta.

Terpaksa, dua Minggu saya “nyantrik” di rumah Cak Nun.
Apa yang saya dapatkan?
Blas gak dimarahi. Tiap malam saya diajak keliling ceramah di Jogya. Disuruh duduk di sebelahnya.

Berangkat habis Isyak, pulang dini hari. Sampai rumah Petang Puluhan, hampir Subuh, Cak Nun masih ngetik (pakai mesin ketik waktu itu) nulis artikel untuk sejumlah koran.
Honor dari koran-koran ini, termasuk SP, gak dipakai Cak Nun, tapi disumbangkan ke panti-panti asuhan, yang sudah menunggu jatah dari honor tulisan, tiap pekan.

Dua Minggu bersama Cak Nun, merubah perspektif saya soal Cak Nun. Orang lain menyebut “Kiai Mbeling” , bagi saya Cak Nun bahkqn sudah “Wali” walau (waktu itu) gak perlu haji!

Setelah itu, bbuku2 Cak Nun seperti serial “Slilit Sang Kiai” hingga VCDnya bareng Kiai Kanjeng “Menyorong Rembulan” Zaman Wis Akhir” dll saya pelajari dan ikuti, tulisan2 dan pemikiran3 barunya sampai sekarang.

Benar kata Cak Nun, guru itu bukan siapa yang mengajarimu, — tapi kepada siapa engkau belajar.
Cak Nun, merubah kemarahan menjadi mahabbah, api jadi cahaya, dan bersama cinta Rasul, mengajak jamaah maiyahnya menyorong rembulan, ikhlas di hadapaj Ilahi.

Dalam sebulan, hampir tiap hari Cak Nun — dan tetap dan selalu begitu, — habis Isyak hingga menjelang pagi jam 2-3an bermakiyah ke penjuru Indonesia, bertemu puluhan ribu orang lainnya, merubah perspektif rakyat menjadi penuh semangat, cahaya dan cinta akan hidup, di tengah Indonesia yang makin sulit.

Kata Cak Nun,” hidup ancene ngene, masio lunyu kudu koen penek rek.”

Cak Nun merubah kami mencintai hal-hal yang berbau spiritual dan abtraksi batin, dalam falsafah atau tulisan.

Cak Nun berkata: “Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tak bisa dibawa mati.”

Saya baca kalimat ini di twitter, dan saya membenarkan, bahwa Cak Nun adalah :
“Kiai tanpa sorban
Dai tanpa mimbar
Mursyid tanpa tarekat
Sarjana tanpa wisuda
Guru tanpa sekolahan.”
Cak Nun mengajarkan bahwa beragama bukan pamer ibadah melainkan pembentukan akhlak, biarlah ibadahmu menjadi rahasiamu dg Tuhan.

Teruskan jalan sunyimu, Cak, karena engkau rela tidak diketahui banyak orang tetapi Allah selalu meridhoi jalanmu wahai kai sing mbeling pol.

Bagi Cak Nun, tiap hari dirimu bagai sudah membangun masjid, orang miskin gak perlu berkecil hati.

Cak Nun berkata;
“Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang

yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid

Setiap kali engkau bersujud, setiap kali

pula telah engkau dirikan masjid

Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid telah kau bengun selama hidupmu?

Ini juga ditulis Cak Nun;

“Wahai Fattah wahai Halim”

Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu

Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu

Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu
(Emha Ainun Nadjib)

Met Ulang tahun ke-65 Cak. Aku ingin disetrap lagi, seperti dulu, ketika masih jadi reporter baru, usia 20thn, yang nyambi kuliah masih semester enamdi Stikosa AWS Surabaya.
..
Sugeng ambal warso cak
**
damarhuda

Facebook Comments

POST A COMMENT.